Janji Trump Pangkas Harga BBM Berakhir di Pompa: Gasoline dan Diesel Cetak Rekor Jelang Pemilu
Baca dalam 60 detik
- Harga rata-rata bensin nasional AS menyentuh 4,20 dolar per galon dan diesel 6,32 dolar, tertinggi sepanjang sejarah hari pemilihan.
- Serangan terhadap Iran dan gangguan Selat Hormuz membalik proyeksi GasBuddy yang sebelumnya memperkirakan 2026 sebagai tahun termurah sejak 2020.
- Tekanan politik menjelang pemilu tengah periode memaksa Gedung Putih mengeluarkan relief 8 miliar dolar bagi petani dan izin solar off-road untuk truk.

Harga bahan bakar di Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi pada hari pemilihan, membalik janji kampanye Donald Trump yang menargetkan bensin di bawah 2 dolar per galon. Data GasBuddy menunjukkan rata-rata nasional bensin berada di 4,20 dolar per galon pada Jumat lalu, naik hampir 40 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sementara diesel—bahan bakar utama transportasi dan pertanian—melonjak sekitar 70 persen menjadi 6,32 dolar per galon.
Angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah hari pemilihan di AS, bahkan melampaui level 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina memicu krisis energi global. Patrick De Haan, kepala analisis petroleum GasBuddy, menegaskan bahwa harga sebesar ini belum pernah terjadi selama ia memantau pasar. "Harga tidak pernah setinggi ini selama ini di penghujung tahun," ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Pemicu utama lonjakan adalah keputusan Trump melancarkan serangan bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menyalurkan sebagian besar minyak dunia. Gangguan di kawasan itu diperparah oleh serangan pemberontak Houthi terhadap kilang minyak Arab Saudi dan serangan Ukraina ke fasilitas pengolahan Rusia. Alhasil, proyeksi awal GasBuddy bahwa 2026 akan menjadi tahun termurah bagi bensin sejak 2020 buyar total. "Trump menghalangi jalannya sendiri," kata De Haan.
Gedung Putih bersikeras harga bahan bakar masih lebih rendah secara riil dibandingkan beberapa hari pemilihan sebelumnya. Juru bicara Taylor Rogers menyatakan bahwa begitu konflik berakhir, harga bensin akan turun drastis dan rezim Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Namun, pernyataan itu tidak meredakan kekhawatiran pasar. Sebaliknya, pelaku pasar justru memperhitungkan risiko eskalasi baru setelah pemilu usai, terlihat dari kenaikan harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate yang masing-masing melonjak 13 persen dan 15 persen sepanjang Oktober.
Dampak politiknya langsung terasa. Partai Republik mendesak Trump bertindak sebelum pemungutan suara, terutama karena mahalnya diesel memukul negara bagian pertanian seperti Iowa yang selama ini menjadi basis suara loyal. Pemilihan Senat di Iowa pun kian kompetitif. Trump sempat mempertimbangkan larangan ekspor diesel setelah Senator Chuck Grassley melobi untuk membantu petani, tetapi urung dilakukan karena berpotensi menaikkan harga bensin. Sebagai gantinya, ia menerbitkan perintah eksekutif yang mengizinkan pengemudi truk memakai diesel off-road bebas pajak di jalan raya, serta mengumumkan program bantuan 8 miliar dolar bagi petani.
"Diesel adalah titik krusial di sini karena sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi," kata CEO ExxonMobil Darren Woods kepada CNBC, Jumat lalu.
Langkah kontroversial lain adalah kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengekspor sekitar 6 juta barel diesel ke pasar global hingga November. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan sejumlah senator Republik mengecam kesepakatan itu karena dianggap memberi imbalan atas agresi Rusia. Analis energi menilai volume diesel dalam kesepakatan tersebut terlalu kecil dibandingkan permintaan global sehingga tidak akan berdampak signifikan terhadap harga.
Di sisi korporasi, gangguan pasokan justru mendatangkan berkah. ExxonMobil membukukan laba besar berkat lonjakan harga, sementara maskapai penerbangan menaikkan tarif untuk menutup biaya avtur yang menjadi pengeluaran terbesar kedua setelah tenaga kerja. Kenaikan tarif itu pada gilirannya mempersulit upaya pemerintah menahan inflasi.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi peringatan dini. Sebagai importir minyak bersih, Indonesia rentan terhadap gejolak harga minyak mentah dan produk kilang. Setiap kenaikan harga global berpotensi menekan subsidi energi dan anggaran negara, serta memperlebar defisit neraca perdagangan migas. Pemerintah perlu mengantisipasi skenario harga minyak tetap tinggi hingga akhir tahun, termasuk dampaknya terhadap inflasi pangan dan transportasi domestik.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada apakah ketegangan di Timur Tengah akan mereda setelah pemilu. De Haan mengingatkan bahwa eskalasi baru dapat mendorong harga naik lagi menjelang Thanksgiving, periode ketika warga Amerika bepergian dalam jumlah besar. Jika konflik tidak kunjung usai, janji energi murah Trump akan semakin sulit dipertahankan—dan itu bisa menjadi beban politik tersendiri bagi Partai Republik.



