Inter dan Milan Resmi Umumkan Generali Stadium, San Siro Menuju Akhir Hayat
Baca dalam 60 detik
- Dua klub raksasa Italia, Inter dan Milan, mengungkap desain stadion bersama baru bernama Generali Stadium berkapasitas 71.500 kursi dengan biaya proyek mencapai โฌ1,2 miliar.
- Rencana pembongkaran San Siro memicu protes dari sebagian pendukung Inter yang menolak kehilangan markas bersejarah mereka.
- Stadion yang dirancang Norman Foster ini ditargetkan mulai dibangun pada 2028 dan siap digunakan pada musim 2031-32, sekaligus menjadi kandidat venue Euro 2032.

Inter Milan dan AC Milan secara resmi membeberkan rencana pembangunan stadion bersama baru yang akan menggantikan San Siro mulai musim 2031-32. Fasilitas modern bernama Generali Stadium itu dirancang berkapasitas 71.500 penonton dengan estimasi biaya mencapai โฌ1,2 miliar atau sekitar Rp20 triliun. Pengumuman disampaikan dalam acara gala di Castello Sforzesco, Milan, Kamis (29/10/2026) waktu setempat.
Keputusan ini menandai babak baru bagi dua klub yang selama hampir satu abad berbagi atap di Giuseppe Meazza. San Siro yang dibuka pada 1926 dan berkapasitas 75.000 orang akan dirobohkan sebagian besar setelah konstruksi mendekati tahap akhir. Pekerjaan pembangunan dijadwalkan dimulai pada 2028 di lokasi yang sama, dengan nama Generali diambil dari perusahaan asuransi terbesar Italia yang menjadi sponsor utama proyek.
Namun, rencana ambisius itu tidak disambut hangat semua pihak. Sebelum sesi pemaparan dimulai, sekelompok pendukung Inter memasuki halaman kastil sambil membentangkan spanduk bertuliskan "you will never extinguish the lights at San Siro" dan meneriakkan "hands off San Siro". Aksi itu menjadi sinyal bahwa modernisasi klub tidak selalu sejalan dengan sentimen basis suporter yang menganggap San Siro sebagai rumah spiritual.
Arsitek kenamaan Norman Foster menjelaskan bahwa desain Generali Stadium akan berbentuk rendah di bagian tengah dan meninggi di kedua ujung di belakang gawang. David Manica, spesialis stadion yang bekerja sama dengan Foster, menambahkan bahwa tribun dibuat curam agar penonton sedekat mungkin dengan lapangan. "San Siro bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah perasaan. Kami membawa semua kursi sedekat mungkin ke lapangan, bahkan seolah duduk di atas rumput," ujar Manica seperti dikutip dalam pemaparan tersebut.
Selain sepak bola, Generali Stadium dirancang multifungsi untuk menggelar pertandingan NFL internasional, rugbi, dan konser. Fleksibilitas ini menjadi kunci di tengah tren stadion modern Eropa yang dituntut menghasilkan pendapatan di luar hari pertandingan. Foster dan Manica sebelumnya terlibat dalam proyek Wembley baru, sementara Foster + Partners juga merancang markas anyar Manchester United berkapasitas 100.000 kursi.
Bagi Inter dan Milan, pembangunan stadion sendiri adalah jalan keluar dari ketergantungan pada fasilitas kota yang sudah berusia satu abad. San Siro memang ikonik, tetapi butuh modernisasi besar-besaran. Dengan mengakuisisi stadion dan area parkir senilai โฌ197 juta, kedua klub memegang kendali penuh atas aset yang selama ini menjadi sumber pemasukan bersama pemerintah kota.
Proyek ini juga membuka peluang Generali Stadium masuk dalam daftar venue Euro 2032 yang akan digelar bersama oleh Italia dan Turki. Jika terwujud, panggung internasional itu akan menjadi pembuktian bahwa investasi miliaran euro tidak hanya soal gengsi, tetapi juga daya saing kompetisi domestik.
Pertanyaannya kini, akankah suara suporter yang menolak pembongkaran San Siro mampu mengubah arah proyek, atau justru menjadi catatan sejarah bahwa modernisasi sepak bola Italia memang menuntut pengorbanan simbol-simbol lama? Yang jelas, hitungan mundur menuju 2031 telah dimulai, dan Milan tidak akan lagi punya dua rumah.



