Kimi Antonelli Juara Dunia F1 Termuda, Langsung Incar Gelar 2027
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli resmi menjadi juara dunia F1 termuda setelah memastikan gelar di GP Meksiko, memecahkan rekor yang bertahan lama.
- Pebalap Mercedes itu mengaku masih sulit percaya atas pencapaiannya, namun telah mengalihkan fokus untuk mempertahankan titel pada 2027.
- Dengan gelar pembalap sudah di tangan, Antonelli kini membidik gelar konstruktor bersama Mercedes yang bisa dikunci akhir pekan ini di Brasil.

Kimi Antonelli menorehkan sejarah sebagai juara dunia Formula 1 termuda setelah memastikan gelar pada Grand Prix Meksiko, Minggu (26/10/2026). Kemenangan di Mexico City itu memicu perayaan emosional, termasuk momen ketika ia diangkat oleh Lewis Hamilton dan Max Verstappen di podium. Namun, bagi pebalap Mercedes berusia 20 tahun tersebut, euforia harus segera diredam karena musim masih menyisakan empat seri, dan ia sudah mencanangkan persiapan untuk mempertahankan mahkota pada 2027.
Dalam sesi jumpa pers di Sirkuit Interlagos, Sao Paulo, Kamis (30/10/2026), Antonelli mengungkapkan bahwa rentetan peristiwa dalam sepekan terakhir terasa surealis. Setelah berpesta di Meksiko, ia terbang ke Brasil untuk bertemu keluarga mendiang Ayrton Senna, idola masa kecilnya, sebelum menghadiri undangan sponsor. "Saya mengalami rangkaian acara yang luar biasa. Saya menang, lalu bertemu keluarga Senna, yang sudah pasti momen luar biasa. Rasanya masih tidak nyata," ujarnya.
Puncak perayaan resmi baru akan berlangsung pada upacara Penghargaan FIA di Shanghai, 12 Desember mendatang. Di sana, trofi juara dunia akan secara fisik diserahkan kepadanya. Meski demikian, F1 bersama Mercedes dan FIA telah menggelar seremoni podium khusus di Meksiko untuk mengabadikan momen tersebut. Salah satunya dengan memutar lagu "Nessun Dorma", yang merupakan favorit mendiang kakek Antonelli, sehingga memicu tangis haru. "Lagu itu sangat emosional karena kakek selalu mendengarkannya. Saya rasa dia akan sangat bangga," tutur Antonelli.
Meski gelar pembalap sudah di kantong, Antonelli menegaskan tidak akan mengendurkan intensitas. Ia justru melihat sisa musim sebagai landasan penting untuk membangun kepercayaan diri menyongsong 2027. "Persiapan saya untuk 2027 dimulai sekarang. Menyelesaikan musim dengan kuat akan menjadi modal berharga," kata dia. Menurutnya, tekanan yang biasanya menyertai perebutan gelar kini telah sirna, tetapi ia menolak untuk terlalu santai. "Saya tidak akan setegang sebelumnya, saya bisa lebih menikmati balapan. Tapi yang terpenting adalah tetap memiliki intensitas dan rasa lapar yang sama," tambahnya.
Ambisi Antonelli untuk menutup musim dengan gemilang sejalan dengan target Mercedes yang masih berpeluang mengunci gelar konstruktor akhir pekan ini. Jika terwujud, itu akan menjadi penutup sempurna bagi dominasi tim asal Brackley tersebut. Namun, bagi Antonelli, fokus utamanya tetap pada kemenangan di setiap seri tersisa. "Saya hanya berpikir tentang memenangkan balapan. Saya akan turun ke lintasan dengan determinasi dan intensitas yang sama," tegasnya.
Prestasi Antonelli juga menarik perhatian pengamat di Indonesia. Meski F1 bukan olahraga utama di tanah air, kesuksesan pebalap muda ini diharapkan dapat menginspirasi generasi pembalap lokal untuk menembus pentas dunia. Apalagi, Indonesia tengah berupaya mengembangkan sirkuit dan pembinaan balap, seperti yang terlihat dari gelaran MotoGP di Mandalika. Kisah Antonelli—yang menembus elit F1 di usia belia—menjadi bukti bahwa talenta muda dari negara non-tradisional pun bisa bersinar jika mendapat dukungan yang tepat.
Dengan empat balapan tersisa, publik F1 menanti apakah Antonelli akan tampil lebih agresif tanpa beban, atau justru tetap konsisten menjaga performa. Yang jelas, ia telah mengirim pesan bahwa gelar juara bukanlah akhir, melainkan awal dari persaingan baru. Akankah dominasi Mercedes berlanjut, atau akankah tim lain bangkit menantang? Kita akan menyaksikannya dalam beberapa pekan ke depan.



