Bissouma, Bom Waktu Finansial Tottenham: £51 Juta Menguap Tanpa Sisa
Baca dalam 60 detik
- Tottenham merogoh kocek total £51 juta untuk Yves Bissouma, namun sang gelandang hengkang gratis tanpa mendatangkan sepeser pun.
- Dengan 111 penampilan, biaya efektif per laga Bissouma mencapai £450 ribu—jauh melampaui kontribusi nyata di lapangan.
- Kegagalan ini menjadi cermin buruknya strategi transfer Spurs dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kasus Richarlison yang bernasib serupa.

Keputusan Tottenham Hotspur melepas Yves Bissouma secara gratis pada bursa transfer lalu bukan sekadar kehilangan satu pemain. Itu adalah penutup dari salah satu transaksi paling merugikan dalam sejarah klub modern: total £51 juta menguap tanpa jejak, tanpa trofi, dan tanpa nilai jual kembali.
Bissouma tiba dari Brighton & Hove Albion pada musim panas 2022 dengan banderol £30 juta. Publik North London saat itu dibuat percaya bahwa gelandang Mali tersebut akan menjadi jangkar lini tengah untuk era baru. Nyatanya, empat tahun kemudian, ia pergi tanpa biaya transfer, meninggalkan lubang finansial yang dalam.
Yang membuat kesepakatan ini begitu pahit bukan hanya angka transfernya. Selama empat musim, Bissouma mengantongi upah sekitar £21 juta. Jika ditotal, klub telah mengeluarkan £51 juta untuk seorang pemain yang hanya tampil 111 kali di semua kompetisi—dan hanya 11 penampilan di musim terakhirnya. Artinya, setiap kali Bissouma mengenakan jersey Spurs, klub membayar sekitar £450 ribu. Sebuah pemborosan yang sulit dibenarkan untuk gelandang bertahan yang jarang menjadi pilihan utama di akhir masa baktinya.
Kasus Bissouma bukan insiden tunggal. Tottenham dalam beberapa tahun terakhir kerap terjebak dalam pola rekrutmen mahal yang berujung sia-sia. Richarlison, yang didatangkan seharga £50 juta pada 2022, juga gagal memenuhi ekspektasi. Meski sempat menjadi pelapis Harry Kane, torehan 32 gol dalam 134 penampilan tidak sepadan dengan investasi. Bahkan, pelatih Roberto De Zerbi dikabarkan telah menyingkirkan Richarlison dari skuad Premier League dan memindahkannya ke tim U21—sebuah sinyal bahwa era pemain mahal tanpa hasil mulai berakhir.
Kegagalan Bissouma dan Richarlison menunjukkan kelemahan mendasar dalam strategi transfer Spurs: terlalu fokus pada potensi jangka pendek tanpa mempertimbangkan faktor adaptasi, konsistensi, dan nilai jual kembali. Bissouma, yang sering terlibat kontroversi di luar lapangan dan akrab dengan cedera, seharusnya menjadi peringatan bagi manajemen. Namun, dengan belanja lebih dari £250 juta pada bursa transfer musim panas lalu di bawah De Zerbi, risiko mengulang kesalahan yang sama tetap terbuka lebar.
“Bissouma memang tidak pernah cocok dengan ekspektasi, tetapi cara klub melepasnya secara gratis adalah puncak dari serangkaian keputusan buruk,” ujar seorang pengamat transfer yang enggan disebut namanya.
Bagi Tottenham, pelajaran dari saga Bissouma seharusnya lebih dari sekadar evaluasi individu. Klub perlu membenahi sistem scouting dan negosiasi kontrak agar tidak lagi membayar mahal untuk pemain yang tidak memiliki rencana jangka panjang. Di tengah persaingan Premier League yang semakin ketat secara finansial, setiap pound yang terbuang bisa menjadi selisih antara finis di empat besar dan tertinggal di papan tengah.
Ke depan, akankah manajemen Spurs belajar dari kesalahan ini, atau justru mengulanginya dengan wajah baru di jendela transfer berikutnya? Jawabannya akan terlihat dari bagaimana mereka mengelola sisa investasi besar musim panas lalu—dan apakah Richarlison menjadi korban berikutnya.



