Foto Bersama G20 Dibatalkan, Rubio Hadapi Boikot Eropa atas Kehadiran Lavrov
Baca dalam 60 detik
- Sesi foto bersama para menteri luar negeri G20 di Atlanta dibatalkan setelah sejumlah delegasi Eropa menolak tampil satu bingkai dengan Sergey Lavrov.
- Pembatalan itu memperlihatkan retakan solidaritas di dalam G20, sekaligus menyeret isu daftar undangan yang menyingkirkan Ukraina dan Afrika Selatan.
- KTT G20 di Miami pada Desember menjadi ujian berikutnya: apakah ketegangan ini mereka surut atau justru membekukan format multilateral yang sudah rapuh.

Pertemuan menteri luar negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat, berlangsung tanpa sesi foto bersama. Keputusan itu diambil setelah sejumlah pejabat Eropa mengancam meninggalkan ruangan ketimbang harus berpose satu bingkai dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Jumat (30/10).
Pembatalan tersebut menjadi sinyal paling gamblang bahwa solidaritas di dalam G20 tengah diuji. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang semestinya menjadi tuan rumah, memilih menyingkirkan agenda simbolis itu demi menjaga jalannya diskusi substantif. Ia menilai dunia sedang menghadapi krisis ekonomi dan politik yang saling terkait, mulai dari pasokan energi dan pangan, perdagangan, hingga kebebasan navigasi.
"Kita berada di titik kritis. Saya menyebutnya sebagai momen untuk menentukan pilihan," kata Rubio, seperti dikutip The National News Desk.
Tekanan datang terutama dari Eropa. Pemerintah Inggris menegaskan kebijakan jangka panjangnya untuk menolak pertemuan bilateral langsung dengan menteri Rusia sejak invasi Ukraina pada 2022. Menteri Luar Negeri Polandia Radosลaw menyebut pembatalan sesi foto sebagai "keputusan yang tepat." Sementara Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan, "tidak ada keadaan yang normal dengan Rusia," meski ia mengakui dialog tetap diperlukan untuk membahas perbedaan pandangan.
Yang lebih pelik, daftar undangan ikut menjadi sorotan. Ukraina, negara yang menjadi episentrum konflik dengan Rusia, tidak diundang dengan alasan bukan anggota resmi G20. Afrika Selatan, satu-satunya negara Afrika sekaligus pendiri kelompok ini, juga absen menyusul riwayat perselisihan dengan pemerintahan Trump. Pejabat Afrika Selatan menegaskan ketidakhadiran mereka bukan atas keinginan sendiri dan menyatakan siap kembali berpartisipasi saat Inggris mengambil alih keketuaan tahun depan.
Di luar polemik protokoler, agenda diskusi tetap menyoroti kebebasan navigasi di sejumlah perairan strategis: Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut China Selatan. Isu-isu itu penting bagi negara maritim seperti Indonesia, yang jalur perdagangannya bergantung pada stabilitas perairan tersebut. Ketegangan di Laut China Selatan, misalnya, kerap memicu kekhawatiran tentang keamanan pelayaran dan biaya logistik regional.
Bayang-bayang eskalasi militer di Timur Tengah juga mewarnai pertemuan. Menurut laporan Associated Press, pejabat AS memperingatkan sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regionalnya untuk bersiaga menghadapi kemungkinan lanjutan aksi militer AS terhadap Iran pascapemilu paruh waktu, serta potensi serangan balasan dari Teheran. Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar energi global, yang ujungnya bisa memengaruhi harga bahan bakar dan inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Pertemuan di Atlanta dirancang sebagai persiapan menuju KTT Pemimpin G20 di resor golf milik Trump di Miami pada Desember. Hingga kini, belum ada kepastian apakah Presiden Rusia Vladimir Putin akan hadir. Jika ia datang, tekanan untuk memboikot forum bisa kembali menguat. Jika tidak, G20 masih harus membuktikan bahwa format multilateral ini mampu menghasilkan kesepakatan, bukan sekadar panggung ketegangan.



