Julia Roberts Beri Penghormatan Terakhir untuk Tom Skerritt, Aktor Karakter Hollywood yang Menembus Batas
Baca dalam 60 detik
- Julia Roberts mengungkapkan duka atas kepergian Tom Skerritt, lawan mainnya di Steel Magnolias, melalui unggahan Instagram.
- Skerritt dikenal lewat peran ikonik sebagai Viper di Top Gun, Kapten Dallas di Alien, dan Sheriff Brock di Picket Fences.
- Karier Skerritt yang membentang lima dekade meninggalkan warisan bagi aktor karakter dan industri hiburan global.

Julia Roberts akhirnya angkat bicara setelah kabar wafatnya Tom Skerritt, aktor senior Hollywood yang menghembuskan napas terakhir pada usia 93 tahun, Kamis (22/10/2026). Melalui akun Instagram pribadinya, Roberts menyampaikan penghormatan kepada rekan mainnya di film Steel Magnolias (1989) dengan kalimat singkat penuh haru: “Seorang pria lembut yang bersinar. RIP.”
Kepergian Skerritt meninggalkan duka mendalam bagi industri film, terutama bagi generasi aktor yang tumbuh dengan karya-karyanya. Ia bukan sekadar bintang pendukung; ia adalah tipe aktor karakter yang mampu mencuri perhatian bahkan ketika berbagi layar dengan nama-nama besar seperti Tom Cruise, Sigourney Weaver, dan Jodie Foster. Peran-perannya sebagai komandan militer, penegak hukum, atau figur ayah menjadi penanda gaya aktingnya yang tenang namun berwibawa.
Sepanjang kariernya, Skerritt membintangi sejumlah judul yang kemudian menjadi klasik. Di Top Gun (1986), ia memerankan Mike ‘Viper’ Metcalf, instruktur penerbang angkatan laut yang mengasah Maverick muda. Di Alien (1979) garapan Ridley Scott, ia menjadi Kapten Arthur Dallas, pemimpin kru pesawat Nostromo yang berhadapan dengan makhluk luar angkasa mematikan. Sementara di layar kaca, perannya sebagai Sheriff Jimmy Brock dalam serial Picket Fences (1992–1996) mengantarkannya meraih penghargaan Emmy pada 1993.
Dalam pernyataan resmi keluarganya, Skerritt dikenang bukan hanya sebagai aktor hebat, tetapi juga sebagai pribadi yang hangat. “Dunia mengenalnya lewat karier aktingnya yang luar biasa, tetapi kami mengenalnya karena humor, rasa ingin tahu, kebijaksanaan, kemurahan hati, dan cinta yang ia hadirkan dalam hidup kami,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Keluarga juga menyoroti kepeduliannya terhadap para veteran, alam, dan upaya membantu orang lain menemukan suara mereka.
“Seorang penulis pernah menyebut saya sebagai aktor karakter yang terkurung dalam tubuh seorang leading man, dan saya selalu menyukai itu. Itu pujian yang indah. Saya bisa berjalan di antara televisi dan film.” — Tom Skerritt, dalam wawancara dengan Seattle Post-Intelligencer (1997).
Kemampuan Skerritt untuk berpindah dari peran utama ke pendukung dengan mulus membuatnya dihormati di kalangan sineas. Ia juga aktif di dunia teater, tampil sebagai narator dalam produksi Our Town di Intiman Theatre, Seattle (2004), dan debut di Broadway pada 2013 lewat adaptasi A Time to Kill. Di luar dunia hiburan, ia mendirikan Red Badge Project, organisasi nirlaba yang memanfaatkan penulisan kreatif untuk membantu para veteran mengatasi trauma.
Bagi penonton Indonesia, sosok Skerritt mungkin lebih akrab lewat film-film yang sering tayang di televisi nasional pada era 1990-an hingga 2000-an. Top Gun dan Alien, misalnya, menjadi tontonan wajib bagi pecinta film action dan sci-fi Tanah Air. Kiprahnya sebagai aktor karakter juga memberi pelajaran tentang pentingnya peran pendukung dalam membangun cerita yang berkesan—sesuatu yang relevan bagi perkembangan industri perfilman Indonesia yang kian menggandrungi cerita superhero dan franchise.
Kepergian Skerritt menutup babak panjang seorang aktor yang tidak pernah kehilangan pesonanya di layar. Warisannya akan terus hidup melalui karya-karya yang ia tinggalkan, dan pertanyaan yang tersisa adalah: siapa yang akan meneruskan tradisi aktor karakter dengan kelas dan integritas seperti dirinya di Hollywood masa kini?



