Pangeran William 'Menyusup' ke Sofa Graham Norton, Bawa Misi Lingkungan ke Panggung Hiburan
Baca dalam 60 detik
- Pangeran William tampil tanpa diumumkan dalam episode The Graham Norton Show, menemani Cate Blanchett dan Robert Irwin membahas Earthshot Prize.
- Penampilan itu menjadi batu loncatan menjelang upacara penghargaan lingkungan di Mumbai, November mendatang, yang tahun ini juga melibatkan sejumlah bintang Bollywood.
- Di luar urusan lingkungan, William sempat menyinggung klub Aston Villa dan sutradara Christopher Nolan, memberi sisi manusiawi pada sosok pewaris takhta Inggris.

Pangeran William membuat kejutan di studio BBC One ketika ia muncul tanpa pemberitahuan sebelumnya di sofa The Graham Norton Show, Jumat (23/10/2026). Pewaris takhta Inggris berusia 44 tahun itu bergabung dengan Cate Blanchett, Robert Irwin, dan Hannah Waddingham—tiga nama yang selama ini terlibat dalam Earthshot Prize, inisiatif lingkungan yang ia dirikan pada 2020.
Kemunculan William bukan sekadar bincang-bincang selebritas biasa. Momen tersebut menjadi panggung promosi menjelang upacara Earthshot Prize di Mumbai, India, November nanti. Graham Norton sempat membuka diskusi tentang pentingnya menggabungkan optimisme dan urgensi dalam menghadapi krisis iklim sebelum akhirnya mempersilakan sang pangeran duduk di antara para tamu. Menurut William, Earthshot dirancang untuk mendukung solusi nyata atas persoalan lingkungan global, bukan sekadar retorika.
Inisiatif ini lahir dari inspirasi Program Moonshot John F. Kennedy yang menantang para ilmuwan mengirim manusia ke bulan. William mengadopsi semangat serupa: mendorong inovator menemukan terobosan untuk memperbaiki bumi. Sejak diluncurkan, Earthshot telah menjadi salah satu platform lingkungan paling bergengsi, menarik perhatian dunia usaha dan pembuat kebijakan. Upacara di Mumbai nanti akan menjadi ajang pembuktian apakah model penghargaan seperti ini mampu mendorong perubahan sistemik atau hanya menjadi seremoni tahunan.
Di sela obrolan, William juga menunjukkan sisi pribadinya. Ia menyinggung dukungan panjangnya terhadap Aston Villa, klub sepak bola Birmingham yang ia ikuti sejak lama, serta kekagumannya pada karya sutradara Christopher Nolan—termasuk trilogi The Dark Knight, Inception, Interstellar, dan Oppenheimer. Topik-topik ringan ini memberi kontras dengan citra formal kerajaan, sekaligus memperlihatkan bagaimana William memanfaatkan platform hiburan untuk mendekatkan isu lingkungan ke audiens yang lebih luas.
"Kami ingin merayakan dan memperbesar skala solusi yang akan memperbaiki planet ini," demikian inti pesan yang disampaikan William dalam dialog tersebut, seperti dikutip dari siaran program.
Jauh sebelum tampil di televisi, awal bulan ini William sempat menghentikan lalu lintas di The Mall, London, saat ia bergabung dengan bintang kriket internasional dalam pertandingan persahabatan untuk mempromosikan Earthshot. Joe Root, Brian Lara, Ajinkya Rahane, dan Sourav Ganguly ikut meramaikan lapangan. Langkah ini menunjukkan pola kampanye yang kian cair: memadukan olahraga, hiburan, dan diplomasi lingkungan dalam satu paket.
Upacara November nanti dijadwalkan menampilkan sejumlah nama besar. Aktor Rami Malek, aktris India Alia Bhatt dan Sonam Kapoor, serta bintang Bridgerton Simone Ashley akan hadir. Karan Johar dipercaya menjadi pembawa acara, sementara penyanyi Shreya Ghoshal ikut tampil. Acara akan disiarkan secara internasional melalui Prime Video. Tahun lalu, gelaran serupa berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, dengan penampilan Kylie Minogue dan Shawn Mendes, serta kehadiran mantan juara Formula Satu Sebastian Vettel dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Bagi Indonesia, gaung Earthshot Prize bukan hal asing. Beberapa inovator Tanah Air telah masuk dalam radar penghargaan lingkungan global, terutama di sektor pengelolaan sampah plastik dan energi terbarukan. Meski belum ada finalis Indonesia yang meraih kemenangan pada edisi 2025, partisipasi komunitas lokal dalam kompetisi semacam ini membuka peluang kolaborasi internasional dan akses pendanaan hijau. Kehadiran William di ruang publik—dari lapangan kriket hingga sofa talkshow—menegaskan bahwa isu iklim kini bergerak dari meja konferensi ke budaya populer.
Pertanyaannya, apakah strategi hiburan semacam ini cukup untuk mendorong aksi nyata, atau hanya menjadi kemasan menarik bagi komitmen yang sudah ada? Dengan tenggat 2030 yang kian dekat, publik akan menilai bukan dari gemerlap panggung, melainkan dari dampak yang terukur di lapangan.



