PSSI Akhiri Kerja Sama dengan Mochizuki, Dua Trofi AFF Jadi Warisan
Baca dalam 60 detik
- PSSI resmi menghentikan penugasan Satoru Mochizuki sebagai pelatih kepala timnas putri per 5 November 2026.
- Selama dua periode, pelatih asal Jepang itu menyumbang dua gelar Piala AFF Wanita, masing-masing pada 2024 dan 2026.
- Kursi pelatih masih lowong; PSSI diyakini akan tetap mencari sosok berlatarbelakang Jepang dengan kemampuan bahasa Inggris.

PSSI memutuskan mengakhiri hubungan kerja dengan Satoru Mochizuki sebagai arsitek tim nasional putri Indonesia. Keputusan itu diumumkan pada Kamis, 5 November 2026, menutup hampir tiga tahun perjalanan pelatih berkebangsaan Jepang tersebut di Garuda Pertiwi.
Pengumuman disampaikan lewat akun Instagram resmi timnas Indonesia. Dalam unggahannya, PSSI menyampaikan terima kasih atas dedikasi Mochizuki, yang dianggap telah meninggalkan jejak sejarah bagi sepak bola putri nasional. Ucapan perpisahan itu dibalut nuansa kedekatan personal, dengan sapaan akrab "Coach Mochi" dan ungkapan terima kasih dalam bahasa Jepang.
Bagi PSSI, keputusan ini bukan sekadar pergantian pelatih biasa. Mochizuki adalah figur yang membawa timnas putri Indonesia keluar dari bayang-bayang keterbatasan prestasi di level regional. Namun dinamika internal dan target jangka panjang membuat federasi memilih arah baru.
Jejak Mochizuki di kursi pelatih terbilang unik. Pada tahun pertamanya, ia langsung mempersembahkan gelar Piala AFF Wanita 2024—trofi internasional pertama bagi timnas putri Indonesia. Kemenangan 3-1 atas Kamboja di partai puncak menjadi penanda kebangkitan. Dua tahun berselang, dominasi berlanjut: Laos dihancurkan 5-0 di final edisi 2026.
Namun perjalanan itu tidak mulus. Pada 2025, PSSI mencopot Mochizuki dari jabatan pelatih kepala setelah timnas putri gagal melaju ke Piala Asia Wanita 2026. Alih-alih memutus kontrak, federasi memindahkannya ke posisi penasihat teknis atau ketua tim pengembangan sepak bola putri. Anggota Exco PSSI, Vivin Cahyani, kala itu menjelaskan bahwa penugasan tersebut dipilih karena pengalaman, kredibilitas, serta jaringan Mochizuki dengan Japan Football Association (JFA) dan liga wanita Jepang.
PSSI menilai peran di balik layar lebih strategis untuk menyusun peta jalan pembinaan. Fokusnya adalah membenahi fondasi dan tata kelola tim nasional putri. Pada April 2026, federasi kembali menunjuk Mochizuki sebagai pelatih kepala. Masa bakti keduanya berakhir pada November 2026, tepat setelah pengumuman perpisahan.
"Arigatou gozaimashita, Coach Mochi. Terima kasih atas dedikasi, kerja keras, dan sejarah indah yang ditinggalkan untuk Garuda Pertiwi," demikian pernyataan resmi PSSI di Instagram.
Kekosongan kursi pelatih menjadi pertanyaan besar. Sejak perpisahan diumumkan, belum ada keterangan resmi mengenai sosok pengganti. Sebelumnya, pada Juli 2025, PSSI sempat mencari pelatih anyar dan nama Djoko Susilo sempat disebut. Saat itu, Vivin Cahyani menegaskan federasi masih berkiblat ke Jepang untuk timnas putri senior, sejalan dengan penunjukan Akira Higashiyama di tim U-20 dan Timo Scheunemann di U-16.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, pernah menegaskan kriteria utama pelatih pengganti Mochizuki: kemampuan berbahasa Inggris. Syarat itu mencerminkan kebutuhan komunikasi taktis dengan pemain dan staf yang makin beragam. Namun, apakah PSSI akan kembali ke pola pelatih Jepang atau membuka opsi lain, masih menjadi tanda tanya.
Warisan Mochizuki tidak bisa direduksi menjadi dua trofi semata. Ia meletakkan dasar identitas permainan tim putri Indonesia di kancah regional. Tantangan ke depan justru lebih berat: mempertahankan dominasi di Asia Tenggara sambil menembus level Asia. PSSI kini dihadapkan pada pilihan strategis—melanjutkan estafet gaya Jepang atau merombak pendekatan. Publik menanti siapa yang akan duduk di kursi panas itu, dan apakah dua trofi AFF hanya menjadi kenangan atau awal dari lompatan berikutnya.



