John Mellencamp Ramalkan Tuli Total Usai Tur, Soroti Epidemi Gangguan Pendengaran di Dunia Musik
Baca dalam 60 detik
- John Mellencamp memperkirakan pendengarannya akan hilang total setelah tur selesai, akibat tinnitus dan pulsatile tinnitus yang dideritanya.
- Penolakan memakai alat bantu dengar karena pesan neneknya menjadi sorotan, sementara Brian Johnson dari AC/DC juga mengalami gangguan serupa akibat flu.
- Kasus ini menyoroti risiko kesehatan pendengaran di industri musik dan perlunya kesadaran akan bahaya paparan suara keras sejak dini.

Legenda rock John Mellencamp, 75 tahun, mengungkapkan bahwa pendengarannya semakin memburuk dan ia memperkirakan akan sepenuhnya tuli setelah menyelesaikan tur. Dalam wawancara di podcast Nepo, Baby!, pelantun “Jack and Diane” itu mengaku menderita tinnitus dan pulsatile tinnitus—kondisi di mana penderitanya mendengar detak jantung sendiri. “Saya mungkin akan benar-benar tuli setelah tur ini selesai. Saya memakai penyumbat telinga, tapi saya tidak akan pernah memakai alat bantu dengar,” ujarnya.
Penolakan Mellencamp terhadap alat bantu dengar berakar pada nasihat neneknya. “Jangan pernah pakai alat bantu dengar karena sekali pakai, kamu tidak bisa hidup tanpanya. Kalau kamu pikir repot mencari kacamata, coba bayangkan mencari kacamata dan alat bantu dengar sekaligus,” kenangnya menirukan sang nenek. Ia juga mengaku enggan makan di restoran karena tidak bisa mendengar percakapan di tengah kebisingan. “Sekarang telinga saya berdenging keras, dan saya mendengar detak jantung saya. Saat masuk restoran, saya langsung ingin keluar karena tidak bisa mendengar apa pun,” tambahnya.
Meski demikian, Mellencamp menegaskan gangguan pendengaran tidak akan menghentikannya tampil. Ia baru saja menuntaskan tur Dancing Words Tour – The Greatest Hits yang terdiri dari 19 pertunjukan di Amerika Serikat, dimulai 10 Juli di Acrisure Amphitheater, Grand Rapids, Michigan, dan berakhir 12 Agustus di Shoreline Amphitheatre, Mountain View, California.
Kasus Mellencamp bukanlah yang pertama di kalangan musisi rock. Pada Juli lalu, vokalis AC/DC Brian Johnson (79) mengungkapkan bahwa gangguan pendengaran yang dialaminya bukan akibat pertunjukan keras, melainkan karena flu yang dideritanya saat tur 2016. Johnson kini menggunakan perangkat ADEL (Ambrose Diaphonic Ear Lens) yang dipasang pada monitor in-ear agar bisa tetap bernyanyi. “Kami berada di Winnipeg atau semacamnya, dingin dan basah, sementara kami berkeringat. Suhu sangat dingin, dan kami harus cepat naik pesawat. Setelah lepas landas, telinga saya terasa mengkristal, dan sisanya sangat tidak nyaman,” tuturnya kepada USA Today.
Gangguan pendengaran di kalangan musisi menyoroti risiko kesehatan yang sering terabaikan di industri hiburan. Paparan suara keras dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel rambut di koklea, yang berujung pada tuli. Meski demikian, banyak musisi enggan menggunakan alat bantu dengar karena stigma atau alasan psikologis, seperti yang dialami Mellencamp. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia, di mana musisi dan penikmat musik live sering kali terpapar suara di atas ambang aman tanpa perlindungan yang memadai. Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan pendengaran masih rendah, baik di kalangan artis maupun penonton.
Ke depan, industri musik mungkin perlu mempertimbangkan standar keselamatan pendengaran yang lebih ketat, termasuk penyediaan penyumbat telinga gratis di konser dan kampanye edukasi tentang bahaya tinnitus. Sementara itu, para penggemar setia Mellencamp tentu berharap sang idola tetap dapat tampil tanpa harus kehilangan pendengarannya sepenuhnya. Namun, dengan kondisi yang terus memburuk, akankah panggung musik kehilangan salah satu suara khasnya? Waktu yang akan menjawab, tetapi kesadaran akan kesehatan pendengaran tidak bisa lagi ditunda.



