Studi London: Taman Depan Hijau Turunkan Polusi Udara hingga 80%, Tapi Ada Tekanan Paving
Baca dalam 60 detik
- Riset lapangan setahun di London menemukan taman depan bervegetasi lebat menurunkan partikel polusi hingga 80% dibanding taman berpaving.
- Taman berpaving juga tercatat lebih panas hingga 6°C pada musim panas, memperparah risiko suhu ekstrem di kawasan perkotaan.
- Para ilmuwan mendesak insentif dan panduan desain agar kebutuhan parkir tetap terpenuhi tanpa mengorbankan vegetasi.

Keberadaan taman depan di kawasan perkotaan bukan sekadar soal estetika. Sebuah studi lapangan selama setahun di dua lingkungan London menemukan bahwa taman dengan pagar hidup (hedge) dan tanaman lebat mampu menekan tingkat partikel polusi hingga 80% lebih rendah dibanding taman yang permukaannya dipaving. Temuan ini menjadi sinyal bahwa ruang hijau privat di depan rumah dapat berfungsi sebagai benteng pertama melawan udara kotor.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr Karina Corada-Pérez dari University of East London dan dikoordinasikan oleh Prof Prashant Kumar dari University of Surrey itu mengukur kualitas udara di delapan taman yang berdekatan dengan jalan ramai. Satu kelompok taman berjarak sekitar 10 meter dari North Circular Road, sementara kelompok lain berjarak sekitar 15 meter dari jalan padat di London timur. Hasilnya konsisten: vegetasi yang rapat menciptakan penghalang alami yang mengubah aliran polutan.
Yang membedakan studi ini adalah penekanannya pada taman depan, area yang sering luput dari perhatian kebijakan tata kota. Di Greater London, taman rumah tangga menutupi 41% wilayah kota—jauh lebih tinggi dibanding Cardiff (27%) dan Edinburgh (23%). Artinya, keputusan individual pemilik rumah untuk memaving halaman atau menanam pagar hidup memiliki dampak kumulatif yang signifikan terhadap kualitas udara dan iklim mikro kota.
Mekanisme kerjanya bersifat fisik dan biologis. Pagar hidup, semak, dan pohon dapat memperlambat laju angin yang membawa polutan dari jalan, sementara daun-daun menangkap partikel padat dan menyerap gas melalui pori-pori daun. Namun, manfaat ini tidak seragam sepanjang tahun. Pada musim semi, ketika polusi dari aktivitas pertanian menyebar luas, taman-taman tersebut kurang efektif melindungi rumah dari paparan partikel yang datang dari jarak jauh.
Selain kualitas udara, suhu permukaan menjadi sorotan. Taman yang dipaving mencatat suhu tertinggi dan tingkat polusi tertinggi. Pada musim panas, suhunya bisa mencapai 6°C lebih panas daripada taman yang rimbun. Prof Kumar menegaskan bahwa efek pendinginan ini sangat jelas, terutama pada malam hari yang panas—kondisi yang makin sering terjadi di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, jika polusi udara di luar rumah berkurang, maka kecil kemungkinan polutan masuk ke dalam ruangan.
“Pesan kami sederhana: pertahankan taman tetap hijau sebisa mungkin. Tekanan untuk memaving taman depan sangat nyata. Kami memahami alasan warga, termasuk kebutuhan akan ruang perawatan rendah atau parkir di luar jalan,” ujar Corada-Pérez.
Tekanan untuk mengubah taman menjadi area parkir atau permukaan keras memang bukan hal baru, terutama di kota-kota padat. Namun, studi ini menunjukkan bahwa kebutuhan praktis rumah tangga tidak harus bertabrakan dengan manfaat lingkungan. Corada-Pérez menyebut ada peluang jelas untuk merancang taman depan yang tetap memenuhi kebutuhan parkir, aksesibilitas, dan perawatan rendah, sembari mempertahankan vegetasi. Ia mendorong adanya panduan dan insentif yang menyeimbangkan kepentingan tersebut dengan manfaat kesehatan, iklim, dan lingkungan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan dengan dinamika perkotaan di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, di mana alih fungsi halaman menjadi area parkir atau beton semakin masif. Kualitas udara di sejumlah kota besar Indonesia kerap berada di level tidak sehat, dan ruang terbuka hijau privat memiliki potensi sebagai penyangga mikro yang murah dan terdesentralisasi. Kebijakan tata ruang yang memberi insentif pada halaman hijau—misalnya keringanan pajak bumi dan bangunan atau panduan desain taman depan—bisa menjadi langkah awal yang konkret.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah vegetasi bermanfaat, melainkan bagaimana kota mendorong warganya mempertahankannya di tengah tekanan pembangunan. Tanpa insentif yang jelas, taman berpaving akan terus menjadi pilihan rasional bagi banyak rumah tangga—dan kota akan kehilangan salah satu pertahanan termurahnya terhadap polusi dan panas.



