Tesla Setop Produksi Cybertruck di Texas, Musk Alihkan Pabrik untuk Cybercab
Baca dalam 60 detik
- Elon Musk mengumumkan penghentian perakitan Cybertruck di Gigafactory Texas pada pertengahan 2027.
- Keputusan ini membuka ruang bagi peningkatan produksi Cybercab, robotaxi yang menjadi taruhan masa depan Tesla.
- Penjualan Cybertruck di AS anjlok 48% pada 2025 dan menuai 11 recall, menandakan kegagalan menembus pasar massal.

Tesla akan menghentikan produksi pikap listrik Cybertruck di pabriknya di Texas pada pertengahan 2027, langkah yang diumumkan langsung oleh CEO Elon Musk pada Jumat (6/11/2026) melalui akun X. Keputusan ini menandai berakhirnya salah satu eksperimen desain paling kontroversial dalam sejarah industri otomotif modern, sekaligus mengalihkan fokus perusahaan ke kendaraan otonom.
Musk menyatakan bahwa penghentian tersebut akan memberi ruang bagi peningkatan kapasitas produksi Cybercab, robotaxi dua pintu yang selama ini ia proyeksikan sebagai produk kunci Tesla di masa depan. Cybertruck selama ini dirakit secara eksklusif di Gigafactory Texas bersama Model Y dan Cybercab. Namun, Musk tidak merinci apakah produksi Cybertruck akan dipindahkan ke fasilitas lain. Ia hanya menegaskan bahwa armada Cybertruck akan tetap beroperasi dalam jangka panjang.
Sejak diluncurkan pada 2019, Cybertruck dipromosikan sebagai terobosan di segmen pikap yang stagnan. Musk bahkan memprediksi penjualan tahunan mencapai 250.000 unit. Kenyataannya, desain bersudut tajam dan harga premium membuat kendaraan ini hanya diminati segmen niche. Laporan Cox Automotive menunjukkan penjualan Cybertruck di Amerika Serikat merosot tajam pada 2025, jauh dari target awal. Tesla sendiri tidak mempublikasikan angka penjualan per model atau per wilayah.
Selain persoalan penjualan, Cybertruck menghadapi masalah kualitas dan produksi. National Highway Traffic Safety Administration mencatat 11 recall sukarela untuk model tahun 2024, termasuk risiko pedal akselerator yang terjebak, cacat perangkat lunak, dan kesalahan inverter yang dapat menyebabkan kehilangan daya secara mendadak. Spesifikasi kendaraan juga disebut tidak sesuai dengan klaim awal Tesla, bahkan kalah dari beberapa pikap berbahan bakar fosil.
"Truk telah lama berada dalam kondisi yang sama, sekitar 100 tahun. Kami ingin mencoba sesuatu yang berbeda," ujar Musk saat peluncuran Cybertruck pada 2019, seperti dikutip dari CNBC.
Di sisi lain, Cybertruck sempat menjadi simbol politik di Amerika Serikat. Setelah Musk menjadi pendukung utama kampanye Donald Trump dan memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah, sebagian pemilik melaporkan mendapat perlakuan tidak menyenangkan di jalan. Majalah Wired bahkan menyebut Cybertruck sebagai objek yang paling mencerminkan kembalinya Trump ke Gedung Putih. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana produk otomotif dapat terjerat dalam polarisasi politik konsumen.
Bagi pasar Indonesia, keputusan Tesla ini tidak berdampak langsung karena Cybertruck tidak dipasarkan secara resmi di Tanah Air. Namun, langkah tersebut memberikan sinyal penting bagi industri kendaraan listrik nasional: adopsi teknologi baru tetap harus dibarengi dengan penerimaan pasar dan keandalan produk. Pemerintah Indonesia tengah mendorong pengembangan ekosistem EV, termasuk insentif fiskal dan pembangunan pabrik baterai. Pelajaran dari Cybertruck menunjukkan bahwa inovasi desain yang radikal tanpa dukungan kualitas dan harga yang kompetitif berisiko gagal di pasar massal.
Ke depan, Tesla tampak semakin bergantung pada visi kendaraan otonom. Cybercab, yang dirancang tanpa setir dan pedal, akan menjadi ujian bagi perusahaan apakah mampu mewujudkan janji robotaxi yang selama ini baru sebatas prototipe. Jika produksi Cybercab berjalan sesuai jadwal, Tesla berpeluang mengubah lanskap transportasi perkotaan. Namun, jika gagal, penghentian Cybertruck akan tercatat sebagai penutup era eksperimen desain Musk yang berakhir tanpa kemenangan komersial.



