Salah Kira Pangeran William Penyanyi Prince, Pemuda Ini Kirim Surat Permintaan Maaf
Baca dalam 60 detik
- Sebastian Smith (22) mengira Pangeran William adalah mendiang penyanyi Prince saat kunjungan kerajaan ke kafe Sweet Surprise di Somerset.
- Insiden bermula ketika Smith meminta William menyanyikan lagu Purple Rain, sebelum seorang perempuan di sebelahnya mengoreksi kekeliruan tersebut.
- Keluarga Smith telah mengirim surat permintaan maaf kepada Istana, sementara William mengenang momen itu dalam acara The Graham Norton Show.

Sebuah kunjungan rutin anggota keluarga kerajaan Inggris ke sebuah kafe di Somerset berubah menjadi momen tak terduga ketika seorang pemuda penyandang disabilitas intelektual menyangka Pangeran William adalah penyanyi legendaris Prince. Insiden tersebut kemudian menjadi perbincangan hangat setelah sang pangeran menceritakannya di depan publik, dan berujung pada surat permintaan maaf yang ditulis oleh si pemuda.
Peristiwa itu terjadi awal bulan ini di Sweet Surprise, sebuah kafe di Ilminster yang dikenal mempekerjakan dan melayani orang dewasa dengan kesulitan belajar. Pangeran William, yang saat itu sedang meninjau komunitas lokal, mendekati seorang pria muda bernama Sebastian Smith (22). Smith, yang menurut keluarganya mengidap kondisi genetik langka, langsung mengajukan pertanyaan yang tak biasa: kapan William akan menyanyi?
Dalam wawancara di acara The Graham Norton Show BBC yang tayang 23 Oktober, William menuturkan kronologi kejadian. "Seorang pria baik menatap saya dan bertanya, 'Kapan Anda akan bernyanyi?' Saya balas, 'Maaf, maksud Anda apa?' Dia lalu berkata, 'Kapan Anda akan menyanyikan penampilan Anda?'" ujar William, dikutip dari siaran tersebut. Seorang perempuan di belakang Smith kemudian menepuk lengannya dan berkata, "Bukan, bukan, dia bukan Prince yang itu." Rupanya Smith berharap William menyanyikan lagu "Purple Rain", yang tidak ia hafal liriknya.
Ibu Sebastian, Claire, kepada The Sun mengungkapkan bahwa putranya sama sekali tidak mengenali Pangeran William. "Sebastian tidak tahu siapa Pangeran William, tapi dia penggemar berat Prince si penyanyi dan hafal semua lagunya. Mengingat kesulitan belajarnya, itu luar biasa. Jadi saat Pangeran William datang, Sebastian mengira itu Prince penyanyi," tuturnya. Keluarga kemudian membantu Sebastian menulis surat kepada William yang berisi ucapan terima kasih atas kunjungan dan permintaan maaf atas kesalahpahaman tersebut.
Kisah ini menyoroti sisi manusiawi dari kunjungan kerajaan yang sering kali terjebak dalam protokol formal. Sweet Surprise bukan sekadar kafe biasa; tempat ini menjadi ruang pemberdayaan bagi individu dengan kebutuhan khusus, dan interaksi singkat antara William dan Sebastian justru menunjukkan bagaimana kesalahpahaman dapat berubah menjadi cerita hangat yang mempererat hubungan antara istana dan masyarakat. Bagi keluarga Smith, momen itu menjadi pengakuan atas kondisi langka yang diidap Sebastian, yang menurut RTS Support Group ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan, jari tangan dan kaki lebar, serta disabilitas intelektual.
"Kami membantu Sebastian menulis surat kepada Pangeran William. Di dalamnya, dia berterima kasih atas kunjungan dan meminta maaf karena telah mengira William adalah Prince." โ Claire, ibu Sebastian Smith.
Dalam kesempatan yang sama, William juga berbagi cerita ringan tentang cita-cita masa kecilnya. Ia mengaku sempat ingin menjadi polisi karena merasa cocok dengan profesi itu, dan pernah melewati fase ingin menjadi DJ. "Saya mencoba mixing, tapi tidak terlalu bagus," ujarnya. William hadir di acara itu bersama aktris Cate Blanchett, Hannah Waddingham, dan aktivis lingkungan Robert Irwin untuk membahas Earthshot Prize, penghargaan lingkungan global yang ia gagalkan pada 2020 dan akan digelar di Mumbai, India, bulan depan.
Bagi publik Indonesia, kisah ini mungkin terasa jauh dari hiruk-pikuk politik domestik, namun menyimpan pesan tentang inklusivitas: bagaimana ruang publik seperti kafe dapat menjadi jembatan bagi kelompok rentan untuk berinteraksi dengan tokoh masyarakat tanpa rasa canggung. Kesalahpahaman yang berujung pada surat permintaan maaf justru memperlihatkan bahwa empati dan rasa hormat tetap terjaga, bahkan ketika identitas seseorang keliru dikenali.
Ke depan, momen seperti ini berpotensi memperkuat citra keluarga kerajaan Inggris sebagai institusi yang merangkul keberagaman, terutama menjelang Earthshot Prize yang mengangkat isu lingkungan dan inovasi sosial. Akankah kunjungan kerajaan berikutnya juga menghasilkan cerita serupa yang menyentuh hati publik, atau justru menjadi sorotan karena protokol yang ketat? Yang jelas, bagi Sebastian Smith, surat permintaan maafnya telah menjadi cara elegan untuk mengakhiri kekeliruan yang mengundang senyum.



