Bobotoh Disabilitas dari Aceh Lukis Wajah Pemain dan Pelatih Persib, Igor Tolic Terkesan
Baca dalam 60 detik
- Khairil Fikri, penyandang disabilitas asal Aceh, menyerahkan lukisan kepada Adam Alis, Marc Klok, Beckham Putra, dan pelatih Igor Tolic di sesi latihan Persib.
- Karya seni itu dibuat sebagai suntikan moral di tengah padatnya jadwal Maung Bandung di liga dan kompetisi Asia.
- Fikri yang juga atlet boccia mendedikasikan 4โ5 jam per lukisan, sementara potret Tolic butuh sehari penuh.

Seorang bobotoh asal Aceh, Khairil Fikri, mengejutkan sesi latihan Persib Bandung di Lapangan Pendamping Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Jumat (30/10/2026). Pria penyandang disabilitas itu datang membawa sejumlah lukisan dan menyerahkannya langsung kepada tiga pemain serta pelatih kepala Igor Tolic. Aksi tersebut menjadi pemandangan langka di tengah rutinitas taktik tim.
Lukisan yang diserahkan bukan sekadar suvenir. Fikri membuat potret aksi Adam Alis, Marc Klok, dan Beckham Putra Nugraha, plus satu karya khusus wajah Tolic. Menurut Fikri, karya itu dimaksudkan sebagai suplai semangat bagi skuad Maung Bandung yang sedang menjalani kalender padat di BRI Liga 1 dan kompetisi Asia. Ia menilai dukungan moral dari tribun maupun luar lapangan tetap relevan ketika tim menghadapi tekanan jadwal.
"Saya membuat lukisan ini untuk memberikan suntikan semangat kepada para pemain. Persib punya jadwal sangat padat, baik di liga maupun di Asia," ujar Fikri.
Respons datang dari Tolic. Pelatih asal Kroasia itu disebut menyambut hangat karya bergambar wajahnya dan langsung menerimanya dengan antusias. Momen tersebut memperlihatkan sisi lain relasi pelatih-pendukung di sepak bola Indonesia, yang kerap hanya terlihat lewat kritik di media sosial.
Di balik sosoknya sebagai bobotoh, Fikri adalah atlet boccia. Cabang olahraga paralimpiade itu menuntut presisi dan konsentrasi tinggi, mirip dengan proses melukis. Ia mengaku tetap menyempatkan diri mengembangkan kreativitas di sela latihan. Kombinasi disiplin atlet dan sensitivitas seni itulah yang membuat karyanya berbeda dari cendera mata biasa.
Proses kreatif Fikri juga menarik dicermati. Untuk satu karakter, ia butuh empat sampai lima jam. Sementara lukisan Tolic yang berukuran lebih besar menuntut satu hari penuh. Tekniknya manual di atas kanvas, tetapi memanfaatkan tinta printer dan pena digital lewat bantuan komputer. Pendekatan hibrida ini menunjukkan bahwa karya seni pendukung sepak bola tidak harus mahal atau diproduksi massal.
Dalam konteks Indonesia, figura bobotoh sering dilekatkan pada euforia tribun dan keramaian stadion. Kisah Fikri memberi wajah lain: dukungan yang tenang, personal, dan dikerjakan dengan keterbatasan. Persib sendiri memiliki basis pendukung besar yang tersebar di berbagai provinsi, termasuk Aceh. Loyalitas jarak jauh semacam ini menjadi modal sosial bagi klub di tengah kompetisi yang menuntut stabilitas performa.
Bagi Persib, gestur kecil ini bisa menjadi cermin bagaimana klub mengelola hubungan dengan komunitas disabilitas. Sepak bola Indonesia masih jarang menyorot kontribusi nyata penyandang disabilitas di luar konteks charity. Padahal, keterlibatan mereka dapat memperkuat ekosistem suporter yang lebih inklusif, terutama ketika klub menghadapi periode sulit.
Ke depan, apakah manajemen Persib akan menjadikan karya Fikri bagian dari program resmi suporter, misalnya lelang amal atau pameran di stadion? Atau momen ini berhenti sebagai cerita hangat sesaat? Jawabannya akan menentukan sejauh mana klub menghargai loyalitas yang datang dari jarak jauh dan keterbatasan.



