15 Tahun Arkham City: Standar Emas Gim Superhero yang Belum Terkalahkan
Baca dalam 60 detik
- Batman: Arkham City genap 15 tahun pada 18 Oktober 2025, masih dianggap puncak gim superhero dengan penjualan lebih dari 12 juta kopi.
- Mekanisme tempur freeflow dan eksplorasi dunia terbuka menjadi cetak biru bagi seri Spider-Man Insomniac hingga Shadow of Mordor.
- Rocksteady dikabarkan tengah menggarap gim Batman single-player baru, namun hingga kini belum ada pengumuman resmi.

Pada 18 Oktober 2011, Rocksteady Studios merilis Batman: Arkham City — sekuel dari Arkham Asylum yang mengubah lanskap gim superhero. Lima belas tahun berselang, karya itu masih berdiri sebagai tolok ukur yang belum tersaingi, bahkan oleh gim-gim modern sekalipun.
Arkham City bukan sekadar perluasan dari pendahulunya. Jika Arkham Asylum mengurung pemain dalam lorong-lorong suram rumah sakit jiwa, sekuel ini membuka sebagian Gotham sebagai arena bermain yang luas. Batman bebas meluncur dari atap ke atap, menghadapi gelombang musuh, dan memburu trofi teka-teki Riddler yang tersebar di seluruh penjuru kota. Formula inilah yang kemudian diadopsi banyak pengembang, termasuk Insomniac Games dengan seri Spider-Man-nya.
Keunggulan Arkham City terletak pada sistem pertarungan freeflow yang luwes: Batman bergerak dari satu lawan ke lawan lain dengan kombinasi pukulan dan serangan balik yang memuaskan. Mekanisme stealth juga sama pentingnya, memungkinkan pemain menyusup dari bayang-bayang. Ditambah berbagai gadget, pengalaman bermain Marvel's Spider-Man 2 (2023) nyaris tidak berbeda jauh dari Arkham City, meski dirilis 12 tahun kemudian.
Meski banyak gim superhero lain mencoba meniru, belum ada yang benar-benar mampu menandingi Arkham City. Arkham Origins (2013) yang dikembangkan WB Games Montréal memang solid, tetapi terasa seperti tiruan bersalju. Arkham Knight (2015) mendekati kualitas pendahulunya, namun kehadiran Batmobile yang berlebihan dan pengungkapan identitas Arkham Knight yang mengecewakan membuatnya kurang memuaskan. Gotham Knights (2022) dari WB Games Montréal justru menuai kritik, sementara Suicide Squad: Kill the Justice League (2024) gagal sebagai layanan live-service.
Di sisi lain, Lego Batman: Legacy of the Dark Knight (2025) menawarkan pendekatan berbeda: imitasi formula Arkham yang ramah anak dan dipenuhi nuansa Lego. Meski menyenangkan, gim ini justru membangkitkan kerinduan akan nuansa kelam dan dewasa yang khas Arkham City.
"Arkham City melakukan hampir segalanya lebih baik daripada para penerus dan penirunya," tulis Polygon dalam retrospeksi 15 tahun gim ini.
Keputusan Warner Bros. dan Rocksteady membekukan seri Arkham setelah Arkham Knight terbilang mengejutkan, mengingat kesuksesan komersial Arkham City. Rocksteady kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun menggarap Suicide Squad yang gagal, sementara WB Games Montréal beralih ke Gotham Knights yang kurang diterima. Pada 2025, laporan menyebut Rocksteady tengah mengerjakan gim Batman single-player baru, dengan rumor mengarah ke Batman Beyond yang menampilkan Terry McGinnis.
Bagi industri gim global, Arkham City adalah bukti bahwa adaptasi superhero bisa menjadi karya seni yang mendalam, bukan sekadar produk susulan film. Di Indonesia, gim ini sempat populer di kalangan gamer PC dan konsol, meski akses legalnya terbatas. Kini, dengan semakin banyaknya gim AAA yang masuk secara resmi, warisan Arkham City tetap relevan sebagai acuan desain bagi pengembang lokal yang ingin membuat gim aksi bernuansa lokal.
Jika rumor proyek Batman baru itu benar, akankah Rocksteady mampu mengulang kejayaan Arkham City, atau justru terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya sendiri?



