Peretasan Binance Picu Likuidasi Rp24 Triliun, Trader Kripto Panik
Baca dalam 60 detik
- Gelombang likuidasi senilai US$1,53 miliar menghantam pasar kripto setelah celah keamanan di Binance memicu aksi jual besar-besaran.
- Posisi long mendominasi kerugian hingga 83,8%, sementara Binance sendiri mencatat hampir separuh dari total likuidasi pasar.
- Rebound harga mulai menghukum posisi short, menciptakan tekanan dua arah yang memperumit prospek pemulihan.

Pasar aset kripto diguncang aksi jual masif pada Jumat pagi waktu Asia setelah Exchange Binance mengonfirmasi insiden keamanan yang berdampak pada sekitar US$6,3 miliar aset. Menurut data CoinGlass, total likuidasi di seluruh bursa kripto menembus US$1,53 miliar, dengan posisi long—taruhan bahwa harga akan naik—menyumbang 83,8% dari keseluruhan kerugian. Bitcoin sempat merosot ke level US$76.460 sebelum beringsut ke sekitar US$78.500, sementara ether diperdagangkan di kisaran US$2.240 setelah sempat jatuh di bawah US$2.200.
Kerugian terbesar terkonsentrasi dalam 12 jam terakhir, yang mencatat sekitar US$1,37 miliar likuidasi, termasuk US$1,23 miliar dari posisi long. Binance sendiri menanggung US$754,6 juta atau 49,2% dari total pasar, dengan US$670,6 juta di antaranya berasal dari long. Hyperliquid menyusul dengan US$251,4 juta dan Bybit US$186,5 juta. Likuidasi tunggal terbesar yang tercatat CoinGlass adalah posisi long bitcoin senilai US$11 juta di Binance.
Mekanisme likuidasi terjadi karena trader leverage hanya menyetor sebagian kecil dari nilai posisi sebagai jaminan. Ketika harga bergerak cukup jauh melawan posisi, bursa otomatis menutup perdagangan untuk mencegah kerugian lebih lanjut. Penutupan posisi long umumnya memicu order jual, yang justru menambah tekanan saat harga sedang turun. Sebaliknya, penutupan short memerlukan pembelian kembali aset, sehingga trader yang terlanjur bertaruh pada penurunan malah membantu mendorong harga naik saat mereka keluar.
Menariknya, rebound yang mulai terjadi justru melukai trader yang memasang posisi short. Dalam empat jam terakhir, posisi short menyumbang US$57,3 juta dari total US$85 juta likuidasi. Pada satu jam terakhir, angka itu mencapai US$20,6 juta dari US$21,6 juta, atau sekitar 95%. Fenomena ini menunjukkan pasar sedang berada dalam fase volatilitas tinggi yang menghukum kedua arah spekulasi.
"Kami akan menanggung seluruh kerugian nasabah dan untuk sementara menangguhkan deposit serta penarikan guna melakukan pemeriksaan keamanan menyeluruh," demikian pernyataan resmi Binance seperti dikutip dari sumber.
Bagi investor Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa risiko likuidasi berantai tidak mengenal batas negara. Meskipun Binance bukan exchange berizin resmi di Indonesia, banyak trader domestik yang mengakses platform global melalui VPN atau afiliasi. Regulator dalam negeri, Bappebti, telah berulang kali mengingatkan pentingnya bertransaksi di bursa kripto terdaftar seperti Indodax atau Pintu yang diawasi ketat. Namun, iming-iming leverage tinggi dan likuiditas besar di bursa global kerap membuat sebagian investor mengabaikan faktor keamanan.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada langkah pemulihan Binance dan dampaknya terhadap kepercayaan institusi. Standard Chartered sebelumnya memperkirakan tekanan jual masih berlanjut, terutama jika exchange besar lain ikut terkena imbas. Pertanyaannya, akankah insiden ini memicu eksodus modal ke bursa terdesentralisasi atau justru mendorong regulator global memperketat standar keamanan exchange terpusat? Yang jelas, trader leverage kini berada di garis depan badai yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.



