Amorim Akhiri Penantian, Milan Rebut Derby della Madonnina
Baca dalam 60 detik
- Ruben Amorim meraih kemenangan pertamanya di Derby Milan setelah menunggu bertahun-tahun, membawa Rossoneri menang 3-1 atas Inter.
- Kemenangan ini memangkas jarak Milan dari Inter di puncak klasemen dan menegaskan ambisi Scudetto yang sebelumnya diragukan.
- Dengan Serie A yang kembali menarik perhatian, hasil ini bisa menjadi titik balik dominasi Milan atas rival sekota setelah absen panjang dari gelar.

Ruben Amorim akhirnya merasakan atmosfer Derby della Madonnina untuk pertama kalinya sebagai pelatih, dan ia melakukannya dengan cara yang tak terlupakan. Milan mengalahkan Inter 3-1 pada laga yang berlangsung di San Siro, Sabtu (1/11/2025), sekaligus mengakhiri rekor tak terkalahkan Nerazzurri di Serie A musim ini. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, melainkan sinyal bahwa Milan di bawah Amorim serius menantang dominasi Inter yang dalam beberapa tahun terakhir lebih sering berada di atas angin.
Bagi Amorim, laga ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sejak kecil, ia mengidolakan Milan era 1990-an yang diperkuat Paolo Maldini, Franco Baresi, dan Ruud Gullit. Dalam wawancara dengan Expresso pada 2017, ia bahkan berujar bahwa impian masa kecilnya adalah membela Benfica dan Milan. "Saya sudah mewujudkan satu, sekarang saya harus menjadi pelatih untuk yang lain," ujarnya kala itu. Kini, setelah sembilan tahun berselang, ia benar-benar duduk di kursi pelatih Milan dan langsung mempersembahkan kemenangan di laga paling bergengsi di Italia.
Milan yang diwarisinya musim panas lalu tidak dalam kondisi ideal. Dua musim berturut-turut gagal lolos ke Liga Champions, dan bintang utama Rafael Leão sempat dikabarkan ingin hengkang. Namun, manajemen tidak tanggung-tanggung menggelontorkan lebih dari €160 juta untuk belanja pemain, termasuk mendatangkan Diego Moreira dari Strasbourg dengan harga di atas €50 juta. Amorim pun diberi kebebasan meracik skuad sesuai visinya.
Kepercayaan diri Amorim terlihat dari keputusannya merotasi pemain jelang derby. Saat kalah 2-4 dari Bologna pada tengah pekan, ia menyimpan Luka Modric dan Christian Pulisic di bangku cadangan. Keduanya baru dimainkan di babak kedua. Keputusan itu terbukti jitu: Pulisic dan Modric tampil sebagai starter melawan Inter, bersama Mario Gila, Adrien Rabiot, dan Diego Moreira yang sebelumnya absen. Amorim juga mengejutkan dengan menurunkan Sankhoun Diawara, pemain berusia 20 tahun, sebagai wing-back kiri dalam formasi 3-4-2-1.
Inter datang sebagai favorit. Mereka belum terkalahkan musim ini dan hanya kehilangan dua poin. Pelatih Cristian Chivu menghadapi krisis di lini depan: Lautaro Martínez cedera hamstring, sementara Francesco Pio Esposito dan Ange-Yoan Bonny belum bugar karena virus. Chivu memilih memajukan Andy Diouf, mantan gelandang yang kini bermain sebagai wing-back, untuk mendampingi Marcus Thuram di lini serang. Namun, eksperimen itu tidak berjalan mulus. Inter tampak ragu dengan sistem baru, sementara Milan langsung tancap gas.
Pulisic membuka keunggulan pada menit keempat lewat sundulan keras memanfaatkan umpan Moreira, hasil dari penguasaan bola selama 80 detik tanpa henti. Enam menit berselang, Rabiot menggandakan skor dengan penyelesaian akrobatik dari sepak pojok. Gol itu terlihat seperti skema latihan: Diawara memblok pergerakan Hakan Calhanoglu, memberi ruang bagi Rabiot untuk menyambar bola. Moreira tampil impresif dengan umpan-umpan akuratnya, membuktikan mengapa Milan rela menebusnya mahal.
Inter sempat memperkecil kedudukan melalui Alessandro Bastoni dari sepak pojok, dan Djed Spence nyaris menyamakan skor andai Mike Maignan tidak melakukan penyelamatan gemilang. Namun, Milan mendapatkan tendangan bebas sekitar 20 yard di sisi kanan. Moreira meminta izin kepada Modric untuk mengeksekusi, lalu melepaskan tembakan kaki kiri melengkung melewati pagar betis dan masuk ke sudut jauh gawang. Skor 3-1 bertahan hingga usai, menandai kekalahan pertama Inter di liga musim ini.
Kemenangan ini memang melegakan, tetapi Amorim sendiri mengingatkan agar tidak cepat puas. Ia menilai Milan baru bermain "bagus, bukan hebat", dan tiga poin dari derby sama nilainya dengan tiga poin dari laga melawan Bologna. Pernyataan itu masuk akal mengingat Milan belum konsisten di lini depan. Gonçalo Ramos, rekrutan termahal dari Paris Saint-Germain senilai €73 juta, baru mencetak dua gol dalam 10 laga sebagai starter. Ia sering turun ke tengah, meninggalkan ruang di kotak penalti.
Meski demikian, kemenangan atas rival terbesar selalu punya makna istimewa. Pemilik klub, Gerry Cardinale, belum lama ini menyatakan dukungan penuh terhadap "Amorim ball" dan yakin Milan bisa bersaing memperebutkan Scudetto. Hasil ini seakan menegaskan keyakinan tersebut. Milan memang belum finis di atas Inter sejak musim 2021-22, tetapi dengan performa seperti ini, jarak itu perlahan bisa dipangkas.
Pertanyaannya, apakah Milan mampu menjaga momentum ini hingga akhir musim? Serie A musim ini tampil lebih menghibur dengan rata-rata 3,18 gol per pertandingan, dan Milan menjadi salah satu tim yang paling menarik untuk disaksikan. Jika Amorim bisa mengatasi inkonsistensi lini depan dan mempertahankan fleksibilitas taktiknya, bukan tidak mungkin Rossoneri kembali meraih gelar yang telah lama dinanti.



