Power Bank Surya Rp290 Ribu: Daya 38.800 mAh, Tahan Air, dan Pengisi Ulang 8 Kali
Baca dalam 60 detik
- Yelomin Portable Solar Power Bank dijual diskon menjadi US$18 (sekitar Rp290 ribu) dari harga normal US$20 di Amazon.
- Kapasitas 38.800 mAh diklaim mampu mengisi ulang ponsel 6–8 kali, dilengkapi panel surya, engkol tangan, dan lampu LED darurat.
- Bagi pengguna di Indonesia, perangkat ini relevan untuk aktivitas luar ruang dan daerah rawan pemadaman listrik, meski perlu cek kompatibilitas dan garansi.

Harga power bank surya bersertifikat tahan air kini turun ke level yang membuatnya layak dipertimbangkan: Yelomin Portable Solar Power Bank dijual US$18 (sekitar Rp290 ribu) di Amazon, atau US$2 lebih murah dari harga normal US$20. Bagi siapa pun yang sering kehabisan baterai di tengah aktivitas—atau tinggal di daerah dengan pasokan listrik tidak stabil—perangkat ini menawarkan kombinasi kapasitas besar dan fitur darurat yang jarang ada di kelas harga tersebut.
Yang membedakan produk ini dari power bank konvensional adalah tiga sumber pengisian daya: kabel ke stopkontak, panel surya di sisi bodi, dan engkol tangan manual. Dalam situasi normal, pengisian via listrik tentu paling cepat. Namun ketika listrik padam atau berada di lokasi tanpa akses daya, panel surya dan engkol menjadi cadangan yang bisa menyelamatkan komunikasi. Kapasitas 38.800 mAh diklaim cukup untuk mengisi ulang ponsel pintar enam hingga delapan kali, bahkan mampu menyalakan tablet atau laptop dalam kondisi mendesak.
Dari sisi ketahanan, bodi polikarbonat ringan—beratnya sekitar 9,5 ons atau 270 gram—dirancang untuk menghadapi kondisi kasar. Rating IPX7 berarti perangkat dapat terendam air tawar sedalam satu meter tanpa kerusakan internal, sementara klaim anti-debu dan tahan guncangan membuatnya cocok dibawa mendaki, berkemah, atau sekadar tersimpan di tas saat perjalanan jauh. Sebuah carabiner logam disertakan agar mudah dikaitkan ke sabuk atau ransel.
Fleksibilitas port juga menjadi nilai tambah: dua port USB standar dan satu USB-C dapat digunakan bersamaan untuk mengisi beberapa perangkat sekaligus. Lampu LED ganda di bodi tidak hanya berfungsi sebagai senter biasa, tetapi juga memiliki mode berkedip darurat dan strobo—fitur yang berguna saat terjadi bencana atau kondisi darurat lain. Salah satu pembeli di Amazon mengaku "tidak bisa meninggalkan rumah tanpa benda ini" dan memuji daya tahannya, seraya menambahkan bahwa perangkat otomatis mulai mengisi daya saat mendeteksi sinar matahari.
"Perangkat ini bekerja sangat baik dan otomatis mulai mengisi daya ketika mendeteksi sinar matahari," ujar seorang pelanggan Amazon, seperti dikutip dari ulasan produk.
Meski menawarkan fitur menarik, calon pembeli di Indonesia perlu mencermati beberapa hal. Pertama, harga US$18 belum termasuk biaya pengiriman internasional dan bea masuk, sehingga total biaya bisa lebih tinggi. Kedua, meski panel surya menjadi nilai jual, efisiensinya untuk mengisi penuh baterai 38.800 mAh tentu jauh lebih lambat dibanding pengisian via listrik—panel surya lebih tepat diposisikan sebagai penopang darurat, bukan sumber utama. Ketiga, pengguna perlu memastikan adaptor dan kabel yang digunakan sesuai dengan standar keamanan lokal.
Di sisi lain, kebutuhan power bank kapasitas besar di Indonesia cukup tinggi. Data Kementerian ESDM menunjukkan masih ada wilayah yang mengalami pemadaman bergilir, terutama di luar Jawa. Untuk aktivitas luar ruang seperti pendakian gunung, ekspedisi, atau kerja lapangan, perangkat dengan rating IPX7 dan engkol manual menjadi alternatif yang praktis. Namun, konsumen disarankan memeriksa ulasan dan reputasi penjual, serta memastikan produk memiliki sertifikasi keselamatan baterai yang memadai.
Ke depan, tren power bank surya makin relevan seiring meningkatnya perangkat elektronik portabel dan kesadaran akan energi terbarukan. Pertanyaannya, apakah produsen akan menghadirkan inovasi serupa dengan harga lebih terjangkau dan kualitas yang lebih terjamin untuk pasar Asia Tenggara? Konsumen tentu berharap demikian.



