Everton Ingin Pulangkan Richarlison, Tapi Gaji £100 Ribu Per Pekan Jadi Penghalang
Baca dalam 60 detik
- Everton berminat merekrut kembali Richarlison pada Januari, namun enggan menyamai upah £100.000 per pekan yang diterimanya di Tottenham.
- Galatasaray dan Trabzonspor dikabarkan siap menawarkan gaji lebih tinggi, tetapi belum ada tawaran resmi yang masuk ke pemain.
- Richarlison kini tanpa agen resmi dan menuntut adanya penawaran klub sebelum memilih perwakilan, membuat masa depannya belum pasti.

Everton dikabarkan tengah menjajaki kemungkinan memulangkan Richarlison pada bursa transfer Januari, tetapi ambisi tersebut berpotensi kandas oleh struktur gaji yang tidak sepadan dengan kebijakan finansial klub. Menurut laporan jurnalis ESPN Brasil, Bruno Andrade, manajemen The Toffees keberatan menyamai penghasilan £100.000 per pekan yang saat ini diterima penyerang asal Brasil itu di Tottenham Hotspur.
Richarlison bukan nama asing bagi pendukung Everton. Selama periode pertamanya di Goodison Park, ia mencetak 53 gol dalam 152 penampilan sebelum hijrah ke Spurs dengan mahar £60 juta pada 2022. Kini, dengan kontraknya di London Utara tersisa hingga Juni 2027 dan kesempatan bermain yang menyusut—termasuk sempat dicoret dari skuad Premier League pada September—pemain berusia 29 tahun itu disebut membutuhkan awal baru. Everton pun menjadi salah satu destinasi yang logis, mengingat ia sudah memahami budaya klub dan kerasnya kompetisi Inggris.
Namun, negosiasi tidak sesederhana soal keterikatan emosional. Fulham juga dikabarkan tertarik, tetapi menghadapi kendala serupa: ketidakmampuan menandingi paket gaji yang berlaku di Tottenham. Situasi ini menempatkan kedua klub Premier League tersebut dalam posisi kurang menguntungkan dibandingkan tim-tim Turki. Galatasaray dan Trabzonspor dikabarkan siap menawarkan persyaratan lebih baik, meski Andrade menegaskan belum ada penawaran resmi yang masuk ke kubu Richarlison.
Di luar soal gaji, ada dinamika lain yang membuat transfer ini rumit. Richarlison memutuskan hubungan dengan agensi CAA Base dan kini menangani masa depannya secara mandiri. Menurut Andrade, calon perwakilan yang ingin mewakilinya harus lebih dulu menghadirkan tawaran konkret dari klub. Artinya, langkah Everton untuk mendekati pemain tidak bisa sekadar bersandar pada ketertarikan verbal; mereka perlu menyusun proposal resmi yang mampu meyakinkan sang pemain sekaligus memenuhi ekspektasi finansialnya.
Bagi Everton, mendatangkan Richarlison memang menawarkan sejumlah keuntungan. Manajer David Moyes tengah mencari opsi tambahan di lini depan setelah Thierno Barry belum sepenuhnya moncer. Richarlison dikenal memiliki naluri gol, pengalaman di Premier League, dan kemampuan beradaptasi cepat dengan lingkungan klub. Namun, ada risiko yang tak bisa diabaikan: ia telah lama absen dari kompetisi reguler, sehingga kebugarannya perlu diuji. Selain itu, investasi besar pada pemain yang akan menginjak usia 30 tahun bisa menjadi beban jangka panjang jika performa tidak sesuai harapan.
Di sisi lain, Tottenham memiliki kepentingan untuk melepas Richarlison, setidaknya untuk mengurangi beban gaji. Namun, mereka tidak akan melepas begitu saja tanpa kompensasi yang layak. Hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa Spurs bersedia menurunkan harga atau memberikan subsidi upah. Negosiasi trio Everton, Fulham, dan klub Turki pun masih sebatas wacana, dengan Galatasaray dan Trabzonspor sebagai pihak yang paling agresif secara finansial.
Jika Richarlison benar-benar kembali ke Merseyside, ia akan menjadi simbol romantisme sepak bola modern yang jarang terjadi: seorang pemain yang pergi dengan harga tinggi lalu kembali untuk menuntaskan misi yang belum selesai. Tetapi, dalam industri yang semakin digerakkan oleh angka, apakah Everton berani menempatkan emosi di atas kalkulasi? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan, ketika bursa Januari dibuka dan tawaran resmi mulai bergulir.



