Bitcoin Tersungkur ke $75.700 saat Peluang Demokrat Kuasai Kongres Menguat
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin sempat merosot tajam ke sekitar $75.700 sebelum pembeli mendorongnya kembali ke $76.700 pada sesi Asia, Kamis (5/11/2026).
- Kemenangan Demokrat dipandang pasar sebagai risiko regulasi lebih ketat, terutama bagi sektor teknologi dan kripto, sehingga memicu aksi jual di aset berisiko.
- Pelaku pasar kripto dalam negeri perlu mencermati dampak lanjutan terhadap likuiditas global dan nilai tukar rupiah jika gejolak berlanjut.

Harga Bitcoin (BTC) sempat ambles ke level $75.700 pada Rabu dini hari waktu setempat, sebelum akhirnya bangkit dan diperdagangkan di kisaran $76.700 saat jam perdagangan Asia, Kamis (5/11/2026). Penurunan ini dipicu oleh hasil awal pemilihan sela Amerika Serikat yang menunjukkan peluang Partai Demokrat menguasai Kongres, sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan regulasi yang lebih ketat.
Fluktuasi terjadi dalam hitungan jam. Selasa malam, Bitcoin masih bertengger di dekat $78.000 seiring berjalannya pemungutan suara. Namun, begitu hasil awal masuk, harga terpangkas lebih dari $2.000. Meski demikian, dalam periode 24 jam, pergerakan Bitcoin terbilang nyaris datar.
Tekanan tidak hanya menimpa Bitcoin. Kontrak berjangka S&P 500 anjlok 1,3% setelah sebelumnya sempat menguat 0,5%, sedangkan futures Nasdaq 100 terpuruk 2,3%. Indeks dolar melemah terhadap mayoritas mata uang utama, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun enam basis poin menjadi 4,90%. Indeks MSCI Asia Pasifik ikut terkoreksi hampir 2%.
Di antara aset kripto utama, Zcash (ZEC) menjadi yang paling menonjol dengan lonjakan sekitar 5% ke $1.200, membalikkan penurunan 10% pada Selasa. XRP naik 1% ke $1,27, sementara ether (ETH), HYPE, dan TRX hampir tidak bergerak; ether bertahan di sekitar $2.260. Solana (SOL) melemah sekitar 1% ke bawah $92, dan BNB menjadi yang terburuk dengan penurunan lebih dari 1% ke $689.
Pasar saham dan dolar AS dinilai merespons prospek kemenangan Demokrat karena partai tersebut cenderung menerapkan pengawasan regulasi yang lebih ketat, terutama terhadap perusahaan teknologi besar dan kecerdasan buatan. Sebaliknya, obligasi pemerintah justru diuntungkan jika kebuntuan politik di Washington membatasi ruang fiskal untuk pemotongan pajak dan belanja negara, sehingga meredakan kekhawatiran atas pembiayaan utang federal.
"Demokrat menentang CLARITY Act, rancangan undang-undang yang akan menetapkan aturan bagaimana pasar kripto AS diatur," ujar Jeff Mei, Chief Operating Officer bursa kripto BTSE, kepada CoinDesk, Senin (2/11/2026).
Bagi pasar kripto, hasil pemilu ini menjadi taruhan tersendiri. CLARITY Act yang digagas untuk memberikan kejelasan regulasi bagi industri aset digital justru terancam mandek jika Demokrat menguasai Kongres. Ketidakpastian ini membuat investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Dampak ke pasar Indonesia tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan basis investor kripto yang terus tumbuh, gejolak di pasar global akan memengaruhi sentimen domestik, terutama melalui pergerakan nilai tukar rupiah dan likuiditas di bursa kripto lokal. Jika dolar AS melemah akibat hasil pemilu, rupiah berpotensi menguat, tetapi arus modal keluar dari aset berisiko bisa menekan harga aset digital di dalam negeri.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan penghitungan suara dan reaksi kebijakan dari Washington. Pertanyaannya, apakah tekanan ini bersifat sementara atau menjadi awal koreksi yang lebih dalam bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya? Investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek sembari memantau sinyal dari regulator AS.



