Studi 4 Tahun: Laut Inggris Memanas, Rantai Makanan Marinir Terancam pada 2050
Baca dalam 60 detik
- Riset empat tahun memproyeksikan pemanasan 3°C pada 2100 memicu ketidakseimbangan predator-prey di Atlantik timur laut.
- Pada 2050, keanekaragaman ikan dan invertebrata dasar laut diperkirakan naik 12%, tetapi fitoplankton dan zooplankton turun 3% dan 7%.
- Temuan ini telah diajukan ke kajian kawasan konservasi laut Inggris dan berimplikasi pada kebijakan perikanan serta ketahanan pangan.

Pemanasan suhu laut di sekitar Kepulauan Inggris dan Atlantik timur laut berpotensi mengacaukan keseimbangan rantai makanan bawah laut, menurunkan kesehatan ekosistem, dan pada akhirnya mengancam pasokan pangan pada 2050. Kesimpulan itu muncul dari studi empat tahun yang dipimpin Pusat Sains Lingkungan, Perikanan, dan Akuakultur (Cefas) Inggris dan diterbitkan di Science Advances.
Tim peneliti internasional dari University of East Anglia, Marine Biological Association, UiT Arctic University of Norway, Royal Netherlands Institute for Sea Research, dan Technical University of Denmark memproyeksikan dampak perubahan iklim terhadap empat kelompok utama kehidupan laut. Mereka menemukan bahwa skenario pemanasan 3°C pada 2100 tidak serta-merta meningkatkan keanekaragaman hayati secara merata. Sebaliknya, terjadi ketimpangan antara predator dan mangsa yang berpotensi “membentuk ulang ekosistem laut secara fundamental”.
Perairan di sekitar British Isles, terutama North Sea bagian selatan, termasuk salah satu dari 20 “titik panas iklim laut” dunia yang mengalami pemanasan tercepat dalam 50 tahun terakhir. Selama ini, asumsi umum menyebutkan bahwa wilayah lintang menengah seperti Inggris akan menuai lonjakan keanekaragaman hayati karena spesies dari selatan yang lebih kaya bergerak ke utara. Namun, proyeksi baru justru menunjukkan kerentanan pada kelompok plankton yang menjadi fondasi rantai makanan.
“Yang mengejutkan kami adalah pemanasan tidak menaikkan atau menurunkan keanekaragaman hayati secara menyeluruh,” ujar Elena Couce, ekolog kelautan Cefas dan salah satu penulis utama studi. “Kelompok di atas rantai makanan seperti ikan mungkin bertambah spesiesnya di sebagian Atlantik timur laut, tetapi plankton kunci yang menopang ekosistem justru diproyeksikan kehilangan spesies.”
Lily Greig, ekolog kelautan Cefas yang juga memimpin studi, menambahkan bahwa kenaikan keanekaragaman predator diiringi penurunan mangsa dapat mengganggu rantai makanan. “Hasil kami menunjukkan perubahan iklim dapat mengacak keanekaragaman hayati secara tidak merata di seluruh jaring makanan, dan keuntungan pada satu kelompok belum tentu membuat ekosistem secara keseluruhan lebih tangguh,” katanya.
Riset sebelumnya dari Cefas tentang spesies ikan utama memperkirakan pemanasan di perairan Eropa barat laut akan menguntungkan spesies seperti teri, bass laut, dan sarden, tetapi merugikan cod Atlantik, haddock, dan coley. Studi terbaru memperluas cakupan ke ekosistem perairan Inggris dan Atlantik timur laut, termasuk Irlandia dan Prancis, dengan menggunakan data jangka panjang dan teknik pembelajaran mesin untuk memetakan hubungan antara keanekaragaman hayati dan perubahan lingkungan hingga 2100.
Para peneliti menilai temuan ini dapat berfungsi sebagai “sistem peringatan dini” perubahan ekosistem. Karya tersebut telah diajukan ke pemerintah Inggris sebagai masukan bagi tinjauan kawasan perlindungan laut yang sedang membahas langkah pengelolaan perikanan. “Pembuat kebijakan memiliki mandat untuk menjaga atau bahkan meningkatkan keanekaragaman hayati,” ujar Couce. “Yang kami sampaikan adalah perubahan iklim sudah mengubah keanekaragaman hayati, dan itu harus diperhitungkan sebelum menyusun rencana pengelolaan lain.”
Bagi Indonesia, temuan ini relevan meski terjadi di belahan dunia lain. Sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada sektor perikanan, Indonesia menghadapi risiko serupa ketika suhu laut menghangat. Perubahan komposisi plankton dan ikan dapat memengaruhi stok ikan tangkap, pendapatan nelayan, dan ketahanan pangan nasional. Kebijakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem dan pemantauan kesehatan laut menjadi semakin mendesak.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah laut akan menghangat, melainkan seberapa cepat ketidakseimbangan rantai makanan merambat ke sektor pangan dan ekonomi pesisir. Negara-negara dengan garis pantai panjang, termasuk Indonesia, perlu memasukkan proyeksi iklim ke dalam perencanaan konservasi dan kuota tangkap sebelum dampaknya menjadi krisis yang tak terkendali.



