Gandrung Sewu 2026: 1.300 Penari, Hotel Penuh, dan Taruhan Ekonomi Banyuwangi
Baca dalam 60 detik
- Festival Gandrung Sewu 2026 digelar perdana pada malam hari dengan konsep Glow in The Dark di Pantai Marina Boom, melibatkan 1.300 penari.
- Okupansi hotel di Banyuwangi melonjak hingga 100 persen, dengan tamu dari Jakarta, Bali, dan Surabaya, serta wisatawan mancanegara di homestay.
- Pemkab Banyuwangi berharap inovasi budaya ini menjadi penggerak ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar pertunjukan seni semalam.

Festival Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi berhasil menyedot perhatian publik dan mendongkrak tingkat hunian akomodasi di kota ujung timur Jawa Timur itu. Gelaran yang untuk pertama kalinya digelar pada malam hari dengan konsep Glow in The Dark di Pantai Marina Boom, Sabtu (24/10), melibatkan sekitar 1.300 penari dan menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, penyelenggaraan festival budaya tidak boleh berhenti pada panggung pertunjukan. Menurutnya, dampak ekonomi harus merembes ke pedagang kecil, pelaku UMKM, dan sektor perhotelan. “Kami berharap kegiatan seperti ini memberikan manfaat bagi semua lapisan, bukan hanya penonton yang menikmati pertunjukan,” ujarnya di sela acara.
Harapan itu tampaknya tidak berlebihan. Sejumlah hotel di Banyuwangi mencatat keterisian kamar hingga 100 persen pada periode 21–25 Oktober. El Hotel Banyuwangi, misalnya, melaporkan kamar penuh pada 24 Oktober, dengan peningkatan pemesanan sejak 21 Oktober. Tamu-tamu datang dari Jakarta, Bali, dan Surabaya. Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center juga mencatat seluruh kamar terisi hingga Minggu (25/10). Sementara Villa Solong mencatat tingkat hunian 91 persen pada Jumat (23/10) pagi dan diperkirakan terus naik.
Dampak tidak hanya dirasakan hotel berbintang. Homestay seperti Didu's Homestay juga kedatangan wisatawan mancanegara, menandakan bahwa daya tarik budaya Banyuwangi mampu menembus pasar internasional. Sektor transportasi pun ikut bergeliat: Bandara Banyuwangi melayani 1.142 penumpang melalui sembilan penerbangan selama periode 21–23 Oktober, angka yang signifikan untuk bandara daerah.
Keberhasilan ini tidak lepas dari inovasi konsep pertunjukan. Mengusung tema Kembang Dermo, Gandrung Sewu tahun ini memadukan tari kolosal dengan permainan cahaya, kostum bercahaya, pertunjukan drone, dan kembang api. Format baru ini dinilai berhasil menciptakan pengalaman berbeda bagi penonton sekaligus memperkuat identitas budaya Banyuwangi di mata wisatawan.
“Kami terbuka terhadap evaluasi dan masukan dari masyarakat. Harapannya, Gandrung Sewu ke depan semakin baik, semakin dikenal, dan manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” kata Ipuk.
Dalam konteks pariwisata nasional, langkah Banyuwangi ini sejalan dengan tren event-based tourism yang kian diminati. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya menyajikan atraksi, tetapi juga memastikan infrastruktur pendukung seperti akomodasi, transportasi, dan kuliner siap menampung lonjakan kunjungan. Keberhasilan Gandrung Sewu 2026 bisa menjadi tolok ukur bagi daerah lain yang ingin mengembangkan potensi budaya sebagai penggerak ekonomi.
Ke depan, tantangannya adalah menjaga konsistensi kualitas dan inovasi agar festival ini tidak kehilangan daya tarik. Apakah Gandrung Sewu mampu menjadi agenda tahunan yang mendunia, atau justru surut setelah euforia awal? Publik menanti bukti bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan motor penggerak kesejahteraan.



