Bitcoin Bertahan di Atas US$80.000 Usai Lompatan Tengah Pekan, ETF Spot Kembali Menarik Dana
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin masih di atas US$80.000 setelah naik dari kisaran US$78.000 pada Rabu, sementara Ether juga menguat meski tipis.
- Arus masuk bersih ke ETF Bitcoin spot AS mencapai US$74,6 juta dan mengakhiri tiga hari berturut-turut penarikan dana.
- Pasar kripto bergerak seiring turunnya harga minyak dan menguatnya saham AS pasca-pemilu sela, dengan pelaku menantikan data tenaga kerja akhir pekan.

Bitcoin (BTC) masih berdiri kokoh di atas level US$80.000 pada Kamis pagi, sehari setelah melonjak dari sekitar US$78.000. Berdasarkan data CoinDesk, harga aset digital terbesar itu tergelincir tipis 0,2% ke sekitar US$80.250 sejak tengah malam UTC, tetapi secara keseluruhan dalam 24 jam masih mencatat kenaikan 2,5%. Ether (ETH) pun menguat 4% dalam periode yang sama, meski pada Kamis turun 0,4% menjadi sekitar US$2.253. Indeks CoinDesk 80 yang lebih luas justru naik 0,9%, menandakan minat investor tidak hanya terpusat pada dua aset utama.
Lompatan pada Rabu tidak terjadi di ruang hampa. Harga minyak mentah Brent anjlok sekitar 8% dan pasar saham Amerika Serikat menguat setelah hasil pemilihan sela (midterms) memberikan sinyal politik yang lebih jelas bagi pelaku pasar. Namun pada Kamis, Brent sudah kembali diperdagangkan di kisaran US$95 per barel, naik tipis dari posisi terendahnya saat aksi jual Rabu. Kombinasi penurunan harga energi dan euforia bursa saham itulah yang tampaknya mendorong modal kembali mengalir ke aset berisiko, termasuk kripto.
Yang paling menarik perhatian adalah kembalinya dana ke produk investasi berbasis Bitcoin. Menurut data Farside Investors, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus masuk bersih sebesar US$74,6 juta pada Rabu, memutus rentetan tiga hari penarikan dana berturut-turut. Angka ini memang tidak besar dibandingkan total aset kelolaan ETF tersebut, tetapi menjadi sinyal psikologis penting: investor institusional mulai kembali memasang taruhan setelah sempat ragu.
Meski begitu, sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Kontrak berjangka saham AS bergerak campuran pada Kamis pagi, dengan futures S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq-100 melemah 0,8%. Pelaku pasar kini menanti data klaim tunjangan pengangguran yang dirilis hari ini serta laporan tenaga kerja yang lebih komprehensif pada Jumat. Kedua data itu akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, yang selama ini menjadi salah satu faktor penentu utama pergerakan harga aset kripto.
Di sisi lain, narasi seputar stablecoin berbasis aset dunia nyata (real-world asset/RWA) terus menguat. Stablecoin jenis ini diklaim mampu memberikan imbal hasil 5โ7% dari kredit riil, sementara pendanaan di pasar kripto konvensional menipis ke sekitar 4%. Muncul pula wacana GENIUS yang mendorong imbal hasil keluar dari rantai (off-chain), dengan proyeksi total pasar yang dapat dijangkau (TAM) tumbuh menjadi US$4 miliar dalam tiga tahun. Bagi investor, perkembangan ini menawarkan alternatif instrumen yang lebih terhubung dengan ekonomi riil, meski tetap menyimpan risiko likuiditas dan regulasi.
Dalam konteks Indonesia, pergerakan Bitcoin dan arus ETF spot AS kerap menjadi barometer tidak resmi bagi minat investor ritel domestik. Meskipun otoritas Indonesia belum mengizinkan produk ETF kripto spot diperdagangkan secara langsung, perubahan arus dana global bisa memengaruhi sentimen di bursa kripto lokal. Apalagi, nilai tukar rupiah yang fluktuatif terhadap dolar AS membuat aset digital sering dipandang sebagai lindung nilai alternatif, kendati risikonya jauh lebih tinggi daripada instrumen konvensional.
Ke depan, kemampuan Bitcoin mempertahankan level US$80.000 akan sangat bergantung pada dua hal: kelanjutan arus masuk ke ETF spot dan reaksi pasar terhadap data tenaga kerja AS. Jika data ketenagakerjaan lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi penurunan suku bunga bisa menguat dan kembali mendorong minat pada aset berisiko. Sebaliknya, angka yang solid dapat menahan laju kripto. Pertanyaannya, apakah reli ini sekadar pantulan teknis jangka pendek atau awal dari fase akumulasi baru?



