Retatrutide, Obat Triple Agonis Pertama yang Terbukti Tekan Sleep Apnea hingga 50%
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis fase 3 menunjukkan retatrutide menurunkan indeks apnea-hipopnea secara signifikan pada pasien sleep apnea dengan obesitas, baik dengan maupun tanpa diabetes tipe 2.
- Efek terapi tampaknya berasal dari penurunan berat badan, bukan mekanisme langsung pada kontrol pernapasan, sehingga posisinya sebagai alternatif CPAP masih perlu pembuktian independen.
- Dengan prevalensi obesitas yang meningkat, hasil ini membuka jalan bagi pendekatan farmakologis terhadap sleep apnea, meski status regulasi dan harga masih menjadi penentu utama.

Hasil dua uji klinis fase 3 yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine menempatkan retatrutide sebagai kandidat terapi pertama yang secara konsisten memperbaiki gejala obstructive sleep apnea (OSA) pada pasien dengan obesitas, termasuk mereka yang menyandang diabetes tipe 2. Pada akhir studi 80 minggu, hampir separuh peserta hanya mengalami sleep apnea ringan—sebuah pergeseran yang oleh para peneliti disebut sebagai bukti konsep bahwa obat penurun berat badan dapat menyentuh akar masalah, bukan sekadar gejala.
OSA terjadi ketika saluran napas bagian atas berulang kali menyempit atau menutup saat tidur, memicu jeda napas yang menurunkan saturasi oksigen dan mengganggu kualitas istirahat. Di Amerika Serikat, kondisi ini diperkirakan menjangkiti hingga sepertiga populasi dewasa, dengan sebagian besar kasus tidak terdiagnosis. Karena obesitas merupakan faktor risiko utama, meningkatnya angka obesitas global otomatis memperbesar beban OSA—dan biaya sosialnya, mulai dari kecelakaan lalu lintas akibat kantuk hingga komplikasi kardiovaskular dan demensia.
Selama ini, terapi standar OSA adalah continuous positive airway pressure (CPAP), mesin yang meniupkan udara melalui masker untuk menjaga saluran napas tetap terbuka. Alat ini efektif, tetapi kepatuhan pasien sering rendah karena tidak nyaman. Retatrutide menawarkan jalur berbeda: injeksi mingguan yang bekerja pada tiga reseptor hormon—GLP-1, GIP, dan glukagon—sehingga dijuluki agonis reseptor hormon rangkap tiga. Obat ini belum mendapat izin edar dari FDA maupun otoritas lain karena masih dalam pengujian fase 3.
Ron Grunstein, profesor kedokteran tidur dari Woolcock Institute of Medical Research, Australia, yang memimpin publikasi tersebut, menilai temuan ini penting karena banyak pasien OSA derajat sedang hingga berat mencari alternatif selain CPAP. Ia menekankan bahwa retatrutide memberikan manfaat tambahan berupa perbaikan sindrom metabolik—sesuatu yang tidak ditawarkan CPAP. “Penurunan berat badannya substansial dan respons pasien umumnya positif,” ujarnya, seperti dikutip Medical News Today.
Namun, Mir Ali, ahli bedah bariatrik dari MemorialCare Surgical Weight Loss Center, California, mengingatkan bahwa perbaikan OSA akibat penurunan berat badan sudah lama diketahui, terlepas dari metodenya. “Untuk dianggap sebagai alternatif terapi mapan, studi harus membuktikan bahwa obat ini memperbaiki OSA secara independen dari penurunan berat badan,” katanya. Grunstein sendiri mengakui tidak ada bukti bahwa retatrutide bekerja langsung pada kontrol pernapasan; perbaikan yang teramati kemungkinan besar merupakan konsekuensi dari berkurangnya massa lemak, terutama di area leher dan perut yang menekan saluran napas.
Yang membedakan retatrutide dari pendahulunya—semaglutide (Ozempic/Wegovy) dan tirzepatide (Mounjaro/Zepbound)—adalah kemampuannya mengaktifkan reseptor glukagon. Kombinasi ini tidak hanya menekan nafsu makan tetapi juga meningkatkan pengeluaran energi dan memperbaiki profil metabolik. Dalam studi, banyak partisipan dengan diabetes tipe 2 berubah status menjadi prediabetes, bahkan sebagian kembali ke kadar gula darah normal. Efek ini dapat memperluas pasar obat dari sekadar penurun berat badan menjadi terapi komprehensif untuk penyakit kardiometabolik.
Bagi Indonesia, implikasi temuan ini relevan mengingat prevalensi obesitas dan diabetes tipe 2 yang terus naik, sementara akses ke CPAP masih terbatas karena biaya dan ketersediaan layanan tidur di fasilitas kesehatan. Jika retatrutide kelak disetujui, harga akan menjadi penentu utama. Grunstein menyebut bahwa penggunaan di masa depan sangat bergantung pada harga dan ketersediaan. Di sisi lain, regulator seperti BPOM perlu menyiapkan kerangka evaluasi untuk kelas obat agonis hormon yang terus berkembang, termasuk persyaratan uji klinis lokal dan pengawasan efek samping jangka panjang.
Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah obat obesitas dapat membantu sleep apnea, melainkan seberapa besar manfaat independennya dan siapa yang akan mendapat akses. Uji lanjutan yang memisahkan efek penurunan berat badan dari mekanisme lain akan menjadi kunci. Sementara itu, para klinisi di seluruh dunia mulai mempertimbangkan pendekatan kombinasi: CPAP untuk menjaga jalan napas saat tidur, ditambah terapi farmakologis untuk memperbaiki metabolisme dan menurunkan berat badan. Apakah retatrutide akan menjadi standar baru atau pelengkap, waktu dan data jangka panjang yang akan menjawab.



