Alphabet Anjlok 9%, Nasdaq Futures Melemah: Alarm Baru bagi Rally AI?
Baca dalam 60 detik
- Kinerja Alphabet kuartal III mengecewakan dengan laba per saham dan pendapatan di bawah ekspektasi, memicu aksi jual 9% pada sahamnya.
- Kontras dengan Microsoft yang melesat 3% berkat pertumbuhan Azure, menunjukkan selektivitas investor terhadap emiten AI.
- Pasar Asia-Pasifik dibuka mixed, sementara fokus beralih ke data PCE dan rilis laba Amazon serta Intel.

Indeks futures Nasdaq-100 merosot 1,2% pada perdagangan Rabu malam waktu New York, memicu kekhawatiran baru atas keberlanjutan reli sektor teknologi yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI). Pemicu utamanya adalah amblesnya saham Alphabet Inc. hingga 9% setelah laporan keuangan kuartal ketiga perusahaan induk Google itu mengecewakan pasar.
Alphabet melaporkan laba per saham (EPS) yang disesuaikan dan pendapatan di bawah konsensus analis. Lebih mengkhawatirkan lagi, perusahaan mencatat arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar, meskipun tetap mempertahankan proyeksi belanja modal tahunan di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar. Angka ini menjadi sinyal bahwa ekspansi besar-besaran di infrastruktur AI mulai menggerus profitabilitas jangka pendek.
Kontras tajam datang dari Microsoft. Raksasa perangkat lunak itu mencatat kenaikan 3% pada perdagangan after-hours setelah pendapatan dan labanya melampaui estimasi, ditopang pertumbuhan bisnis cloud Azure. Perbedaan respons pasar terhadap dua raksasa teknologi ini menggarisbawahi bahwa investor kini tidak lagi membeli narasi AI secara membabi buta, melainkan menuntut bukti monetisasi yang jelas.
Tekanan pada Alphabet juga merembet ke sektor semikonduktor. ETF iShares Semiconductor (SOXX) sempat melemah sepanjang Oktober sebelum rebound dalam beberapa hari terakhir. Namun, aksi jual Alphabet malam ini berpotensi membalikkan momentum tersebut. Sebelumnya, saham Micron Technology melonjak hampir 6% dan Broadcom naik lebih dari 2%, membantu S&P 500 mencatat kenaikan hari ketiga berturut-turut pada sesi reguler Rabu.
Di sisi kebijakan moneter, Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga acuan di rentang 3,75%โ4% pada Rabu. Keputusan ini sesuai ekspektasi pasar setelah The Fed menaikkan suku bunga seperempat poin pada September. Dalam pernyataannya, pembuat kebijakan mencatat inflasi "masih tinggi" tetapi ingin melihat "akumulasi informasi lebih lanjut" sebelum mengambil langkah berikutnya. Daniel Siluk, Head of Global Short Duration and Liquidity di Janus Henderson Investors, menilai sikap The Fed dapat diartikan sebagai sedikit dovish, namun lebih tepat dibaca sebagai ekspresi kesabaran ketimbang perubahan bias pengetatan. "Pintu masih terbuka untuk pengetatan lebih lanjut, tetapi Komite tampaknya rela menunggu data masuk untuk memvalidasi kebutuhan tindakan tambahan," ujarnya.
Pasar akan mencermati rilis indeks harga PCE September pada Kamis, yang merupakan ukuran inflasi favorit The Fed. Selain itu, pembacaan pertama GDP kuartal ketiga dan klaim pengangguran mingguan juga akan dirilis. Dari sisi korporasi, laporan kuartalan Caterpillar dan Eli Lilly menjadi sorotan pada sesi pagi, disusul Amazon dan Intel setelah pasar tutup.
Sementara itu, di Asia-Pasifik, pasar dibuka mixed pada Kamis pagi. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,24%, sedangkan CSI 300 China daratan turun 0,64%. Sektor kesehatan dan energi memimpin kenaikan di Hang Seng. Di Jepang, Nikkei 225 dibuka menguat lebih dari 0,58%, sementara Kospi Korea Selatan naik tipis 0,11% namun Kosdaq anjlok 3,43%. Saham Advantest melonjak 8% setelah perusahaan menaikkan prospek pendapatannya, ditopang permintaan peralatan uji semikonduktor untuk AI. Samsung Electronics juga melaporkan laba operasional kuartal ketiga yang sesuai estimasi, dengan pendapatan melonjak 126,88% year-on-year.
Bagi investor Indonesia, gejolak di Wall Street ini patut dicermati. Teknologi dan saham AI global memiliki korelasi tidak langsung dengan IHSG, terutama melalui sentimen risiko global dan aliran modal asing. Pelemahan futures Nasdaq dapat memicu aksi risk-off di pasar emerging, termasuk Indonesia, pada perdagangan Kamis. Namun, jika data PCE nanti menunjukkan inflasi mereda, tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut akan berkurang, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi obligasi dan ekuitas negara berkembang.
Pertanyaannya kini: apakah koreksi Alphabet akan menjadi pemicu koreksi lebih luas di sektor teknologi, atau justru menjadi titik masuk bagi investor yang percaya pada siklus AI jangka panjang? Jawabannya akan mulai terlihat dari reaksi pasar terhadap rilis laba Amazon dan Intel, serta data inflasi PCE yang akan dirilis Kamis malam waktu Indonesia.



