Persita Belum Terkalahkan di BRI Super League, Carlos Pena Racik Formula Anti Kalah
Baca dalam 60 detik
- Persita Tangerang menutup pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027 tanpa kekalahan berkat raihan tiga kemenangan dan tiga imbang.
- Racikan taktis Carlos Pena serta kontribusi pemain anyar menjadi kunci konsistensi Pendekar Cisadane musim ini.
- Target finis delapan besar kian terbuka, tetapi jadwal padat menuntut skuad menjaga intensitas di kandang maupun tandang.

Persita Tangerang menorehkan catatan impresif pada pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027: belum sekali pun menelan kekalahan. Dari enam laga yang sudah dijalani, Pendekar Cisadane mengemas tiga kemenangan dan tiga hasil imbang, mengoleksi 12 poin, dan bertengger di peringkat keenam klasemen sementara.
Rentetan hasil positif itu dimulai dari imbang 1-1 melawan PSIM Yogyakarta, lalu kemenangan 3-2 atas Java United FC, imbang 2-2 kontra PSM Makassar, menang 2-1 atas tim promosi Garudayaksa FC, mengalahkan Persija Jakarta 3-2, dan terakhir bermain 1-1 dengan Bali United. Konsistensi ini menjadi sinyal bahwa Persita bukan sekadar tim papan tengah yang kebetulan sedang beruntung.
Manajemen musim ini memasang target finis di delapan besar, atau dua strip lebih baik dari capaian musim lalu di posisi ke-10. Jika tren tak terkalahkan berlanjut, target tersebut bukan mustahil direalisasikan, bahkan berpeluang melampauinya. Namun, kompetisi masih panjang dan setiap pekan menghadirkan tantangan berbeda.
Sentuhan Carlos Pena menjadi sorotan utama di balik performa apik ini. Pelatih asal Spanyol itu berhasil meyakinkan para pemain untuk mengeluarkan kemampuan terbaik melalui filosofi dan strategi yang jelas. Ia juga luwes dalam memilih formasi, mulai dari 4-2-3-1, 4-3-3, hingga 4-4-2, disesuaikan dengan karakter lawan dan kebutuhan tim.
Keputusan merekrut sejumlah pemain anyar seperti Sutanto Tan, Luquinhas, Dion Markx, Wahyudi Hamisi, Alexandre Ramalingom, Pablo Ganet, Tyronne del Pino, dan Javlon Guseynov terbukti memberi kontribusi lebih. Kedalaman skuad di semua lini membuat Pena memiliki banyak opsi untuk meracik starting eleven yang tepat.
"Jika Persita tampil dalam kondisi seratus persen, kami akan menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan," kata Carlos Pena.
Meski demikian, Pena tak lantas berpuas diri. Ia terus mengingatkan anak asuhnya bahwa tidak ada pertandingan yang mudah. Dion Markx dan kawan-kawan dituntut selalu siap 100 persen kapan dan di mana pun bertanding. Pena juga tak segan mengoreksi kesalahan individual agar tidak terulang di laga berikutnya.
"Tim ini harus terus berkembang dan setiap minggu harus lebih baik," ujarnya menegaskan pentingnya evaluasi berkelanjutan.
Dukungan suporter juga menjadi faktor penting. Kehadiran fans setia di kandang memberikan energi tambahan bagi Persita. Namun, tantangan sebenarnya justru datang dari laga tandang, di mana konsistensi dan mentalitas tim diuji.
Sepanjang sejarah, Persita belum pernah merasakan gelar kasta tertinggi Indonesia. Pencapaian terbaik hanya sebagai runner-up Liga Indonesia 2002. Jika mampu menjaga performa, musim ini berpotensi menjadi musim bersejarah bagi tim kebanggaan warga Tangerang.
Pertanyaannya, mampukah Persita mempertahankan rekor tak terkalahkan hingga paruh musim, atau justru kejutan datang dari tim-tim papan atas yang mulai menemukan ritme permainan?



