Bitcoin Bangkit dari Kejutan Pemilu AS, DeFi Pimpin Penguatan Pasar Kripto
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin merangkak naik 1,3% ke level US$78.300 setelah sempat terpuruk ke US$75.600 dini hari, merespons hasil pemilu sela AS.
- Kemenangan Partai Demokrat di Kongres memunculkan ketidakpastian baru terhadap regulasi aset digital, namun pasar saham berjangka berbalik menguat.
- Indeks DeFi Select melonjak 5%, menandakan investor mulai mengalihkan dana ke sektor keuangan terdesentralisasi di tengah gejolak politik.

Pasar kripto menunjukkan ketangguhannya pada Rabu (4/11/2026) setelah sempat terguncang hasil pemilu sela Amerika Serikat. Bitcoin (BTC) bangkit dari titik terendah US$75.600 sekitar pukul 03.00 UTC dan bertengger di US$78.300, naik 1,3% sejak tengah malam UTC. Pemulihan ini terjadi di tengah kekhawatiran baru atas arah legislasi aset digital di Kongres yang kini dikuasai Partai Demokrat.
Meski begitu, bukan hanya Bitcoin yang bergerak. Eter (ETH) ikut menguat 2% ke US$2.423, sementara CoinDesk 80 Index—yang melacak performa 80 aset kripto teratas—mencatat kenaikan 2,3%. Yang paling mencolok adalah lonjakan indeks DeFi Select (DFX) sebesar 5%, dipicu oleh token Injective (INJ) yang melesat 6,2%. Fenomena ini menandakan bahwa pelaku pasar tidak serta-merta meninggalkan aset berisiko, melainkan mulai melakukan rotasi ke sektor keuangan terdesentralisasi yang dianggap lebih lincah menghadapi perubahan kebijakan.
Kemenangan Demokrat di Kongres memang memunculkan tanda tanya besar: akankah regulasi kripto yang selama ini dinanti-nanti justru semakin alot? Sebelumnya, Partai Republik dikenal lebih terbuka terhadap inovasi aset digital, sementara Demokrat cenderung mendorong pengawasan lebih ketat. Namun reaksi pasar menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut tidak berlangsung lama. Para trader justru memanfaatkan penurunan sebagai momentum akumulasi, terutama pada aset-aset DeFi yang memiliki fundamental kuat.
"Pasar sudah mencerna hasil pemilu dan beralih ke faktor berikutnya. Fokus kini tertuju pada data ketenagakerjaan AS hari Jumat nanti, yang bisa mempengaruhi ekspektasi suku bunga Federal Reserve," ujar seorang analis pasar kripto yang tidak ingin disebutkan namanya.
Di sisi lain, narasi seputar stablecoin berbasis aset dunia nyata (RWA) terus menguat. Yield yang ditawarkan produk-produk ini bertahan di kisaran 5-7% dari kredit riil, jauh lebih menarik dibandingkan imbal hasil pendanaan kripto yang kini terkompresi ke sekitar 4%. Inisiatif GENIUS yang mendorong yield ke luar rantai (off-chain) turut memperluas total pasar yang berpotensi (TAM) menjadi US$4 miliar dalam tiga tahun ke depan. Bagi investor Indonesia, perkembangan ini membuka alternatif instrumen pendapatan tetap berbasis blockchain yang bisa menjadi diversifikasi menarik, meski tetap perlu dicermati dari sisi regulasi domestik.
Dari dalam negeri, sentimen pasar kripto Indonesia biasanya bergerak seiring tren global, namun dengan karakteristik unik: investor ritel cenderung lebih sensitif terhadap berita regulasi dan nilai tukar rupiah. Apabila ketidakpastian politik AS berlanjut, arus modal ke aset kripto di dalam negeri bisa terpengaruh, terutama jika rupiah ikut melemah. Namun, penguatan DeFi dan RWA menunjukkan bahwa ekosistem kripto semakin terdiversifikasi, tidak lagi hanya bergantung pada Bitcoin.
Ke depan, semua mata akan tertuju pada laporan tenaga kerja AS Jumat nanti. Jika data menunjukkan pasar kerja masih panas, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa kembali menguat dan menekan aset berisiko, termasuk kripto. Sebaliknya, angka yang lembut dapat memperkuat argumen bahwa The Fed akan melunak, memberi ruang bagi Bitcoin dkk untuk melanjutkan reli. Pertanyaannya, apakah pemulihan ini hanya bersifat sementara atau awal dari tren naik yang lebih berkelanjutan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: volatilitas akan tetap tinggi menjelang akhir pekan.



