The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75%-4%, Dua Pejabat Desak Kenaikan: Sinyal Bahaya Inflasi Belum Reda
Baca dalam 60 detik
- Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4% pada rapat Oktober, meski dua anggota FOMC mendesak kenaikan 25 basis poin.
- Keputusan ini diambil saat inflasi AS kembali memanas, dengan CPI tahunan 3,7% dan PPI 6,3%, memicu spekulasi pasar bahwa kenaikan berikutnya baru terjadi Desember.
- Bagi Indonesia, tertahannya suku bunga AS menahan tekanan depresiasi rupiah, tetapi risiko kenaikan pada Desember tetap menjadi bayangan bagi arus modal dan obligasi negara.

Federal Reserve memilih menahan suku bunga acuan pada rentang 3,75%-4% dalam rapat kebijakan Oktober, sebuah keputusan yang sudah diantisipasi pasar namun menyisakan perpecahan di internal bank sentral. Dua anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, memberikan suara berbeda dengan menginginkan kenaikan seperempat poin persentase. Perpecahan ini menandai pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir ada dorongan terbuka untuk segera memperketat kebijakan di tengah inflasi yang kembali menggeliat.
Keputusan tersebut diambil hanya beberapa jam sebelum rilis data indeks harga konsumen (PCE) September, indikator inflasi favorit The Fed, yang diperkirakan naik 0,5% secara bulanan dan mendorong laju tahunan menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,4%. Angka inti PCE diproyeksikan meningkat 0,3%, menaikkan laju tahunan menjadi 3,1%. Dalam pernyataan pasca-rapat, bank sentral menegaskan bahwa "inflasi masih tinggi" dan akumulasi informasi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan sikap kebijakan yang tepat. Namun, pasar sudah mengalihkan perhatian ke rapat Desember, dengan FedWatch CME menunjukkan peluang sekitar 85% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Ketua Fed Kevin Warsh, yang mengambil alih kepemimpinan pada Mei lalu, dijadwalkan memberikan konferensi pers guna menjelaskan keputusan tersebut. Namun, para ekonom meragukan Warsh akan memberikan panduan baru yang signifikan. Ekonom Goldman Sachs David Mericle menilai The Fed tampaknya telah mengadopsi pendekatan kenaikan setiap dua rapat, dan Warsh—yang dikenal enggan memberikan forward guidance—kemungkinan besar tidak akan mengubah pola komunikasi tersebut. "Kami tidak mengharapkan informasi baru yang signifikan dari konferensi pers," ujar Mericle dalam catatannya, seraya menambahkan bahwa dukungan kuat terhadap rencana kenaikan setiap dua rapat membuat peluang menyimpang dari jalur itu sangat kecil hingga akhir tahun.
Kritik lebih tajam datang dari ekonom kepala JPMorgan Chase, Michael Feroli. Ia mempertanyakan mengapa The Fed menaikkan suku bunga pada September setelah data inti PCE Agustus hanya naik 0,2%, tetapi kini menahan diri justru ketika angka inti PCE September diperkirakan mencapai 0,3%. "Ketua Warsh harus menjelaskan mengapa komite menaikkan suku bunga setelah cetakan inti PCE dua persepuluh, tetapi sekarang menahan diri setelah perkiraan tiga persepuluh," kata Feroli. Ia juga menyoroti bahwa keputusan menahan suku bunga kurang dari sepekan sebelum pemilihan sela (midterm) tanpa penjelasan memadai dapat memicu spekulasi bahwa kebijakan didorong oleh pertimbangan non-ekonomi.
Di pasar keuangan, sinyal perpecahan dan inflasi yang membandel telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Yield tenor 10 tahun bertengger di 5,02%, sedangkan tenor 2 tahun di 4,766%. Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya pinjaman konsumen: rata-rata bunga hipotek tetap 30 tahun kini mencapai 7,33%, naik dari 7,12% bulan lalu, sementara bunga pinjaman rumah (home equity loan) melesat ke 8,77% dari 8,28%. Bagi rumah tangga Amerika, terutama kelas menengah bawah, beban biaya hidup semakin berat karena kartu kredit dan kredit kendaraan juga bertahan di level tinggi.
Dalam konteks Indonesia, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga memberikan ruang napas sementara bagi Bank Indonesia dalam mengelola nilai tukar rupiah. Namun, peluang kenaikan pada Desember tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga akhir tahun, tekanan terhadap arus modal keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia, akan meningkat. Imbal hasil obligasi negara (SUN) berpotensi terkerek naik, sementara biaya penerbitan utang pemerintah dan korporasi juga akan bertambah. Bagi investor domestik, sinyal perpecahan di tubuh The Fed menjadi peringatan bahwa volatilitas pasar keuangan global belum akan mereda dalam waktu dekat.
"Peluang bahwa mereka benar-benar mengejutkan kita sekarang di atas 7%," ujar Steven Wieting, salah satu pendiri CIO Group, mengomentari kemungkinan kenaikan suku bunga di luar ekspektasi pasar. Ia menambahkan bahwa jika The Fed menunggu hingga Desember, itu "hanya akan memperpanjang penderitaan kita."
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data PCE September yang dirilis Kamis dan konferensi pers Warsh. Pertanyaannya, apakah The Fed hanya menunda kenaikan untuk mengumpulkan bukti bahwa inflasi memang kembali ke jalur 2%, atau justru sedang membangun argumen untuk langkah yang lebih agresif pada Desember? Yang jelas, dengan inflasi inti yang masih di atas target dan pasar tenaga kerja yang tetap ketat, ruang bagi The Fed untuk berlama-lama menahan suku bunga semakin sempit. Bagi Indonesia, kewaspadaan terhadap gejolak eksternal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global.



