Brian Cox Akui Perlu Terapi Usai Perankan Pembunuh Berantai di Dexter: Resurrection
Baca dalam 60 detik
- Brian Cox mengaku perannya sebagai Don Framt, si New York Ripper, dalam Dexter: Resurrection menjadi pengalaman paling mengganggu sepanjang karier aktingnya.
- Aktor berusia 80 tahun itu bahkan merasa perlu menjalani terapi karena karakter tersebut terus menghantui pikirannya.
- Meski demikian, Cox menegaskan tak ada pendekatan method acting dalam prosesnya; ia hanya ingin segera menyelesaikan peran tersebut.

Brian Cox, aktor senior yang dikenal lewat perannya sebagai Logan Roy dalam serial Succession, mengungkap sisi gelap dari profesinya. Dalam wawancara terbaru dengan Entertainment Weekly, ia mengaku perannya sebagai Don Framt—seorang pembunuh berantai yang dijuluki New York Ripper—dalam serial Dexter: Resurrection meninggalkan bekas psikologis yang dalam. Cox bahkan menyebut dirinya mungkin memerlukan terapi untuk mengatasi dampak tersebut.
Peran sebagai antagonis bukan hal baru bagi Cox. Ia pernah memerankan Hannibal Lecter dalam film Manhunter (1986) dan Logan Roy yang manipulatif. Namun, menurutnya, karakter Don Framt berada di level yang berbeda. “Ini pengalaman paling aneh yang pernah saya alami sebagai aktor, karena saya memerankan seseorang yang benar-benar saya benci,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sosok itu seolah muncul dari dalam dirinya tanpa ia sadari, hingga membuatnya bergidik saat mengingatnya.
Dalam Dexter: Resurrection musim kedua yang mulai tayang pekan ini, Don Framt digambarkan sebagai pria lanjut usia yang lumpuh dan terkurung di kursi roda. Ia tak lagi bisa membunuh, tetapi tetap saja meneror keluarga para korbannya melalui telepon, mengungkit kembali luka lama. Cox menilai cara karakter itu menikmati penderitaan orang lain sebagai bentuk kepuasan yang menyimpang. “Dia tidak bisa membunuh lagi, jadi dia hanya menggoda orang. Seperti aktor yang sudah lama menganggur, menonton film lamanya, dan membanggakan masa jayanya,” katanya memberi analogi.
Yang membuat Cox semakin tidak nyaman adalah set apartemen Framt yang penuh dengan poster pesanan pembunuhan. Ia mengaku enggan memasuki ruangan itu kecuali saat syuting. “Sungguh menyedihkan. Saya tidak bisa masuk ke sana. Saat akting, saya harus masuk, tapi saya hanya berpikir, ‘Ini benar-benar mengerikan’,” tuturnya.
“Saya hanya berjalan masuk dan karakternya keluar begitu saja. Lalu saya berpikir, ‘Mungkin saya harus menjalani terapi’. Karena orang ini benar-benar mengerikan, saya sangat tidak menyukainya, tapi saya harus memerankannya dengan gembira.”
— Brian Cox, aktor
Meski demikian, Cox menegaskan bahwa ia tidak menggunakan metode akting mendalam. Baginya, kemunculan sosok Framt lebih seperti refleks yang tak terduga. Ia pun lega karena proses syuting telah selesai dan ia bisa meninggalkan karakter itu. “Saya tidak bisa hidup dengan itu selamanya, jadi saya senang bisa menyelesaikannya,” pungkasnya.
Kisah Cox ini bukan pertama kalinya aktor mengeluhkan dampak psikologis dari peran gelap. Sebelumnya, beberapa bintang Hollywood juga mengaku kesulitan melepaskan karakter antagonis setelah syuting berakhir. Namun, pengakuan Cox menjadi sorotan karena ia adalah aktor kawakan yang biasanya tampil kalem dan profesional. Publik pun menantikan bagaimana ia akan membawa pengalaman pahit ini dalam wawancara-wawancara berikutnya.
Dexter: Resurrection sendiri merupakan kelanjutan dari serial Dexter yang sempat menjadi fenomena pada 2006-2013. Musim kedua ini disebut akan menghadirkan lebih banyak intrik psikologis dengan melibatkan karakter-karakter lama. Bagi penggemar genre thriller, penampilan Cox sebagai Framt dijamin akan menjadi tontonan yang memikat sekaligus mengganggu. Pertanyaannya, seberapa jauh batas seorang aktor mengeksplorasi sisi gelap manusia tanpa kehilangan kewarasan? Jawabannya mungkin hanya bisa ditemukan setelah menonton serialnya.



