Raksasa Minyak Zaitun Deoleo Anjlok 18% Usai Dicaplok Dua Rival Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Saham Deoleo merosot tajam setelah Dcoop dan Acesur sepakat mengakuisisi masing-masing 50% saham perusahaan.
- Konsolidasi ini memperkuat dominasi Spanyol di pasar minyak zaitun global yang selama ini dikenal volatil.
- Harga komoditas yang mulai stabil menjadi taruhan baru bagi raksasa gabungan di tengah tekanan perubahan iklim.

Kabar akuisisi besar mengguncang pasar minyak zaitun dunia. Saham Deoleo, produsen minyak zaitun terbesar global asal Spanyol, ambles 17,8% pada perdagangan Kamis (5/11/2026) setelah dua pesaing domestiknya, Dcoop dan Acesur, mengumumkan kesepakatan untuk mengambil alih perusahaan tersebut. Langkah ini sekaligus mengakhiri perang penawaran yang sempat melibatkan sejumlah perusahaan multinasional dari Italia, Prancis, dan Australia.
Berdasarkan kesepakatan, Dcoop dan Acesur akan menggenggam masing-masing 50% saham Deoleo. Duo koperasi dan perusahaan minyak zaitun Spanyol ini berambisi membentuk entitas raksasa baru yang mampu mendongkrak konsumsi minyak zaitun di pasar global sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai pasok. Bagi Deoleo, transisi kepemilikan ini menandai babak baru setelah bertahun-tahun beroperasi sebagai perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di bursa.
Meski anjlok pada sesi Kamis, kinerja saham Deoleo sepanjang tahun ini justru terbilang cemerlang. Sejak awal 2026, harga sahamnya telah melonjak sekitar 55%, ditopang oleh meredanya harga minyak zaitun yang mengerek penjualan di Amerika Serikat. Pasar tampaknya membaca akuisisi ini sebagai katalis positif jangka panjang, meski reaksi awal investor mencerminkan kekhawatiran terhadap premium akuisisi dan potensi integrasi yang rumit.
Spanyol memang merupakan salah satu produsen minyak zaitun terdepan di dunia dan kerap menjadi acuan harga global. Selama beberapa tahun terakhir, harga komoditas ini bergerak liar akibat pasokan yang berfluktuasi tajam dari musim ke musim. Perubahan iklim, keterbatasan air, serta wabah hama dan penyakit menjadi faktor utama yang memicu ketidakstabilan tersebut. Namun, CEO Deoleo Cristóbal Valdés pada Juli lalu menyatakan bahwa periode 2022–2024 merupakan salah satu fase tersulit bagi industri, dan kini harga mulai stabil berkat tren curah hujan yang lebih baik.
"Siklus pasar yang sangat kompleks antara 2022 dan 2024, yang berdampak parah namun sementara bagi industri, kini telah definitif berlalu," ujar Valdés seperti dikutip CNBC.
Konsolidasi Deoleo, Dcoop, dan Acesur berpotensi menciptakan pemain dominan yang mampu mengatur standar kualitas, harga, dan distribusi minyak zaitun di Eropa. Namun, penggabungan dua koperasi besar dengan budaya organisasi yang berbeda bukan tanpa risiko. Sinergi operasional, efisiensi biaya, dan strategi ekspansi ke pasar Asia—termasuk Indonesia—akan menjadi ujian bagi manajemen baru. Di sisi lain, petani kecil di Spanyol berharap akuisisi ini memperkuat posisi tawar mereka dalam rantai nilai yang selama ini dikuasai pedagang besar.
Bagi Indonesia, meski bukan produsen minyak zaitun, dampak tidak langsung tetap terasa. Sebagai negara pengimpor minyak zaitun untuk kebutuhan industri makanan, kosmetik, dan ritel premium, stabilitas harga global sangat memengaruhi biaya impor. Konsolidasi di sisi pasokan dapat menciptakan efisiensi, tetapi juga berisiko mengurangi kompetisi jika entitas baru mendominasi pasar. Pelaku usaha makanan dan kosmetik dalam negeri perlu mencermati perkembangan ini, terutama terkait potensi kenaikan harga akibat penyesuaian strategi pasca-akuisisi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah raksasa baru ini mampu menjaga keseimbangan antara ambisi ekspansi dan keberlanjutan sektor yang rentan terhadap iklim. Jika integrasi berjalan mulus, Deoleo-Dcoop-Acesur bisa menjadi model konsolidasi koperasi yang menguntungkan petani. Namun, jika gagal, pasar minyak zaitun global bisa kembali dilanda gejolak pasokan yang merugikan konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia.



