Zirkzee di Ambang Pintu Keluar Manchester United: £36 Juta yang Tak Berbuah
Baca dalam 60 detik
- Joshua Zirkzee hanya tampil 82 menit di Liga Premier musim ini, dengan catatan buruk saat masuk sebagai pengganti melawan Chelsea.
- Manajemen Manchester United dinilai salah investasi setelah mendatangkan Zirkzee seharga £36 juta dari Bologna pada 2024, yang baru mencetak 10 gol dalam 84 laga.
- Pelatih Carrick lebih memilih memainkan pemain non-striker sebagai ujung tombak, sinyal jelas bahwa Zirkzee tidak masuk rencana jangka panjang.

Manchester United kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa investasi besar mereka tidak membuahkan hasil. Joshua Zirkzee, penyerang asal Belanda yang didatangkan dengan harga £36 juta dari Bologna pada musim panas 2024, kini berada di tepi jurang kepastian: masa depannya di Old Trafford semakin gelap setelah performa yang jauh dari harapan.
Dalam kekalahan terbaru melawan Chelsea di Stamford Bridge, Zirkzee hanya diberi kesempatan bermain selama 13 menit sebagai pemain pengganti. Namun, catatan statistiknya selama periode singkat itu mengungkap betapa tidak siapnya ia menghadapi intensitas Liga Premier. Ia hanya menyentuh bola sepuluh kali, menyelesaikan satu umpan, kehilangan penguasaan bola lima kali, dan tidak mampu melepaskan satu pun dribel sukses. Bahkan, ia harus menerima kartu kuning akibat dua pelanggaran.
Pelatih Manchester United, Carrick, tampaknya sudah kehilangan kepercayaan. Alih-alih memasang Zirkzee sebagai penyerang tengah murni, ia lebih memilih menempatkan Bryan Mbeumo—seorang pemain sayap—di posisi ujung tombak. Keputusan ini menjadi sinyal tak terbantahkan bahwa Zirkzee tidak lagi menjadi bagian dari rencana jangka panjang klub.
Kegagalan Zirkzee bukan satu-satunya masalah di skuad Manchester United. Bek tengah Lisandro Martinez, yang juga didatangkan dengan harga mahal, sempat menjadi sorotan setelah mengkritik kebijakan transfer dewan klub pasca kekalahan dari Atletico Madrid di Liga Champions. Meski menuai hukuman denda, Martinez tetap dipercaya tampil, tetapi performanya juga menurun drastis—ia bahkan dikartu merah dalam laga melawan Chelsea setelah menerima dua kartu kuning beruntun.
Statistik Martinez pun memperlihatkan penurunan: ia hanya memenangkan rata-rata 2,8 duel darat per 90 menit, menempatkannya di 5% terbawah untuk bek di Liga Premier dalam kategori duel darat, duel udara, dan kontribusi defensif. Meski demikian, berbeda dengan Zirkzee, Martinez masih mendapatkan menit bermain reguler. Sementara Zirkzee, yang seharusnya menjadi solusi lini depan, justru semakin tersisih.
Keputusan Carrick untuk tidak memainkan Zirkzee secara reguler mencerminkan masalah yang lebih dalam: manajemen transfer Manchester United di bawah kendali INEOS dan keluarga Glazer kembali dipertanyakan. Sejak kedatangan Zirkzee, klub telah mengeluarkan biaya besar untuk pemain yang gagal beradaptasi dengan gaya permainan Liga Premier yang menuntut fisik dan kecepatan. Kini, dengan kontrak yang masih tersisa, United harus mempertimbangkan opsi penjualan agar tidak mengalami kerugian lebih besar.
Bagi penggemar Manchester United, situasi ini menjadi pengingat getir bahwa perbaikan skuad tidak cukup hanya dengan belanja besar. Diperlukan strategi rekrutmen yang tepat sasaran dan evaluasi menyeluruh terhadap pemain yang ada. Zirkzee dan Martinez hanyalah dua dari sekian banyak pemain yang mungkin harus angkat kaki jika klub ingin kembali bersaing di papan atas.
Pertanyaannya kini: akankah manajemen United belajar dari kesalahan ini, atau justru mengulangi pola yang sama di jendela transfer berikutnya? Yang jelas, era kesabaran di Old Trafford tampaknya sudah berakhir.



