Mori, Robot Jamur AI Seharga Rp13 Juta yang Sengaja Tak Mau Menjawab Pertanyaan
Baca dalam 60 detik
- Startup OKA merilis Mori, robot berbentuk jamur dengan lampu dan sensor gerak, yang berfungsi sebagai pendamping suasana, bukan asisten virtual.
- Harga ritelnya mencapai 849 dolar AS atau sekitar Rp13 juta, plus biaya langganan untuk konten suara alam, memposisikannya sebagai barang mewah emosional.
- Perangkat ini menolak tren layar dan perintah suara, mengandalkan pemrosesan data di perangkat dan desain yang membatasi interaksi.

Di tengah gelombang asisten AI yang kian agresif menawarkan bantuan, sebuah perusahaan rintisan bernama OKA justru meluncurkan produk yang sengaja tidak bisa diajak bicara. Mori, robot berbentuk jamur setinggi hampir 30 sentimeter, dirancang untuk hadir secara pasif di ruangan, bereaksi terhadap gerakan dan cahaya, tetapi tidak untuk menjawab pertanyaan atau menjalankan perintah.
Perangkat ini dijual dengan harga ritel 849 dolar AS, atau sekitar Rp13 juta, dan merupakan bagian dari lini "Artifacts" yang direncanakan OKA. Mori bukan asisten rumah tangga pintar; ia lebih mirip lampu kontemporer dengan kepribadian. Tubuhnya dilapisi tekstil campuran wol, topinya menyala, dan kepalanya bisa bergerak. Saat topi terangkat, terlihat mata ekspresif dan kamera kecil yang tersembunyi. Namun, dalam posisi tertutup, ia tampak seperti benda dekoratif biasa.
OKA menyebut Mori sebagai "pendamping alam", bukan asisten. Ia akan menoleh ke arah orang yang masuk ruangan, bergoyang mengikuti irama musik, dan meredup ketika suasana sunyi. Fitur utamanya adalah memutar suara alam—hujan, hutan, api unggun—dengan pencahayaan yang menyesuaikan. Mori juga bisa memandu latihan pernapasan. Semua ini dilakukan tanpa layar dan tanpa suara verbal.
Pendekatan OKA ini menantang arus utama industri teknologi yang berlomba menciptakan perangkat serba bisa. Alih-alih memaksimalkan fungsi, Mori justru membatasi diri. Sistem "Attentive Intelligence" miliknya menentukan kapan harus merespons dan kapan harus tetap diam. Perusahaan menegaskan bahwa ketiadaan respons verbal adalah keputusan desain, bukan kekurangan. Klaim privasi juga menjadi sorotan: OKA menyatakan semua pemrosesan data dilakukan di perangkat, foto dan audio mentah dihapus setelah digunakan, serta data wajah dienkripsi dan tidak dikirim ke server eksternal. Namun, klaim ini belum diaudit secara independen.
"Kami ingin menciptakan teknologi yang tidak menuntut perhatian, melainkan memberi ruang," ujar Hua Wang, salah satu pendiri OKA, seperti dikutip dalam pengumuman perusahaan.
Bagi konsumen Indonesia, harga Mori jelas menempatkannya di segmen premium, setara dengan gadget kelas atas. Dengan kurs sekitar Rp15.500 per dolar AS, harga 849 dolar AS setara Rp13,2 juta. Ditambah langganan tahunan 80 dolar AS (sekitar Rp1,24 juta), total kepemilikan tahun pertama bisa mencapai Rp14,4 juta. Angka ini jauh di atas harga speaker pintar mumpuni atau lampu desain. Pasar Indonesia yang sensitif harga mungkin akan melihat Mori sebagai barang mewah yang unik, bukan kebutuhan fungsional. Namun, bagi segmen urban kelas menengah atas yang mencari dekorasi interaktif dan pengalaman relaksasi, Mori bisa menjadi alternatif menarik—terutama karena fitur panduan pernapasan tetap tersedia tanpa langganan.
Keberhasilan Mori akan bergantung pada apakah konsumen bersedia membayar mahal untuk "kehadiran" yang dirancang dan suasana emosional. OKA bertaruh bahwa ada ceruk pasar yang lelah dengan layar dan notifikasi, dan ingin perangkat yang lebih pasif. Jika tren ini meluas, produk seperti Mori bisa memicu gelombang baru perangkat "non-asisten" yang mengutamakan privasi dan ketenangan. Pertanyaannya, apakah cukup banyak orang yang mau merogoh kocek belasan juta rupiah untuk sebuah robot yang tidak melakukan apa-apa selain menemani?



