Norris: Tujuh Gelar Hamilton Bikin Satu Trofi Terasa Kurang
Baca dalam 60 detik
- Lando Norris mengaku gelar juara dunia pertamanya pada 2025 tidak lagi memuaskan setelah melihat rekor tujuh titel Lewis Hamilton.
- Norris menilai konsistensi Hamilton di usia 40 tahun menjadi bukti bahwa karier pembalap bisa jauh lebih panjang dari perkiraan banyak orang.
- Pernyataan itu muncul jelang GP Brasil, seri tempat Hamilton akan mencatat start ke-400 dalam kariernya.

Lando Norris baru saja mengunci gelar juara dunia Formula 1 pertamanya pada 2025, tetapi trofi itu rupanya tidak lagi menjadi tolok ukur kepuasan baginya. Pembalap McLaren tersebut mengaku terpicu oleh rekor tujuh gelar Lewis Hamilton, yang menurutnya membuat pencapaian satu titel terasa belum cukup.
Pernyataan itu disampaikan Norris di Interlagos, Brasil, menjelang grand prix akhir pekan ini. Hamilton, yang kini membalap untuk Ferrari, akan mencatat start ke-400 dalam kariernya di sirkuit yang sama. Momen tersebut menjadi latar pertanyaan kepada Norris tentang bagaimana ia memaknai perjalanan panjang pembalap berusia 40 tahun itu.
โTujuh gelar. Saya tidak tahu bagaimana harus merangkumnya,โ ujar Norris, seperti dikutip Motorsport.com. Ia menyebut capaian Hamilton sebagai sesuatu yang sulit dibayangkan, terutama karena pembalap Inggris itu masih mampu bersaing di barisan depan meski usianya tidak lagi muda.
Norris secara khusus menyoroti duel Hamilton dengan Charles Leclerc di Ferrari. Menurutnya, Leclerc termasuk pembalap tercepat di grid, dan fakta bahwa Hamilton masih memberikan perlawanan sengit menunjukkan kualitas pembalap tujuh kali juara dunia itu belum menurun. โDia terlihat kembali ke performa normalnya, bertarung di depan dan membuktikan bahwa dia masih salah satu yang terbaik,โ kata Norris.
Bagi Norris, sosok Hamilton bukan hanya sumber inspirasi, tetapi juga semacam pengingat bahwa ambisi bisa terus tumbuh. Ia mengaku semula puas dengan satu gelar, namun melihat koleksi tujuh titel Hamilton membuatnya merasa harus mengejar lebih banyak. โSaya tahu saya senang dengan satu gelar, tapi ketika melihat Lewis, saya jadi tidak terlalu senang hanya punya satu,โ tuturnya.
Meski demikian, Norris tidak serta-merta menargetkan karier sepanjang Hamilton. Ia menilai dirinya belum tentu tetap membalap hingga usia 40-an. Namun, keberadaan Hamilton memberinya keyakinan bahwa masa depan di F1 bisa jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan. โDia inspirasi bagi banyak dari kami. Saya tidak yakin akan sampai sejauh itu, tapi itu sesuatu yang bisa saya nantikan,โ tambahnya.
โDia membuat saya percaya bahwa saya bisa bertarung selama bertahun-tahun ke depan, dan itu sesuatu yang saya nantikan.โ โ Lando Norris
Pernyataan Norris ini memperlihatkan pergeseran mentalitas di kalangan pembalap muda. Jika sebelumnya satu gelar dunia dianggap puncak karier, kini standar kesuksesan bergeser ke arah dominasi jangka panjang. Hamilton, dengan tujuh titel dan hampir 400 start, telah menjadi patokan baru yang sulit diabaikan.
Di sisi lain, konsistensi Hamilton di usia 40 tahun juga menjadi cermin bagi generasi pembalap saat ini. Perawatan fisik, disiplin latihan, dan adaptasi terhadap regulasi teknis yang terus berubah menjadi faktor yang membuat karier panjang bukan lagi anomali. Norris, yang baru saja meraih gelar pertamanya, tampaknya mulai mempertimbangkan hal serupa.
Pertanyaannya, apakah Norris mampu mempertahankan level kompetitifnya dalam jangka panjang seperti Hamilton, atau justru terhenti setelah satu gelar? GP Brasil akhir pekan ini akan menjadi panggung pertama bagi Norris untuk membuktikan bahwa ambisi barunya bukan sekadar retorika.



