Morgan Stanley Mulai Tokenisasi Saham AS dan Treasury di Blockchain, Buka Babak Baru Pasar Modal
Baca dalam 60 detik
- Morgan Stanley mengumumkan diri sebagai salah satu bank pertama yang memanfaatkan layanan tokenisasi DTCC untuk mengubah saham dan surat utang AS menjadi aset digital.
- Layanan DTS yang diluncurkan 28 Oktober 2025 memungkinkan perdagangan 24/7 dengan hak kepemilikan dan perlindungan investor yang setara dengan aset konvensional.
- Dukungan dari 20 institusi keuangan besar dan restu SEC menandai percepatan adopsi tokenisasi aset dunia nyata di pasar keuangan global.

Morgan Stanley resmi mencatatkan namanya sebagai salah satu bank investasi global yang mengadopsi tokenisasi aset keuangan konvensional. Langkah ini diambil setelah Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) meluncurkan Tokenization Service (DTS) pada 28 Oktober 2025, sebuah infrastruktur yang memungkinkan saham dan surat utang pemerintah Amerika Serikat diperdagangkan dalam bentuk token di blockchain.
DTCC, lembaga yang selama ini menjadi tulang punggung kliring dan penyelesaian transaksi surat berharga di AS, merancang DTS agar token yang diterbitkan memiliki hak kepemilikan dan proteksi investor yang identik dengan aset aslinya. Pemegang token dapat berpindah antara bentuk konvensional dan digital, serta menyimpannya di dompet digital pribadi. Inisiatif ini disebut dapat meningkatkan likuiditas, mempermudah pergerakan agunan, dan mendorong efisiensi modal.
Amy Oldenburg, Head of Digital Assets Strategy Morgan Stanley, menegaskan bahwa pengalaman langsung mengintegrasikan sekuritas token dengan infrastruktur pasar yang mapan akan menjadi fondasi bagi pengembangan kapabilitas aset digital perusahaan ke depan. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa adopsi tokenisasi bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang bank tersebut.
"Pengalaman langsung dalam mengintegrasikan sekuritas token dengan infrastruktur pasar yang telah ada akan menginformasikan pengembangan kapabilitas aset digital perusahaan seiring evolusi pasar," ujar Oldenburg.
Langkah Morgan Stanley ini mempertegas tren tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets/RWA) yang kian menarik minat institusi keuangan tradisional. Dengan tokenisasi, aset seperti saham dan obligasi dapat diperdagangkan secara fraksional dan tanpa henti, membuka peluang bagi investor ritel maupun institusi untuk mengakses pasar yang sebelumnya terbatas oleh jam operasional dan persyaratan minimum.
Meski demikian, sejumlah pengamat pasar mengingatkan bahwa adopsi masif tokenisasi masih menghadapi tantangan, terutama terkait kerangka regulasi lintas yurisdiksi, standar interoperabilitas antar-blockchain, serta kesiapan infrastruktur kustodian. Kehadiran DTCC sebagai operator terpusat dianggap mampu meredam sebagian kekhawatiran tersebut, mengingat rekam jejaknya sebagai penyedia layanan pasca-perdagangan terbesar di AS.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagi regulator dan pelaku pasar modal dalam negeri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengkaji potensi tokenisasi aset, termasuk untuk instrumen surat utang negara dan saham. Jika diadopsi, tokenisasi dapat memperluas basis investor dan meningkatkan likuiditas pasar domestik, namun memerlukan kejelasan aturan mengenai legalitas kepemilikan token, mekanisme penyelesaian transaksi, dan perlindungan konsumen.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah seberapa cepat bank-bank lain mengikuti jejak Morgan Stanley dan apakah tokenisasi akan menjadi standar baru dalam perdagangan sekuritas global. Dengan dukungan 20 institusi besar dan restu SEC, arah angin tampaknya sudah bulat: Wall Street semakin serius memindahkan aset konvensional ke dunia blockchain.



