Armada Feri Listrik AS Mulai Beroperasi, Efisiensi Energi Jadi Kunci Transisi
Baca dalam 60 detik
- Operator feri di Amerika Serikat mulai beralih dari diesel ke tenaga baterai, didorong oleh target iklim dan perhitungan biaya jangka panjang.
- Desain hidrofoil diklaim memangkas hambatan air hingga 66%, memungkinkan baterai lebih ringkas dan biaya operasional lebih rendah.
- Transisi ini juga membuka peluang manufaktur domestik untuk kapal dan baterai, meski infrastruktur pengisian daya masih menjadi tantangan utama.

Di perairan Pelabuhan New York, sebuah kapal putih kecil melesat dan mengangkat lambungnya sekitar setengah meter di atas permukaan air. Pemandangan itu sontak menarik perhatian penumpang feri wisata di sekitarnya. Kapal tersebut adalah prototipe feri hidrofoil listrik buatan Vessev, perusahaan yang berbasis di Selandia Baru, yang tengah memperkenalkan teknologi transportasi air bebas emisi ke pasar Amerika Serikat.
Perubahan menuju feri listrik bukan sekadar soal mengganti mesin diesel dengan motor dan baterai. Bagi operator, keputusan itu menyangkut perhitungan jarak tempuh, kapasitas penumpang, waktu pengisian daya, dan bobot kapal. Baterai yang berat menjadi hambatan utama karena menambah energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan kapal. Di sinilah desain hidrofoil berperan: dengan mengangkat sebagian besar lambung keluar dari air, hambatan atau drag berkurang drastis. Vessev mengklaim teknologinya memangkas drag hingga 66%, sehingga kapal dapat membawa paket baterai lebih kecil dan biaya pun menurun.
"Kami sangat mengurangi hambatan yang Anda rasakan, dan itulah yang membuat elektrifikasi menjadi layak," ujar Eric Laakmann, CEO dan salah satu pendiri Vessev, seperti dikutip dari laporan The Guardian. Ia membayangkan masa depan di mana kapal listrik menjadi bagian rutin transportasi publik, bukan sekadar atraksi wisata. "Lebih seperti kereta bawah tanah, bus, Uber, atau taksi, tetapi di atas air," katanya.
Di San Francisco, operator feri terbesar kota itu mengangkut sekitar 3,5 juta penumpang per tahun. Menurut Seamus Murphy, yang memimpin lembaga tersebut, seluruh 18 kapal dalam armadanya masih berbahan bakar diesel. Namun dalam dua tahun ke depan, empat feri bertenaga baterai akan beroperasi sebagai bagian dari perombakan senilai sekitar setengah miliar dolar AS, termasuk pembangunan infrastruktur pengisian daya di dermaga. Langkah ini disebut akan menjadikan San Francisco operator feri pertama di AS yang mengoperasikan feri cepat bertenaga listrik penuh.
Transisi ini tidak hanya didorong oleh agenda lingkungan. Bagi operator, efisiensi desain dan kemajuan teknologi baterai membuka rute yang sebelumnya tidak layak secara ekonomi. Selain itu, biaya operasional berpotensi lebih rendah di tengah kenaikan harga bahan bakar. Murphy menegaskan bahwa investasi awal yang besar akan terbayar melalui penghematan bahan bakar dan perawatan dalam jangka panjang. "Anda mengeluarkan investasi di awal, lalu Anda berhemat seiring waktu, dan pada akhirnya biaya Anda lebih rendah dalam jangka panjang," ujarnya.
Namun, tantangan tetap ada. Baterai masih berat dan mahal, infrastruktur pengisian daya membutuhkan biaya besar, dan tidak semua rute cocok untuk kapal listrik penuh. Jarak tempuh yang panjang, jadwal yang ketat, serta terbatasnya kesempatan mengisi daya menjadi penghambat. San Francisco sendiri tidak akan langsung menggunakan kapal hidrofoil; operator memilih desain konvensional yang disesuaikan dengan kebutuhan rute dan jadwal yang padat.
Dampak ekonomi dari peralihan ini bisa melampaui sektor transportasi air. Untuk ekspansi di San Francisco, kapal dan baterainya diproduksi di dalam negeri Amerika Serikat. Murphy melihat ini sebagai peluang menciptakan lapangan kerja manufaktur dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok luar negeri. "Pekerjaan ini akan diciptakan di negara lain, dan kita punya kemampuan menciptakannya di sini jika kita mengelolanya dengan benar," katanya. "Kita tidak ingin tertinggal."
Di tingkat global, teknologi feri listrik terus berkembang. Stockholm telah melayani penumpang dengan feri hidrofoil listrik buatan Candela, sementara Norwegia memesan 20 unit untuk layanan pesisir. Vessev sendiri beroperasi di Selandia Baru, berekspansi ke Australia, dan merencanakan layanan pertama di AS di Lake Tahoe. Bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan ribuan rute feri antarpulau, transisi ini menawarkan pelajaran berharga: efisiensi energi dan perhitungan biaya jangka panjang menjadi kunci sebelum infrastruktur pengisian daya dan armada listrik dapat diadopsi secara luas. Pertanyaannya, akankah operator feri domestik mulai melirik teknologi serupa ketika biaya baterai terus menurun dan tekanan untuk mengurangi emisi semakin kuat?



