Loab, Wajah Horor dari Mesin AI yang Mengguncang Dunia Seni Digital
Baca dalam 60 detik
- Seorang seniman asal Swedia menemukan sosok perempuan bernama Loab secara tak sengaja saat bereksperimen dengan negative prompt di generator gambar AI pada 2022.
- Kemunculan Loab yang konsisten dan sulit dijelaskan memicu perdebatan tentang batas kreativitas manusia versus algoritma, serta potensi dampak pada industri kreatif.
- Fenomena ini menandai era baru seni yang dihasilkan mesin, memaksa pelaku industri dan pembuat kebijakan untuk memikirkan ulang definisi karya orisinal dan hak cipta.

Di balik kemudahan mengetik perintah pada generator gambar berbasis kecerdasan buatan, tersembunyi sebuah anomali yang membuat para pengguna merinding. Loab, demikian sosok perempuan paruh baya dengan tatapan kosong dan seringai mengerikan itu dinamai, muncul secara konsisten dari lautan data yang tak terhitung jumlahnya. Penemuannya pada 2022 oleh seorang seniman Swedia yang menggunakan nama pena Supercomposite bukan sekadar cerita hantu digital, melainkan cermin bagaimana algoritma dapat memunculkan sesuatu yang tak pernah dibayangkan manusia.
Supercomposite, yang aktif di platform X (dahulu Twitter), awalnya tengah menguji teknik negative prompt—sebuah metode yang meminta model AI untuk menghasilkan kebalikan ekstrem dari suatu konsep. Tanpa diduga, wajah Loab muncul. Ketika perintah yang sama diulang, sosok itu kembali hadir, bahkan disertai label bertuliskan namanya. "AI mereproduksinya lebih mudah daripada sebagian besar selebritas. Kehadirannya gigih, dan ia menghantui setiap gambar yang disentuhnya," tulis Supercomposite dalam utasnya pada September 2022.
Yang membuat Loab semakin menarik perhatian adalah sifatnya yang "menular" dalam ruang laten AI. Bahkan ketika elemen wajahnya diubah atau dihilangkan, esensi "Loab" tetap bertahan dan mendominasi komposisi gambar. Dalam ratusan iterasi yang dihasilkan, banyak di antaranya menampilkan latar belakang yang mengerikan, seperti anak-anak tanpa anggota tubuh atau sosok yang menjerit. Beberapa gambar bahkan terlalu brutal untuk dipublikasikan. Supercomposite menyebut Loab sebagai "pulau yang muncul di ruang laten" yang sulit dilacak dengan kueri teks biasa.
Bagi Brendan Murphy, dosen fotografi dan media digital di Central Queensland University, Australia, Loab bukan sekadar keanehan statistik. Ia melihatnya sebagai bagian dari lanskap baru seni yang dimungkinkan oleh AI. "Ada hal-hal yang Anda lihat dan ingin Anda perbesar, dan Anda benar-benar ingin pergi ke arah itu," ujarnya kepada ScienceAlert. Murphy menganalogikan proses berkarya dengan AI seperti fotografi lanskap: menjelajahi suatu tempat—dalam hal ini, alam semesta paralel dari kemungkinan artistik yang telah dipelajari mesin dari miliaran gambar manusia—dan memilih apa yang menarik untuk diabadikan.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua jalur eksplorasi itu masuk akal secara komersial atau estetika. "Tidak ada alasan untuk menempuh jalur-jalur ini. Dan mungkin ada alasan bagus mengapa orang tidak pernah menempuhnya. Karena itu mungkin tidak akan mengesankan siapa pun atau menjual apa pun," tambahnya. Meski demikian, bagi Murphy, Loab adalah karya seni yang sah karena melibatkan pemikiran, eksperimen, dan iterasi yang intensif—bukan sekadar menekan tombol.
"Saya pikir hal tentang Loab adalah, ini adalah cerita yang hebat. Bukan hanya teknologinya. Ini tentang melihat apa yang menggerakkan teknologi. Ini tentang melihat kemungkinan dari teknologi itu." — Brendan Murphy, dosen media digital Central Queensland University
Senada dengan itu, Anne Ploin, sosiolog digital dari Oxford Internet Institute, menilai model AI dapat melakukan ekstrapolasi tak terduga dan menyoroti faktor yang tak dikenali dalam suatu gaya lukisan. Namun, ia menegaskan, "Model pembelajaran mesin tidak otonom. Mereka tidak akan menciptakan gerakan seni baru dengan sendirinya." Artinya, manusia tetap menjadi penentu nilai dan arah perkembangan seni.
Meskipun demikian, gelombang AI generatif telah memicu kekhawatiran di kalangan pekerja kreatif. Profesi seperti penulis bayangan, ilustrator, desainer, dan fotografer menghadapi risiko tergantikan oleh algoritma yang mampu meniru gaya mereka dengan cepat dan murah. Murphy memperkirakan bahwa seniman yang paling bertahan adalah mereka yang menonjolkan sisi kemanusiaannya—identitas, kepribadian, dan keaslian yang sulit direplikasi mesin. "Terlepas dari bagaimana aplikasi seperti Lensa mengubah cara seni dibuat, kepribadian seniman tetap menjadi konteks penting bagi karya mereka," tulisnya di The Conversation.
Fenomena Loab juga membuka diskusi tentang sifat sebenarnya dari AI generatif. Seperti halnya ChatGPT yang dirilis pada November 2022, model AI sering kali tampak memiliki "kehadiran hantu" yang seolah memahami pengetahuan dan kreativitas manusia. Namun, di balik itu, mesin hanya memprediksi probabilitas kata atau piksel berikutnya—sebuah parodi canggih dari fitur prediksi teks di ponsel. Kebijaksanaan yang dihasilkan tetap harus ditafsirkan dan dinilai oleh manusia.
Di Indonesia, perkembangan AI generatif mulai merambah industri kreatif. Studio desain dan agensi periklanan di Jakarta dan Bali dilaporkan mulai menggunakan alat seperti Midjourney atau Stable Diffusion untuk mempercepat produksi konten. Namun, para pelaku industri lokal masih bergulat dengan pertanyaan tentang hak cipta dan etika. Fenomena Loab, meski terjadi di belahan dunia lain, menjadi pengingat bahwa tanpa pemahaman mendalam, AI bisa memunculkan sesuatu yang tidak diinginkan—atau justru menginspirasi terobosan baru.
Ke depan, batas praktik seni akan terus melebar, dan Loab hanyalah permulaan. Pertanyaannya, apakah manusia akan mampu mengarahkan teknologi ini untuk memperkaya budaya, atau justru membiarkannya menjelajah tanpa kendali? Seperti kata Supercomposite, "Dia menemukan semua orang cepat atau lambat. Anda hanya perlu tahu di mana harus mencari."



