Jorge Martin: Kutukan Cedera Sejak Gabung Aprilia, Kini Remuk di Phillip Island
Baca dalam 60 detik
- Jorge Martin kembali menelan pil pahit usai terjatuh hebat di sprint MotoGP Australia, memaksa tim medis melakukan CT scan untuk memastikan kondisi tulang lengannya.
- Sejak bergabung dengan Aprilia pada 2025, pembalap Spanyol itu tercatat hanya menyelesaikan sekitar 60 persen balapan akibat rentetan cedera yang tak berkesudahan.
- Hasil pemindaian akan menentukan apakah Martin harus menjalani operasi atau tetap tampil di seri Malaysia dan Qatar yang digelar tanpa jeda.

Jorge Martin kembali harus menerima kenyataan pahit dalam karier MotoGP-nya. Saat tengah bersaing ketat memperebutkan kemenangan dan memimpin klasemen di sprint MotoGP Australia, Sabtu (18/10), pembalap Aprilia itu mengalami kecelakaan hebat di Sirkuit Phillip Island. Insiden tersebut mengakibatkan fraktur pada tulang radius di lengan kanannya, memupus peluangnya menyelesaikan balapan dan memaksa tim medis melakukan evaluasi menyeluruh.
Kecelakaan itu terjadi ketika Martin, yang saat itu berada di posisi kedua dan tengah menekan Marc Marquez, kehilangan kendali. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit di Melbourne untuk menjalani CT scan. Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan apakah tulang ulna juga mengalami keretakan dan apakah fraktur yang terjadi bersifat displaced—kondisi di mana posisi tulang bergeser dari tempat semestinya. Hasil pemindaian dijadwalkan keluar pada Minggu pagi waktu Australia atau dini hari waktu Eropa, dan akan menentukan langkah selanjutnya: apakah Martin harus terbang ke Spanyol untuk operasi atau tetap di Australia untuk mencoba tampil di seri Malaysia.
Bagi Martin, ini bukan pertama kalinya ia harus berurusan dengan meja operasi. Sejak memutuskan hengkang dari Ducati dan bergabung dengan Aprilia pada 2025, pembalap kelahiran Madrid itu seolah dilanda kutukan cedera. Tercatat, dari total 118 balapan yang digelar sejak ia debut di MotoGP pada 2021 hingga seri Australia akhir pekan ini, Martin telah absen dalam 20 balapan—empat di antaranya saat masih memperkuat Ducati, dan 16 lainnya bersama Aprilia. Artinya, ia hanya menyelesaikan sekitar 60 persen dari balapan yang seharusnya ia jalani bersama tim pabrikan asal Noale tersebut.
Rentetan cedera Martin dimulai sejak sesi tes pramusim di Sepang, Februari 2025. Saat itu, ia dua kali terjatuh dan mengalami fraktur pada metacarpal kelima tangan kanan serta tiga fraktur di kaki kiri. Ia kemudian menjalani operasi dan berusaha keras untuk pulih sebelum balapan pembuka di Thailand. Namun, saat menjalani tes dengan motor supermoto di Sirkuit Lleida, Spanyol, akhir Februari, ia kembali terjatuh akibat hilang fokus. Insiden itu menyebabkan fraktur displaced pada radius distal kiri, scaphoid, dan triquetrum—memaksanya absen di seri Thailand dan Argentina.
Setelah lebih dari dua bulan menepi, Martin kembali ke lintasan pada seri Qatar, 13 April 2025. Namun, balapan debutnya bersama Aprilia berakhir mimpi buruk. Di tengah upaya mengumpulkan jarak tempuh, ia terjatuh dan kemudian ditabrak oleh Fabio Di Giannantonio yang melaju dari belakang. Benturan itu menyebabkan 11 tulang rusuknya patah dan pneumotoraks yang membuatnya harus dirawat intensif selama dua minggu di Doha dengan prosedur drainase agresif untuk mengeluarkan cairan dari paru-parunya. "Cedera terburuk dalam hidup saya, saya pikir saya akan mati," ujarnya saat itu, seperti dikutip Motorsport.com.
Martin baru kembali pada seri Ceko, 20 Juli, setelah 96 hari absen. Ia sempat menyelesaikan lima balapan beruntun di Brno, Spielberg, Balaton, Barcelona, dan Misano. Namun, pada sprint MotoGP Jepang, 27 September, ia kembali mengalami cedera yang membuatnya harus naik meja operasi lagi. Selain absen di Motegi, ia juga melewatkan seri Indonesia, Australia, Malaysia, dan Portugal, sebelum akhirnya kembali di Valencia—balapan terakhir musim 2025—yang menjadi penampilan ketujuhnya dari 22 balapan yang dijadwalkan.
Setelah musim berakhir, Martin menyadari bahwa cedera di tangan kirinya tidak kunjung membaik. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter, ia memutuskan menjalani dua operasi tambahan secara diam-diam pada akhir tahun: satu untuk menangani scaphoid kiri dan satu lagi untuk mengganti pelat di tulang selangka yang bergeser akibat kecelakaan sebelumnya. Akibatnya, ia melewatkan seluruh sesi pramusim dan baru kembali mengendarai motor MotoGP pada 1 Maret 2026 di seri pembuka Thailand—setelah absen selama 10 minggu.
Musim 2026 sempat menjadi titik balik bagi Martin. Setelah kembali di Mandalika, ia tampil konsisten dan bahkan memimpin klasemen pembalap sejak pertengahan musim. Hingga Jumat (17/10), ia telah menyelesaikan seluruh 17 balapan yang digelar tahun ini. Namun, kecelakaan di Phillip Island kembali menghadirkan ketidakpastian. Kini, ia dipastikan absen di balapan utama Australia, Minggu (19/10), dan statusnya untuk seri Malaysia (26/10) serta Qatar (2/11) masih menunggu hasil pemeriksaan medis.
Bagi Aprilia, situasi ini menjadi pukulan telak. Tim asal Italia itu telah berinvestasi besar dengan merekrut Martin sebagai juara dunia 2024, berharap dapat menantang dominasi Ducati. Namun, alih-alih tampil sebagai penantang gelar, Martin justru lebih sering menghuni ruang perawatan. Meski demikian, performa impresifnya musim ini—memimpin klasemen hingga seri Australia—menunjukkan bahwa ketika dalam kondisi prima, ia tetap pembalap yang diperhitungkan. Pertanyaannya, mampukah ia mengatasi rentetan cedera ini dan mempertahankan peluang juara, ataukah nasib buruk akan terus membayanginya hingga akhir musim?



