Baihakki Khaizan Buka Suara soal Tekel yang Patahkan Kaki Boaz Solossa: Saya Dengar Bunyi 'Krek'
Baca dalam 60 detik
- Baihakki Khaizan menegaskan tekelnya terhadap Boaz Solossa di final Piala AFF 2004 murni kecelakaan, bukan kesengajaan.
- Cedera Boaz di leg pertama menjadi titik balik yang membuat Indonesia kehilangan daya gedor dan takluk 2-5 dari Singapura.
- Klarifikasi ini menutup luka lama sekaligus mengingatkan betapa rapuhnya perlindungan pemain muda di sepak bola Asia Tenggara.

Bek kanan Singapura saat itu, Baihakki Khaizan, akhirnya angkat bicara soal tekel yang mematahkan pergelangan kaki Boaz Solossa pada leg pertama final Piala AFF 2004 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 8 Januari 2005. Dua dekade lebih berlalu, insiden itu masih dikenang sebagai salah satu momen paling menyakitkan dalam sejarah Timnas Indonesia—dan Baihakki memilih mengklarifikasi daripada membiarkan cerita itu terus berputar tanpa konteks.
Dalam wawancara dengan Sport77, Baihakki mengaku tidak keberatan namanya terus disebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas cedera parah Boaz. Baginya, klarifikasi adalah cara untuk meluruskan bahwa insiden tersebut terjadi dalam dinamika pertandingan, bukan karena niat jahat. “Sudah 22 tahun, tapi tidak masalah. Saya justru ingin memberi penjelasan,” ujarnya.
Menurut Baihakki, timnya saat itu memang menaruh perhatian ekstra terhadap Boaz yang baru berusia 17 tahun. Performa Boaz di sepanjang turnamen membuatnya masuk daftar pemain yang harus diawasi ketat. “Kami semua tahu apa yang bisa dia lakukan. Dia ada di papan sebagai player to watch,” kata Baihakki. Ia juga mengingat posisinya kala itu sebagai bek kanan yang berhadapan langsung dengan Boaz di sisi kiri, sementara usianya sendiri baru 19 tahun.
Baihakki menggambarkan detik-detik tekel tersebut tanpa tendensi menyakiti. Ia melihat bola dalam jangkauan, bereaksi spontan, lalu mendengar bunyi “krek” yang membuatnya sadar ada sesuatu yang tidak beres. “Saya dengar seperti menginjak sesuatu. Itulah sepak bola, saya tidak pernah berniat mencederai,” tegasnya. Ia juga menyebut sudah bertemu Boaz dan berjabat tangan, serta tidak ada dendam di antara keduanya.
“Kami sudah salaman, sudah biasa saja. Tidak ada masalah pribadi,” kata Baihakki, seperti dikutip Sport77.
Bagi Indonesia, cedera Boaz bukan sekadar kehilangan satu pemain. Tim asuhan Peter Withe kehilangan ujung tombak yang sedang on fire, dan lini depan Garuda kehilangan daya ledak. Kekalahan 2-5 dari Singapura di final dua leg menjadi pukulan telak, terlebih karena leg pertama dimainkan di hadapan pendukung sendiri. Boaz kemudian menjelma menjadi legenda hidup Persipura Jayapura dan Timnas, tetapi bayang-bayang cedera itu tetap menjadi catatan kelam dalam perjalanan kariernya.
Klarifikasi Baihakki juga menyentuh isu yang lebih luas: perlindungan terhadap pemain muda di sepak bola Asia Tenggara. Boaz hanyalah satu dari sekian banyak talenta belia yang harus menerima tekel keras sebelum tubuh mereka benar-benar matang. Hingga kini, wasit dan federasi di kawasan ini masih menghadapi kritik soal konsistensi hukuman terhadap pelanggaran berbahaya. Insiden 2005 menjadi pengingat bahwa satu tekel bisa mengubah arah karier, bahkan sejarah sebuah tim.
Dua dekade berselang, Baihakki telah pensiun dan Boaz masih dikenang sebagai salah satu penyerang terbaik Indonesia. Keduanya memilih berdamai dengan masa lalu. Namun, pertanyaan yang tersisa bukan tentang siapa yang bersalah, melainkan bagaimana sepak bola Indonesia dan Asia Tenggara bisa memastikan generasi Boaz berikutnya tidak harus kehilangan momen terbaiknya karena tekel yang seharusnya bisa dicegah.



