Bank of England Naikkan Suku Bunga ke 4%, Sinyal Perang AS-Iran Bisa Picu Kenaikan Lanjutan
Baca dalam 60 detik
- Bank of England menaikkan suku bunga acuan dari 3,75% menjadi 4%, kenaikan pertama sejak Agustus 2023.
- Gubernur Andrew Bailey menegaskan kenaikan ini bukan awal dari rangkaian panjang, tetapi bisa berlanjut jika konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga energi.
- Kenaikan ini menambah beban peminjam KPR dan kredit, sementara tabungan berpotensi untung; inflasi Inggris diproyeksi memuncak 4,9% tahun depan.

Bank of England resmi menaikkan suku bunga acuan menjadi 4% dari sebelumnya 3,75% pada Kamis (6/2/2026), menandai kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun. Langkah ini diambil untuk menahan laju inflasi yang kembali menggeliat akibat gejolak harga minyak global imbas perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Keputusan tersebut disepakati oleh delapan dari sembilan anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC), dengan satu anggota menginginkan kenaikan lebih agresif ke 4,25%. Gubernur Bank of England Andrew Bailey menegaskan bahwa kenaikan ini tidak serta-merta menjadi awal dari siklus pengetatan panjang. Namun, ia memberi sinyal bahwa suku bunga bisa kembali dinaikkan jika konflik di Timur Tengah tidak kunjung mereda. "Kecuali konflik di Timur Tengah terselesaikan, tampaknya ini juga bukan kenaikan terakhir," ujarnya dalam konferensi pers.
Kenaikan suku bunga acuan berdampak langsung pada biaya pinjaman konsumen, termasuk KPR, kredit kendaraan, dan kartu kredit. Di sisi lain, pemilik simpanan berpotensi menikmati imbal hasil yang lebih tinggi. Bagi pasar keuangan, langkah ini mempertegas sikap hati-hati bank sentral dalam menghadapi tekanan eksternal yang sulit dikendalikan.
Dalam wawancara dengan BBC, Bailey membela keputusan tersebut meski bank sentral menilai inflasi belum menyebar luas ke sektor barang. Ia menyoroti kenaikan harga energi yang menekan inflasi dan menegaskan perlunya melawan tekanan tersebut. "Perlu kemajuan nyata menuju penyelesaian konflik di Timur Tengah," kata Bailey, seraya menambahkan bahwa ia bisa memahami argumen untuk kenaikan lebih lanjut, namun akan mengambil pendekatan yang lebih bergantung pada perkembangan harga energi dan inflasi beberapa bulan ke depan.
Pandangan di dalam komite pun beragam. Anggota MPC Clare Lombardelli setuju bahwa mungkin ada alasan untuk kenaikan lebih lanjut dalam jangka pendek, sementara Megan Greene lebih jauh menyebut kenaikan tambahan mungkin terjadi tergantung dampak inflasi terhadap upah, harga, dan pasar tenaga kerja. Namun, Alan Taylor menyebut kenaikan ini sebagai "kenaikan asuransi untuk manajemen risiko saat ini" dan tidak serta-merta menjadi awal siklus pengetatan.
"Setelah lima tahun mencicil, sekarang kami justru membayar lebih besar dari sebelumnya. Ini seperti tamparan," ujar Patrick Bryson, pemilik KPR di Brighton yang harus menanggung kenaikan angsuran dari ยฃ1.420 menjadi ยฃ1.680 per bulan mulai Februari.
Bryson, guru gitar berusia 51 tahun dengan pendapatan gabungan sekitar ยฃ68.000 per tahun bersama istrinya, mengaku terpaksa mengubah pola belanja. Ia berhenti membeli wine, mengurangi makan di luar, dan memangkas langganan. "Harga-harga keterlaluan," keluhnya. Kisah Bryson mencerminkan tekanan yang dirasakan jutaan rumah tangga Inggris di tengah kenaikan biaya hidup.
Bank of England memperkirakan inflasi akan memuncak di 4,9% pada pertengahan tahun depan, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, dan baru kembali ke target 2% pada 2028. Dalam skenario buruk di mana perang AS-Iran meningkat dan harga minyak melonjak, inflasi bisa mencapai 6,2% pada 2027. Meski Inggris tidak dapat mengendalikan harga energi global, kenaikan suku bunga diharapkan membatasi efek rambatan yang membuat inflasi menyebar ke seluruh perekonomian.
Dampak kenaikan ini terasa tidak merata. Pemegang KPR dengan suku bunga tetap tidak akan terpengaruh langsung, tetapi produk baru mungkin menyesuaikan. Sementara itu, peminjam dengan suku bunga variabel akan merasakan kenaikan angsuran tergantung respons pemberi pinjaman; kenaikan 0,25 poin persentase biasanya berarti tambahan ยฃ14 per bulan. Bagi Indonesia, kenaikan suku bunga Inggris dapat mempengaruhi aliran modal global dan nilai tukar, meskipun dampaknya terhadap ekonomi domestik relatif terbatas selama fundamental makro terjaga.
Ke depan, arah kebijakan Bank of England akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan harga energi. Jika konflik mereda, ruang untuk menahan suku bunga lebih tinggi bisa terbuka. Namun, jika eskalasi berlanjut, bank sentral tidak ragu menaikkan suku bunga lagi untuk menjaga stabilitas harga. Pertanyaannya, seberapa besar tekanan yang siap ditanggung rumah tangga Inggris sebelum pemulihan ekonomi benar-benar terasa?



