Fernandes 'Kuliti' Palmer, Tottenham Rebut Stamford Bridge untuk Pertama Kali Sejak 2018
Baca dalam 60 detik
- Tottenham menang 2-0 di markas Chelsea, kemenangan tandang pertama mereka di Premier League sejak 2018.
- Mateus Fernandes jadi momok bagi Cole Palmer dengan tiga tekel sukses dan enam recovery, memicu kartu merah gelandang Chelsea itu.
- Kemenangan ini menjadi sinyal kebangkitan Spurs di bawah Roberto De Zerbi yang mulai menuai hasil dari kerja taktiknya.

Tottenham Hotspur akhirnya memecahkan kutukan Stamford Bridge. Gol bunuh diri Mike Penders dan aksi individu Mathys Tel membawa The Lilywhites menang 2-0 atas Chelsea pada laga lanjutan Premier League, sekaligus mencatat kemenangan tandang pertama mereka di markas rival sekota itu sejak 2018.
Bagi Chelsea, kekalahan ini memperpanjang catatan buruk di hadapan pendukung sendiri. Xabi Alonso menurunkan formasi 3-4-2-1 andalannya, tetapi absennya Joao Pedro memaksa Morgan Rogers mengisi posisi ujung tombak. Rogers bukan penyerang nomor sembilan murni, dan ketidakmampuannya menekan bek tengah Tottenham, Micky van de Ven dan Jan Paul van Hecke, memberi ruang leluasa bagi tim tamu untuk membangun serangan dari belakang.
Kedua bek Spurs itu nyaris tanpa gangguan saat menguasai bola, dan dari situ Tottenham mulai mengendalikan ritme pertandingan. Rotasi cepat dan umpan-umpan pendek mereka mampu menembus lapisan tengah Chelsea, membuat tuan rumah frustrasi. Penguasaan bola yang efisien itu menjadi fondasi kemenangan, sekaligus memicu reaksi emosional dari kubu Chelsea, terutama Cole Palmer.
Palmer menjadi sorotan utama. Tanpa penyerang murni untuk berkolaborasi, gelandang serang Timnas Inggris itu kerap harus mengambil inisiatif sendiri, tetapi Tottenham selalu menutup ruangnya. Catatan statistik menunjukkan ia hanya sukses dalam satu dari lima percobaan dribel dan tidak menciptakan satu pun peluang besar. Tekanan konstan dari pemain Spurs membuat Palmer kehilangan ketenangan, yang berujung pada dua kartu kuning dan kartu merah di babak kedua.
โFernandes benar-benar mendominasi Palmer. Tekel-tekelnya cepat, dan ia memancing reaksi emosional lawan,โ demikian analisis yang beredar di kalangan pengamat setelah laga.
Di balik kemenangan kolektif itu, ada satu nama yang menonjol: Mateus Fernandes. Gelandang Portugal itu tampil sebagai pengrusak utama permainan Palmer. Sepanjang laga, Fernandes mencatat tiga tekel sukses dan enam recovery, selalu sigap menutup pergerakan Palmer. Puncaknya, sebuah handball sengaja yang ia lakukan untuk menghentikan serangan balik Chelsea memicu kemarahan Palmer, yang kemudian menabraknya dan berujung kartu kuning pertama. Insiden itu seolah menyalakan api amarah Palmer, yang tak lama kemudian mendapat kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan.
Namun kontribusi Fernandes bukan hanya soal duel individu. Dengan 121 sentuhan dan 91 umpan sukses, ia menjadi mesin penggerak Tottenham di lini tengah, berduet dengan Sandro Tonali. Umpan corner-nya pun berperan dalam terciptanya gol pembuka, memaksa Penders melakukan penyelamatan yang berakhir dengan gol bunuh diri. Performa Fernandes ini menjadi bukti bahwa Roberto De Zerbi mulai menemukan formula yang tepat setelah melalui periode sulit.
Kemenangan ini juga menandai dua kemenangan beruntun bagi Tottenham, setelah sebelumnya mengalahkan Coventry 3-1. De Zerbi, yang sempat mendapat tekanan, kini mulai menuai hasil dari kerja keras di lapangan latihan. Bagi Chelsea dan Alonso, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Tanpa penyerang murni, lini depan mereka tumpul, dan ketergantungan pada Palmer terbukti mudah dibaca lawan.
Pertanyaannya kini: apakah Tottenham mampu mempertahankan momentum ini dan kembali bersaing di papan atas, ataukah Chelsea segera bangkit setelah evaluasi? Yang jelas, laga di Stamford Bridge menjadi bukti bahwa taktik De Zerbi mulai berakar, dan Fernandes telah menjelma menjadi sosok kunci di lini tengah The Lilywhites.



