James Garner: Dari Rp160 Miliar ke Rp850 Miliar, Moyes Temukan Permata Baru di Everton
Baca dalam 60 detik
- James Garner menjelma jadi gelandang paling bernilai di skuad Everton dengan valuasi pasar menembus €50 juta, naik hampir empat kali lipat dari harga beli.
- Keputusan manajemen mendatangkannya dari Manchester United pada 2022 kini dipandang sebagai salah satu transfer paling efisien di Premier League.
- Jika konsisten, Garner berpeluang memperkuat Timnas Inggris di Euro 2028 dan menjadi magnet finansial baru bagi The Toffees.

Everton kembali menuai hasil manis dari bursa transfer. James Garner, gelandang yang dibeli seharga £9 juta dari Manchester United pada musim panas 2022, kini menjelma menjadi aset paling mahal di skuad asuhan David Moyes. Nilai pasarnya melesat ke €50 juta (£42 juta) menurut Transfermarkt, atau setara Rp850 miliar—lonjakan 367% dari harga awal. Angka ini menempatkannya di atas pemain mana pun di Goodison Park, termasuk kiper Jordan Pickford yang selama ini menjadi tolok ukur kesuksesan investasi klub.
Kisah Garner bukan sekadar soal angka. Saat pertama mendarat di Merseyside, ia harus bersabar menembus tim utama. Bahkan, ia sempat dipaksa mengisi posisi bek kanan—peran yang jauh dari spesialisasinya—hanya demi mendapatkan menit bermain. Namun, begitu mendapat kepercayaan di lini tengah, performa Garner melejit. Musim ini, ia tampil di seluruh pertandingan liga dan telah mengoleksi 135 penampilan bersama Everton. Fleksibilitasnya menjadi senjata tambahan bagi Moyes, yang kerap mengandalkannya sebagai penghubung antara bertahan dan menyerang.
Peningkatan tajam nilai Garner tidak lepas dari konsistensinya di level klub. Sejak awal musim 2025/26, ia tak pernah absen di Premier League, mencatatkan statistik impresif dalam hal intersepsi dan umpan kunci. Penampilan solid itu mengantarkannya ke tim nasional Inggris pada Maret lalu, debut yang membuka jalan menuju skuad Euro 2028 di bawah asuhan Thomas Tuchel. Jika mampu mempertahankan tren positif, bukan tidak mungkin Garner menjadi pilar utama The Three Lions dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi Everton, keberhasilan Garner menjadi oase di tengah kritik terhadap strategi rekrutmen klub. Di bawah arahan Angus Kinnear, The Toffees sempat menuai sorotan karena gagal mendatangkan bek kanan idaman dan striker Folarin Balogun. Kekecewaan memuncak ketika manajemen menerima tawaran Nottingham Forest untuk gelandang muda Harrison Armstrong—keputusan yang memicu kemarahan suporter. Di tengah ketidakpastian itu, sosok Garner membuktikan bahwa perekrutan cermat masih mungkin dilakukan. Bandingkan dengan Pickford, yang dibeli £30 juta dari Sunderland pada 2017 dan kini telah mencatat 100 clean sheet di Premier League—keduanya adalah contoh langka investasi jangka panjang yang berbuah manis.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, kisah Garner bisa menjadi cermin betapa pentingnya sabar dalam mengembangkan pemain muda. Klub-klub Liga 1 kerap tergoda mendatangkan nama besar dengan harga selangit, tetapi melupakan potensi pemain lokal yang butuh waktu beradaptasi. Everton memberi ruang bagi Garner untuk tumbuh, bahkan rela memainkannya di posisi non-ideal demi menit bermain. Pendekatan semacam ini jarang terjadi di Indonesia, di mana tekanan hasil instan sering kali membunuh talenta muda sebelum berkembang. Jika klub-klub lokal mampu meniru kesabaran Moyes, bukan mustahil lahir gelandang-gelandang bernilai jual tinggi dari akademi sendiri.
"Garner adalah contoh sempurna bagaimana kesabaran dan kepercayaan pada pemain muda bisa menghasilkan keuntungan berlipat, baik secara teknis maupun finansial," ujar seorang pengamat transfer Premier League, seperti dikutip dari analisis Football FanCast.
Ke depan, Garner akan menjadi kunci jika Everton ingin bersaing di zona Eropa. Dengan valuasi yang terus meroket, klub berpotensi menjadikannya sebagai magnet komersial sekaligus simbol kebangkitan. Pertanyaannya, mampukah Everton mempertahankan Garner dari godaan klub-klub besar, atau justru menjualnya dengan harga fantastis untuk membiayai renovasi skuad? Yang jelas, investasi £9 juta itu kini telah berubah menjadi salah satu aset paling menguntungkan di Premier League.



