Teknologi Jatuh ke Bumi: Nasdaq Anjlok 2,6% saat Keraguan AI Mengguncang Pasar
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nasdaq Composite merosot 2,6% — penurunan harian terburuk sejak awal Juli — akibat kekhawatiran baru atas belanja AI.
- SK Hynix bangkit 2,6% setelah membatalkan rencana pencatatan Solidigm di AS, sementara SpaceX mencatat keuntungan unrealized Rp8,7 triliun dari Boring Co.
- Musk menyuntikkan sekitar Rp5,7 triliun ke siklus pemilu ini, menjadikannya donor perorangan terbesar; investor Indonesia perlu mencermati dampak volatilitas teknologi global.

Wall Street kembali diguncang aksi jual tajam. Nasdaq Composite ambles 2,6% pada perdagangan Kamis (23/10/2026), koreksi harian paling dalam sejak awal Juli, setelah pelaku pasar mempertanyakan keberlanjutan belanja modal raksasa teknologi untuk kecerdasan buatan. Aksi jual ini menandai pergeseran sentimen: euforia AI yang menopang reli panjang mulai retak.
Kekhawatiran berpusat pada kemampuan perusahaan membiayai ekspansi pusat data tanpa membebani neraca. Imbal hasil obligasi korporat berbasis AI melebar, sementara credit default swap (CDS) lima tahun untuk CoreWeave, Oracle, dan SoftBank Group mencatat kenaikan spread — sinyal bahwa investor menuntut premi risiko lebih tinggi. Pasar obligasi, menurut analisis FactSet, sedang menguji ketahanan pendanaan sektor teknologi.
Di Seoul, SK Hynix justru membalikkan arah. Saham produsen chip memori itu ditutup menguat 2,6% setelah manajemen membatalkan rencana pencatatan unit Solidigm di bursa AS. Regulator sempat menilai langkah tersebut melanggar aturan dual-listing. SK Hynix beralasan kondisi pasar tidak mendukung, namun menegaskan akan tetap menjajaki opsi pembiayaan untuk pabrik baru di Amerika Serikat. Keputusan ini menunjukkan tekanan likuiditas mulai memengaruhi keputusan strategis pemain semikonduktor.
CEO Nvidia Jensen Huang, dalam wawancara dengan CNBC di Berlin, mengakui permintaan layanan neocloud—penyedia komputasi awan khusus AI—sangat tinggi. "Permintaan modal jauh melampaui ketersediaan modal," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kesenjangan itu akan teratasi. Pernyataan Huang kontras dengan realitas pasar: biaya pinjaman meningkat dan investor mulai selektif. Nvidia sendiri tidak luput dari tekanan, meski sahamnya masih menjadi barometer utama sektor AI.
Di sisi lain, kerajaan bisnis Elon Musk menunjukkan dinamika berbeda. Presiden Donald Trump dilaporkan menelepon Musk untuk meminta pembatasan layanan Starlink di Ukraina dicabut, menurut laporan Wall Street Journal. Trump menyatakan akses telah pulih, tetapi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut kecepatan belum sepenuhnya normal. Episodenya menyoroti silang kepentingan antara kebijakan luar negeri AS dan kepentingan komersial perusahaan Musk.
SpaceX membukukan keuntungan non-kas US$561 juta dari kepemilikan saham di Boring Co. pada kuartal III, hasil dari putaran pendanaan September. Angka itu mendongkrak laba bersih menjadi sekitar US$4,4 miliar, meski secara kumulatif sembilan bulan pertama SpaceX masih mencatat rugi bersih US$413 juta. Sementara itu, Musk tercatat menyuntikkan sekitar US$366 juta ke siklus pemilu tahun ini—termasuk US$276 juta sejak Juli—terutama untuk menjaga kendali Partai Republik di Kongres. Menurut New York Times, jumlah itu kemungkinan menjadikannya donor perorangan terbesar, dan Partai Demokrat di DPR telah menyerukan investigasi atas kontrak pemerintah SpaceX.
Dari Asia, dua sinyal penting muncul. Pertama, inflasi inti Jepang naik menjadi 2,1% pada September dari 1,7% pada Agustus—tertinggi tahun ini dan melampaui target Bank of Japan. Pasar memperkirakan BOJ menahan suku bunga pekan depan, tetapi kenaikan pada Desember masih terbuka. Kedua, orang kaya Tiongkok memindahkan dana lepas pantai ke bank-bank AS seiring Beijing memperluas jaringan pajak. Batas waktu pelaporan penghasilan trust lepas pantai pada 22 Oktober dengan tarif pajak 20% memicu lonjakan permintaan dari bankir swasta dan pengacara sejak Juli.
Bagi Indonesia, gejolak teknologi global ini bukan sekadar tontonan. Rupiah dan pasar saham domestik rentan terhadap perubahan selera risiko investor asing. Jika biaya modal di sektor AI terus meningkat, aliran dana ke aset berisiko di negara berkembang—termasuk Indonesia—berpotensi tertekan. Selain itu, kebijakan pajak Tiongkok terhadap kekayaan lepas pantai dapat menggeser pola investasi di kawasan, yang pada akhirnya memengaruhi likuiditas di pasar keuangan Asia Tenggara.
Pertanyaan ke depan: apakah koreksi Nasdaq ini merupakan koreksi sehat bagi valuasi teknologi yang memanas, atau awal dari siklus pengetatan likuiditas yang lebih panjang? Jawabannya akan bergantung pada apakah pendanaan pusat data AI mampu menutup kesenjangan antara ekspektasi dan realitas biaya modal.



