Steve Jobs Pernah Tolak Layar Sentuh di Mac, Kini Apple Disebut Siap Melunaknya
Baca dalam 60 detik
- Steve Jobs menilai layar sentuh pada laptop sebagai fitur yang melelahkan dan menghilangkan presisi, sehingga Apple memilih jalur trackpad dan gestur multi-touch.
- Tekanan industri kembali menguat seiring rumor MacBook Pro OLED layar sentuh, menandai potensi perubahan strategi Apple setelah bertahun-tahun menolak.
- Jika Apple benar-benar melunak, lanskap laptop premium bisa bergeser dan memaksa pesaing seperti Lenovo, HP, dan Dell menyesuaikan portofolio serta harga.

Apple selama lebih dari satu dekade konsisten menolak menghadirkan layar sentuh pada jajaran MacBook. Penolakan itu berakar pada pandangan mendiang Steve Jobs, yang menilai teknologi tersebut tidak cocok untuk perangkat dengan faktor bentuk laptop karena memicu kelelahan dan menurunkan akurasi setelah pemakaian lama. Kini, desas-desus tentang MacBook Pro OLED berlayar sentuh membuat publik mempertanyakan apakah tembok prinsip itu mulai retak.
Dalam perhelatan 'Back to the Mac' saat memperkenalkan Mac OS X 10.7 Lion, Jobs menyampaikan argumen yang kemudian menjadi rujukan strategi Apple. Alih-alih menanam panel sentuh di badan layar, perusahaan memilih mengembangkan gestur multi-touch pada trackpad dan mouse. Pendekatan itu dianggap lebih ergonomis karena tangan pengguna tetap berada di permukaan kerja, bukan diangkat ke layar.
Keputusan tersebut bukan tanpa tekanan. Ketika itu Microsoft gencar mendorong komputasi layar sentuh, sementara sejumlah produsen PC merilis perangkat seperti keluarga HP TouchSmart. Apple tetap pada pendiriannya, meski sempat bereksperimen dengan teknologi perantara seperti Touch Bar yang akhirnya dihentikan produksinya.
Bagi Apple, menolak layar sentuh bukan sekadar soal preferensi desain. Keputusan itu menjaga diferensiasi antara iPad dan Mac. Jika MacBook diberi layar sentuh, batas antara tablet dan laptop menjadi kabur, berpotensi mengkanibalisasi penjualan iPad yang justru diposisikan sebagai perangkat sentuh utama. Namun, tekanan pasar berubah. Generasi pengguna yang terbiasa dengan ponsel pintar dan tablet makin besar, dan mereka kerap mengharapkan antarmuka serupa di perangkat kerja.
Di Indonesia, isu ini relevan bagi pasar laptop premium yang terus tumbuh. MacBook menjadi salah satu perangkat favorit di kalangan profesional kreatif dan eksekutif muda, meski harganya menempatkannya di segmen atas. Jika Apple meluncurkan MacBook Pro layar sentuh, distributor dan ritel dalam negeri kemungkinan besar akan menjadikannya produk andalan baru. Namun, tantangan klasik tetap ada: harga jual yang berpotensi makin tinggi akibat panel OLED dan fitur baru, ditambah kebutuhan layanan purna jual yang memadai.
"Setelah pemakaian cukup lama, lengan Anda ingin lepas," ujar Jobs dalam salah satu pernyataannya, menggambarkan kelelahan akibat mengangkat tangan ke layar.
Pernyataan itu menjadi semacam rambu yang membentuk cara Apple memandang interaksi manusia dengan komputer. Sampai sekarang, MacOS tidak dirancang untuk navigasi sentuh, berbeda dari Windows yang sejak lama mengakomodasi perangkat 2-in-1. Perubahan besar pada MacBook akan menuntut penyesuaian antarmuka, mulai dari ukuran tombol, gestur, hingga dukungan aplikasi.
Jika rumor itu terwujud, Apple bukan sekadar mengikuti arus. Langkah tersebut bisa dibaca sebagai pengakuan bahwa batas antara perangkat sentuh dan non-sentuh kian tipis, terutama ketika ekosistem aplikasi dan konten makin dirancang untuk layar sentuh. Pesaing seperti Lenovo, HP, dan Dell yang lebih dulu merilis laptop layar sentuh mungkin perlu meninjau ulang strategi harga dan fitur agar tetap kompetitif.
Pertanyaannya, apakah Apple akan menghadirkan layar sentuh sebagai fitur opsional di model tertentu, atau justru menjadikannya standar baru di lini MacBook Pro? Jawaban atas itu akan menentukan arah industri laptop premium dalam beberapa tahun ke depan.



