Tottenham Kehilangan Lankshear: 13 Gol di Championship, Kini Jadi Penyesalan Terbesar Spurs
Baca dalam 60 detik
- Will Lankshear dijual Tottenham seharga £10 juta ke Middlesbrough dan kini mencetak 13 gol dalam 13 laga Championship.
- Keputusan melepas Lankshear mencerminkan masalah mendalam: manajemen Spurs lebih memilih belanja besar daripada memberi kesempatan pemain muda.
- Kasus serupa menimpa Mikey Moore yang dipinjamkan ke Cologne dan belum mencetak gol, memicu spekulasi masa depannya di Hotspur Way.

Keputusan Tottenham Hotspur melepas Will Lankshear ke Middlesbrough seharga £10 juta pada bursa transfer lalu kini berbalik menjadi bumerang. Striker 21 tahun itu menjelma sebagai mesin gol Championship dengan 13 gol dalam 13 pertandingan liga, sementara Spurs justru bergulat dengan krisis ketajaman di Premier League.
Lankshear hanya mencatat enam penampilan dan satu gol di tim senior Tottenham sebelum dijual. Manajemen klub menilai sang pemain sebagai aset yang bisa dikorbankan untuk menyeimbangkan pembukuan setelah belanja lebih dari £300 juta pada musim panas. Namun, performa gemilangnya bersama Boro—15 gol dalam 16 laga di semua kompetisi—membuktikan bahwa keputusan itu terlalu terburu-buru.
Di sisi lain, lini depan Tottenham masih tumpul. Butuh lima pertandingan bagi tim asuhan Roberto De Zerbi untuk mencetak gol di liga, dan hingga kini tak ada pemain yang mengoleksi lebih dari dua gol. Kemenangan atas Crystal Palace pekan lalu justru ditentukan oleh dua bek, Archie Gray dan Jan Paul van Hecke. Hal ini mempertegas bahwa Spurs kekurangan sosok predator di kotak penalti.
Keputusan melepas Lankshear bukan sekadar soal angka. Ini mencerminkan filosofi transfer Tottenham yang lebih memilih mendatangkan pemain mahal seperti Dominic Solanke, Mathys Tel, dan Omar Marmoush ketimbang memberi ruang bagi talenta akademi. Dampaknya, pemain muda seperti Luca Williams-Barnett nyaris tidak mendapat menit bermain di tim utama.
Kasus serupa menimpa Mikey Moore. Winger 19 tahun itu sempat bersinar di masa pinjaman bersama Rangers dengan torehan tujuh gol dan empat assist, lalu tampil impresif di pramusim serta awal musim 2026/27. Namun, kedatangan Savio dan Marmoush membuat De Zerbi kembali mengirimnya keluar, kali ini ke Cologne. Sayangnya, di Bundesliga, Moore belum mencetak gol dan hanya mencatat satu assist. Media Jerman, BILD, bahkan menyebut masa pinjamannya sebagai "kekacauan" karena kurangnya konsistensi dan ancaman gol.
"Moore memiliki potensi kelas atas, tetapi terlalu jarang menunjukkannya. Ia kurang konsisten dan minim ancaman gol," tulis BILD dalam analisisnya.
Bagi Tottenham, ini adalah peringatan serius. Klub yang berbasis di London utara itu memang memiliki kedalaman skuad terbaik setelah belanja besar, tetapi stabilitas jangka panjang justru dipertaruhkan. Pemain muda yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depan malah terpinggirkan dan memilih jalan keluar. Lankshear dan Moore adalah dua contoh nyata bagaimana ambisi instan menenggelamkan proses pembinaan.
Ke depan, Tottenham perlu mengevaluasi ulang strategi transfer dan manajemen peminjaman. Jika terus mengabaikan talenta sendiri, bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan pemain-pemain seperti Lankshear yang bersinar di klub lain. Sementara itu, De Zerbi dituntut segera menemukan solusi ketajaman sebelum jarak dengan papan atas semakin melebar. Pertanyaannya, akankah Spurs menyesal melepas Lankshear, atau justru ini menjadi pelajaran berharga untuk kebijakan transfer yang lebih bijak?



