Lazio Menang 6-2 di Sassuolo, 10 Ribu Ultras Tetap Boikot Kandang
Baca dalam 60 detik
- Lazio meraih kemenangan tandang 6-2 atas Sassuolo, hasil yang mengukuhkan posisi mereka di papan atas Serie A.
- Sebanyak 10.000 suporter Lazio menempuh perjalanan jauh ke Reggio Emilia sebagai bentuk protes terhadap pemilik klub Claudio Lotito.
- Pelatih Gennaro Gattuso menghadapi tantangan untuk mendamaikan hubungan antara fans dan manajemen di tengah performa impresif tim.

Lazio mencatat kemenangan meyakinkan 6-2 atas Sassuolo di Stadion Mapei, Reggio Emilia, Selasa malam waktu setempat. Namun, sorotan utama justru datang dari tribun penonton: sekitar 10.000 pendukung Lazio hadir meski laga digelar pada malam kerja dan berjarak sekitar 300 kilometer dari Roma. Kehadiran massal itu bukan sekadar dukungan, melainkan bagian dari boikot berkepanjangan terhadap pemilik klub, Claudio Lotito.
Sejak awal musim, kelompok suporter terorganisir Lazio memang memilih absen dari pertandingan kandang di Stadio Olimpico. Mereka menuduh Lotito mengabaikan tim dan tidak menghormati fans. Aksi boikot ini telah menurunkan rata-rata kehadiran di kandang dari sekitar 45.000 pada awal dekade menjadi di bawah 30.000 musim lalu, dan hanya sekitar 10.000 pada musim ini. Sebaliknya, mereka berbondong-bondong ke laga tandang untuk menunjukkan bahwa protes mereka tertuju pada manajemen, bukan pada para pemain.
Kemenangan atas Sassuolo adalah yang kedelapan dalam sembilan pertandingan Lazio di Serie A. Mereka sempat memuncaki klasemen pada Selasa malam sebelum Inter Milan menyamakan poin dengan kemenangan tipis atas Venezia keesokan harinya. Start cemerlang ini merupakan yang terbaik dalam sejarah Lazio dan menjadi rekor kedua terbaik bagi klub mana pun di liga Italia, hanya kalah dari Roma pada musim 2013-14 yang memenangi 10 laga awal.
Di lapangan, Lazio tampil dominan. Kenneth Taylor membuka skor pada menit kedua, memanfaatkan bola setengah matang. Sassuolo sempat menyamakan kedudukan melalui gol bunuh diri Josip Sutalo, tetapi Lazio kembali unggul lewat Gustav Isaksen pada menit ke-13. Romano Floriani Mussolini, cicit diktator Benito Mussolini, mencetak gol Serie A pertamanya tak lama kemudian. Sassuolo harus bermain dengan 10 orang setelah Kristian Thorstvedt diusir pada menit ke-31 karena pelanggaran keras terhadap Mattia Zaccagni. Meski demikian, tuan rumah sempat memperkecil ketertinggalan melalui Sebastiano Esposito sebelum Zaccagni menambah keunggulan Lazio.
Pada babak kedua, Tijjani Noslin mencetak dua gol dari luar kotak penalti untuk melengkapi kemenangan. Kiper Sassuolo, Stefano Turati, sempat menggagalkan dua penalti dari Zaccagni dan Davide Frattesi, sehingga skor tidak menjadi lebih besar. Kemenangan ini memperpanjang tren positif Lazio di bawah asuhan Gennaro Gattuso, yang sebelumnya menangani Italia dan gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Gattuso dianggap berhasil membangun kedekatan personal dengan para pemain, seperti mempertahankan Zaccagni dan mengembangkan Noslin sebagai penyerang tengah.
"Saya menutup mata dan membayangkan kami berada di Stadio Olimpico yang penuh," kata Gattuso. "Sepuluh ribu orang menempuh 300 kilometer pada hari Selasa membuat saya bahagia."
Meski performa tim impresif, hubungan antara suporter dan Lotito masih jauh dari membaik. Gattuso mengaku siap berdialog dengan pemilik klub, tetapi menegaskan bahwa keputusan ada di tangan Lotito dan para penggemar. "Saya akan berbicara dengannya. Dia orang yang sangat cerdas, tetapi pilihan ada padanya. Saya ingin melihat banyak fans di stadion, tetapi saya tidak bisa mengubah pikiran mereka atau presiden," ujarnya.
Pertanyaannya kini: mampukah Gattuso menjembatani jurang antara fans dan manajemen? Jika tren positif berlanjut, tekanan publik bisa memaksa Lotito untuk merespons. Namun, selama boikot berlangsung, Stadio Olimpico akan tetap sepi, dan kemenangan di lapangan hanya menjadi pengingat pahit bagi ketidaksepahaman di luar lapangan.



