Ronaldo Ungguli Messi di Ballon d'Or of All Time, Sorotan Baru Rivalitas Abadi
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo memenangi penghargaan simbolis Ballon d'Or of All Time melalui voting penggemar global, mengalahkan Lionel Messi.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Ronaldo-Messi selama lebih dari satu dekade dan memicu perdebatan baru di kalangan penggemar.
- Ronaldo tetap fokus bersama Al Nassr sambil mengejar target 1.000 gol sebelum pensiun.

Cristiano Ronaldo kembali menambah koleksi trofi individualnya. Dalam pemungutan suara publik yang digelar untuk memperingati 70 tahun Ballon d'Or, megabintang Portugal itu dinobatkan sebagai peraih Ballon d'Or of All Time, mengalahkan rival abadinya Lionel Messi. Penghargaan ini bukan sekadar simbolis, melainkan cerminan bagaimana publik sepak bola menilai warisan panjang kedua pemain.
Voting yang melibatkan penggemar dari berbagai belahan dunia ini memberikan bobot khusus pada momen ikonik masing-masing finalis. Ronaldo unggul berkat performa gemilangnya pada 2008 bersama Manchester United, ketika ia mengantar Setan Merah meraih gelar Premier League dan Liga Champions dalam satu musim. Sementara Messi, yang memenangi Ballon d'Or 2012, harus rela posisinya di bawah Ronaldo dalam jajak pendapat kali ini.
Bagi Ronaldo, penghargaan ini menjadi pengakuan atas konsistensinya di level tertinggi selama lebih dari dua dekade. Sejak debut bersama Portugal pada 2003, ia telah mengumpulkan 146 gol internasional dan terus menjadi tumpuan utama tim nasional. Meski usianya kini menginjak 41 tahun, ambisinya belum surut. Ia masih aktif bersama Al Nassr di Liga Arab Saudi dan bertekad menambah koleksi trofi klub.
"Sepak bola adalah milik para penggemar! Terima kasih kepada seluruh penggemar di seluruh dunia. Ballon d'Or of All Time ini juga milik kalian," tulis Ronaldo di media sosial, seperti dikutip Goal International.
Kemenangan ini sontak memantik kembali perdebatan klasik di kalangan pencinta sepak bola: siapa yang lebih hebat antara Ronaldo dan Messi? Keduanya telah mendominasi panggung Ballon d'Or selama lebih dari satu dekade, menciptakan rivalitas individual paling ikonik dalam sejarah olahraga. Namun, penghargaan berbasis voting penggemar ini menambah dimensi baru: bukan hanya soal kualitas teknis, tetapi juga popularitas dan warisan yang ditinggalkan.
Di Indonesia, rivalitas Ronaldo-Messi telah lama menjadi fenomena budaya. Diskusi tentang keduanya kerap memenuhi media sosial, forum bola, hingga obrolan sehari-hari. Penghargaan ini diprediksi akan memperpanjang perdebatan tersebut, terutama di kalangan penggemar fanatik kedua kubu. Bagi penggemar Ronaldo, gelar ini menjadi pembuktian bahwa kerja keras dan dedikasi panjangnya diakui secara global. Sementara penggemar Messi mungkin menilai penghargaan ini tidak mengubah fakta bahwa Messi telah memenangi Piala Dunia, trofi yang belum diraih Ronaldo.
Terlepas dari pro-kontra, Ballon d'Or of All Time menegaskan posisi Ronaldo sebagai salah satu ikon terbesar sepak bola modern. Setelah menerima penghargaan, ia langsung mengalihkan fokus ke Al Nassr. Klub asal Riyadh itu masih berkompetisi di liga domestik dan Piala Raja, di mana Ronaldo diharapkan menjadi ujung tombak. Target pribadinya pun jelas: menembus 1.000 gol sebelum pensiun, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih pemain mana pun.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah penghargaan simbolis semacam ini akan memengaruhi cara publik menilai warisan pemain. Seiring bertambahnya usia, Ronaldo mungkin tidak lagi bersaing di level tertinggi Eropa, tetapi pengaruhnya terhadap sepak bola tetap kuat. Sementara Messi, yang kini membela Inter Miami, masih aktif di lapangan. Akankah rivalitas ini berlanjut hingga keduanya benar-benar pensiun, atau justru melahirkan generasi baru yang menantang hegemoni mereka? Waktu yang akan menjawab, tetapi untuk saat ini, Ronaldo memiliki satu alasan lagi untuk tersenyum.



