Prabowo Ajak Siswa SD Lafalkan Sumpah Pemuda di Perpustakaan, Sinyal Literasi Nasional?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memimpin pembacaan teks Sumpah Pemuda bersama pelajar sekolah dasar dalam unggahan Instagram resmi @prabowo, Rabu (28/10) malam.
- Kegiatan berlangsung di ruang perpustakaan dengan atribut merah putih dan seragam batik bermotif fauna-flora, dihadiri Titiek Soeharto.
- Momen peringatan ke-98 Sumpah Pemuda ini mencuatkan pertanyaan tentang arah kebijakan literasi dan pendidikan karakter di era digital.

Presiden Prabowo Subianto memilih jalur simbolik untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98: ia merekam dirinya memandu sejumlah siswa sekolah dasar melafalkan tiga ikrar bersejarah dari sebuah perpustakaan. Video berdurasi sekitar satu menit itu diunggah ke akun Instagram resmi kepresidenan, @prabowo, pada Rabu (28/10) malam, dan langsung menuai perhatian publik.
Dalam rekaman tersebut, Prabowo tampil mengenakan kemeja putih dan peci hitam, memegang map merah bertuliskan “Membaca Bersama Anak-Anak Indonesia”. Para siswa yang mengenakan seragam batik merah putih—bermotif buku, harimau, bunga raflesia, penyu, dan daun—mengikuti bacaan dari map serupa. Sebagian dari mereka bergiliran membaca bagian teks melalui mikrofon. Di akhir video, Prabowo mengepalkan tangan ke atas, disambut gestur serupa oleh para siswa. Titiek Soeharto turut hadir dengan batik senada dan selendang merah.
Pilihan lokasi perpustakaan dan judul map bukan tanpa maksud. Di tengah gempuran konten digital yang menggerus minat baca generasi muda, aksi ini dapat dibaca sebagai penegasan bahwa literasi masih menjadi agenda prioritas. Namun, simbolisme semacam ini selalu menghadapi ujian: apakah ia berhenti sebagai pencitraan, atau menjelma menjadi program yang terukur?
Sejak era kemerdekaan, Sumpah Pemuda kerap dijadikan panggung bagi pemerintah untuk menegaskan visi kebangsaan. Namun, peringatan tahun ini berbeda karena kepala negara secara langsung turun menjadi pemandu, bukan sekadar memberi pidato. Menurut pengamat pendidikan yang enggan disebut namanya, langkah tersebut efektif untuk membangun kedekatan emosional dengan publik, tetapi dampaknya terhadap kualitas literasi bergantung pada keberlanjutan kebijakan di tingkat sekolah.
Konteks Indonesia hari ini memperlihatkan tantangan berat: skor literasi siswa Indonesia dalam asesmen internasional masih tertinggal, sementara akses buku di daerah terpencil belum merata. Anggaran pendidikan yang besar belum sepenuhnya menjangkau perpustakaan sekolah dan pelatihan guru. Dalam kerangka itu, ajakan membaca yang dibalut momentum Sumpah Pemuda seyogianya menjadi pintu masuk bagi perbaikan ekosistem literasi, bukan sekadar konten media sosial.
“Membaca adalah kunci kemajuan bangsa. Tanpa budaya literasi, cita-cita Sumpah Pemuda sulit diwujudkan,” demikian pesan yang tersirat dalam unggahan tersebut, sebagaimana dikutip dari keterangan video.
Pemerintahan Prabowo memang menempatkan pendidikan karakter sebagai salah satu prioritas, tetapi kritik terhadap pendekatan seremonial terus mengemuka. Sejumlah organisasi guru menilai diperlukan langkah konkret seperti penyediaan buku murah, perpustakaan keliling, dan pelatihan literasi digital. Tanpa itu, momen di perpustakaan itu hanya akan menjadi catatan sejarah singkat di linimasa.
Ke depan, publik akan menantikan apakah pemerintah mengalokasikan sumber daya yang memadai untuk program literasi nasional, atau justru mengandalkan kampanye simbolik. Jika benar-benar serius, peringatan Sumpah Pemuda tahun depan semestinya diwarnai dengan capaian terukur—bukan sekadar video viral.



