Hakimi Ungkap Sisi Gelap Era Messi di PSG: Saya Seperti Pemain Kelas Dua
Baca dalam 60 detik
- Achraf Hakimi mengaku tidak menikmati bermain bersama Lionel Messi di PSG karena perubahan taktik yang membatasi perannya sebagai bek sayap menyerang.
- Hakimi merasa diperlakukan sebagai pemain kelas dua di Paris, kontras dengan statusnya sebagai pilar penting Timnas Maroko.
- Pengakuan ini menyoroti tantangan adaptasi pemain bintang dalam proyek klub besar dan tekanan mental yang menyertainya.

Bek sayap Paris Saint-Germain, Achraf Hakimi, membuka cerita tentang masa sulitnya bermain bersama Lionel Messi. Dalam wawancara di podcast The Bridge yang dikutip Give Me Sport, Kamis (5/11/2026), Hakimi menyatakan bahwa kehadiran Messi pada 2021 mengubah wajah permainan PSG secara drastis, dan ia merasa kehilangan peran sentralnya.
Hakimi bergabung dengan PSG dari Inter Milan pada musim panas 2021 dengan harga 68 juta euro, beberapa pekan sebelum Messi tiba. Keduanya sempat diharapkan menjadi motor serangan Les Parisiens, terlebih dengan adanya Kylian Mbappe dan Neymar. Namun, harapan itu tak sepenuhnya terwujud. Messi hanya bertahan dua musim dengan catatan 32 gol dan 35 assist sebelum hengkang ke Inter Miami pada 2023.
Perubahan taktik yang dibawa PSG setelah kedatangan Messi membuat Hakimi tidak leluasa menjalankan karakter aslinya sebagai bek sayap ofensif. Pemain asal Maroko itu dikenal memiliki kecepatan dan kemampuan menyerang dari sisi kanan, tetapi ia merasa sistem tim tidak lagi mengakomodasi gaya bermainnya. "Begitu Messi datang, proyek PSG berubah. Gaya permainan tim juga ikut berubah. Kami bermain dengan cara yang berbeda dan saya tidak menikmatinya," ujar Hakimi.
Lebih jauh, Hakimi mengaku merasa menjadi pemain kelas dua di Paris. Ia membandingkan situasinya dengan perannya bersama Timnas Maroko, di mana ia diperlakukan sebagai pemain kunci. "Saya tidak bisa melakukan hal-hal yang saya sukai, seperti menyerang dan merasa menjadi pemain penting. Saya merasa seperti pemain kelas dua," lanjutnya.
Tekanan mental pun tak terhindarkan. Hakimi mengaku sulit tampil konsisten di Paris, terlebih ketika kritik mulai muncul. "Secara mental, sulit bagi saya untuk tampil seperti yang saya inginkan di Paris. Kemudian, kritik mulai berdatangan. Orang-orang bertanya mengapa saya bermain dengan satu cara bersama Maroko, tetapi terlihat berbeda di Paris," tuturnya. Ia menambahkan bahwa publik tidak memahami perbedaan peran yang dimintakan kepadanya di klub dan di tim nasional.
"Saya merasa seperti pemain kelas dua. Saya tidak bisa melakukan hal-hal yang saya sukai, seperti menyerang dan merasa menjadi pemain penting."
โ Achraf Hakimi
Pengakuan Hakimi ini bukan sekadar cerita personal, melainkan cermin tantangan yang kerap dihadapi pemain bintang saat bergabung dengan klub penuh megabintang. Perubahan hierarki dan taktik bisa mengorbankan peran individu, bahkan bagi pemain sekaliber Hakimi. Di sisi lain, PSG sendiri menghadapi dilemma antara memuaskan ego para bintang dan membangun keseimbangan tim. Meski demikian, Hakimi tetap bertahan di PSG hingga kini dan menjadi bagian dari proyek jangka panjang klub.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah ini relevan sebagai pelajaran tentang pentingnya manajemen ego dan komunikasi peran dalam tim bertabur bintang. Klub-klub besar di Liga 1 yang mendatangkan pemain asing ternama seringkali menghadapi tantangan serupa: bagaimana menjaga harmoni dan memastikan setiap pemain merasa dihargai. Ke depan, PSG di bawah arahan pelatih anyar perlu memastikan bahwa perubahan taktik tidak mengorbankan kualitas individu, sementara Hakimi diharapkan bisa kembali menunjukkan performa terbaiknya bersama Timnas Maroko dan Les Parisiens.



