Nicole Eggert Buka-bukaan Soal Beban Finansial Selama Berjuang Melawan Kanker Payudara
Baca dalam 60 detik
- Nicole Eggert, bintang Baywatch, mengungkap tekanan ekonomi yang menghimpitnya saat menjalani perawatan kanker payudara.
- Diagnosis pada Desember 2023 memaksanya berhenti bekerja karena jadwal terapi yang padat, sementara tagihan medis terus menggunung.
- Kisahnya menyoroti kerentanan finansial pasien kanker, terutama orang tua tunggal, di tengah sistem kesehatan yang mahal.

Nicole Eggert, aktris yang dikenal lewat perannya sebagai Summer Quinn di serial legendaris Baywatch, mengungkap sisi lain dari perjuangannya melawan kanker payudara: tekanan finansial yang datang bersamaan dengan diagnosis. Perempuan 54 tahun itu didiagnosis pada Desember 2023 dan sejak itu menjalani serangkaian prosedur medis berat, termasuk mastektomi ganda, rekonstruksi payudara, serta histerektomi total awal tahun ini. Di balik itu, ia harus menanggung beban biaya pengobatan yang membengkak sementara pendapatannya terhenti.
Dalam wawancara dengan Fox News Digital, Eggert menuturkan bahwa sebagai orang tua tunggal penuh untuk dua putrinya—Dilyn (28) dan Keegan (15)—ia tidak punya pilihan selain tetap mengurus rumah tangga seorang diri. "Saya 100 persen orang tua tunggal. Satu anak saya sudah dewasa dan mandiri, tapi saya masih punya remaja di rumah. Tanggung jawab itu ada, ditambah biaya dari diagnosis ini yang sangat besar. Bahkan sulit untuk membayangkannya," ujarnya seperti dikutip.
Pekerjaan di industri hiburan menuntut komitmen waktu yang tidak bisa ditawar. Eggert menjelaskan bahwa ia harus menjalani perawatan tiga hingga lima hari seminggu, sehingga tidak mungkin menerima tawaran produksi. "Saya harus benar-benar menerima kenyataan bahwa tidak akan ada penghasilan, sementara tagihan terus berdatangan. Anak remaja tetap butuh ini-itu, hidup terus berjalan, bensin mobil pun harus dibayar," tambahnya. Ia menegaskan bahwa pekerjaannya bukan jenis pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah.
Meski terhimpit, Eggert memilih bersikap filosofis. Baginya, kesembuhan adalah anugerah yang membuat persoalan uang menjadi sekunder. "Setidaknya saya masih hidup untuk menghadapinya, masih bisa keluar dan mencari solusi. Uang datang dan pergi, itulah pasang surut kehidupan," tuturnya. Pernyataan ini mencerminkan pergeseran prioritas yang sering dialami para penyintas kanker: kesehatan menjadi mata uang utama, sementara tekanan finansial diterima sebagai konsekuensi yang harus dijalani.
Kisah Eggert bukan kasus tunggal. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pasien kanker kerap menghadapi apa yang disebut "biaya katastrofik"—pengeluaran medis yang melampaui kemampuan finansial keluarga. Meski Indonesia memiliki program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mencakup sebagian besar pengobatan kanker, kenyataan di lapangan menunjukkan masih ada celah biaya untuk prosedur tertentu, obat inovatif, dan perawatan suportif. Bagi pekerja informal atau mereka yang kehilangan pendapatan selama terapi, tekanan ekonomi bisa sama beratnya dengan penyakit itu sendiri.
Eggert juga menyoroti bagaimana industri hiburan tidak selalu ramah terhadap kondisi kesehatan para pekerjanya. Kontrak produksi seringkali mensyaratkan ketersediaan penuh, sehingga aktor atau kru yang sedang menjalani pengobatan rentan kehilangan pekerjaan. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang perlindungan sosial bagi pekerja seni, terutama di negara dengan sistem jaminan sosial yang terbatas.
"Saya harus menerima bahwa tidak akan ada penghasilan, tapi tagihan tidak berhenti. Itu bagian tersulit," kata Eggert menggambarkan dilema pasien kanker yang juga tulang punggung keluarga.
Dalam wawancara terpisah di podcast Still Here Hollywood, Eggert juga menyesali keputusannya meninggalkan Baywatch setelah dua musim pada 1990-an. Ia mengaku sempat dijanjikan peran utama di serial spin-off bergaya Beverly Hills, 90210 yang tak pernah terwujud. "Saya pikir dengan keluar, saya bisa melepaskan stigma yang melekat pada para aktor serial itu. Tapi rencana spin-off dibatalkan, dan saya keluar begitu saja," kenangnya. Penyesalan itu ia sampaikan tanpa menyalahkan siapa pun, sekadar refleksi atas keputusan di usia 20 tahun yang menurutnya penuh "ide liar".
Ke depan, kasus Eggert mestinya menjadi pemicu diskusi lebih luas tentang dukungan finansial bagi pasien kanker, khususnya kelompok rentan seperti orang tua tunggal dan pekerja lepas. Di Indonesia, penguatan manfaat JKN dan skema bantuan sosial untuk pasien kronis masih menjadi pekerjaan rumah. Sementara di tingkat global, industri hiburan perlu memikirkan kontrak yang lebih fleksibel bagi pekerja yang sakit. Pertanyaannya, akankah solidaritas sosial bergerak lebih cepat daripada laju tagihan medis yang terus naik?



