Mississippi di Ambang Kejutan: Kursi Senat Partai Republik Terancam, Perang Surat Suara Dimulai
Baca dalam 60 detik
- Scott Colom unggul tipis 1.813 suara atas Senator petahana Cindy Hyde-Smith, memicu persiapan pertempuran hukum atas surat suara provisional.
- Kampanye Hyde-Smith meminta pemisahan surat suara sementara di 82 county, sementara tim Colom menilai langkah itu melanggar hukum negara bagian.
- Hasil akhir baru diketahui pekan depan, dengan potensi rekor sebagai senator kulit hitam pertama dari Mississippi sejak era Rekonstruksi.

Persaingan memperebutkan kursi Senat Mississippi berubah menjadi drama politik berkepanjangan setelah petahana dari Partai Republik, Cindy Hyde-Smith, tertinggal hanya 1.813 suara dari penantang Demokrat Scott Colom pada Kamis (5/11). Selisih itu terbilang luar biasa di negara bagian yang selama empat dekade terakhir nyaris tak tersentuh Demokrat, dan kini kedua kubu bersiap menghadapi pertarungan hukum atas surat suara yang belum terhitung.
Kampanye Hyde-Smith mengirim surat kepada komisioner county dan panitera pengadilan di seluruh 82 county Mississippi, meminta mereka segera memisahkan semua surat suara provisional—atau affidavit—dari surat suara reguler dan pos. Menurut surat tersebut, langkah itu diperlukan untuk memastikan setiap surat suara yang disumpah dapat diverifikasi kelayakannya sebelum dihitung. Namun, tim hukum Colom merespons dengan surat balasan yang menyebut permintaan itu sebagai "tindakan luar biasa yang tidak sah" dan tidak memiliki dasar dalam hukum pemilu Mississippi. Mereka memperingatkan bahwa jika prosedur normal diubah, hak pilih warga dan undang-undang negara bagian akan dilanggar.
Surat suara provisional biasanya diberikan kepada pemilih yang namanya tidak tercantum dalam daftar pemilih atau tidak menunjukkan identitas berfoto yang sah. Surat suara itu disegel dan nantinya diperiksa oleh pejabat pemilu; pemilih juga diberi waktu lima hari kerja untuk melengkapi bukti. Hingga Kamis sore, Colom meraih 49,04% suara, sementara Hyde-Smith 48,85%, dengan lebih dari 95% suara telah dihitung menurut Associated Press. Kandidat independen Ty Pinkins memperoleh 20.007 suara atau 2,1%. Total suara yang masuk sekitar 951.744.
Karena tidak ada mekanisme penghitungan ulang otomatis, hasil akhir kemungkinan baru tersedia pekan depan setelah surat suara pos dan provisional selesai diverifikasi. Ketua Komite Nasional Partai Republik dalam pesan teks massal menyebut Mississippi sebagai "tembok api" dan meminta donasi 25 dolar untuk mendukung pemantauan surat suara. Sementara itu, akun X Hyde-Smith menegaskan keyakinannya bahwa ribuan suara dari county-county Republik akan memperkuat jalannya menuju kemenangan.
"Saya sama sekali tidak menyangka persaingan akan seketat ini," kata Brian Anderson, profesor ilmu politik di Mississippi University for Women. Ia sebelumnya memperkirakan Colom hanya akan kalah 3–4 poin persentase, tetapi kini melihat peluang kemenangan yang nyata.
Jika Colom menang, ia akan menjadi senator kulit hitam pertama dari Mississippi sejak era Rekonstruksi pasca-Perang Sipil. Anderson menilai kemenangan itu akan menggairahkan Partai Demokrat di negara bagian tersebut, yang selama ini kesulitan membangun jalur kandidat. Ironisnya, peluang Colom turut ditopang oleh dua tokoh Republik: Hyde-Smith sendiri yang memblokir nominasinya sebagai hakim federal pada 2023, dan Presiden Donald Trump melalui penunjukan Hakim Agung Amy Coney Barrett yang menulis putusan 5-4 pada Juni lalu. Putusan itu mempertahankan undang-undang Mississippi yang mengizinkan surat suara pos yang dicap paling lambat pada hari pemilihan untuk dihitung jika diterima dalam lima hari kerja.
Dalam brief ke Mahkamah Agung, pengacara Komite Nasional Partai Republik mencatat bahwa pemilih Demokrat cenderung mengirim surat suara lebih lambat, sehingga surat suara yang tiba terlambat menguntungkan kandidat Demokrat. Trump saat itu menyebut putusan tersebut sebagai "kerugian besar" bagi hak pemilih. Sementara itu, Hyde-Smith berkampanye dengan visibilitas rendah dan menolak beberapa kali berdebat dengan Colom. Anderson menilai Colom lebih mampu berbicara tentang kepentingan sehari-hari warga—seperti keterjangkauan harga, perang Iran, dan korupsi—sementara Hyde-Smith terlalu bertumpu pada isu nilai. Kampanye Colom bahkan memanfaatkan pernyataan Hyde-Smith dalam wawancara Februari lalu yang menanggapi kenaikan harga daging sapi dengan mengatakan, "Ada banyak protein untuk dipilih," sebagai bahan iklan serangan.
Dengan hitungan suara yang masih berjalan dan potensi gugatan hukum, publikasi hasil akhir bisa memakan waktu lebih lama dari biasanya. Pertanyaannya kini: akankah Mississippi mencatat sejarah baru, atau justru terjebak dalam sengketa surat suara yang menunda legitimasi pemenang?



