Colapinto Sebut Batas Toleransi Terlampaui: Mekanik Alpine Jadi Sasaran Serangan Daring
Baca dalam 60 detik
- Franco Colapinto mengungkap bahwa mekanik dan engineer Alpine menerima pesan kebencian di media sosial menyusul sesi balap yang buruk.
- Pembalap Argentina itu menilai serangan daring telah melewati batas kewajaran dan mengganggu performa tim di lintasan.
- Alpine mengambil langkah preventif dengan meminta staf menyembunyikan identitas tim di akun pribadi, sementara Colapinto mendesak penggemar menghentikan perilaku tersebut.

Pembalap Formula 1 asal Argentina, Franco Colapinto, angkat bicara soal gelombang serangan daring yang menyasar para mekanik dan engineer tim Alpine. Dalam pernyataannya menjelang Grand Prix Amerika Serikat, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut sudah melampaui batas dan tidak bisa dibiarkan hanya karena berasal dari media sosial.
Colapinto, yang kini berusia 23 tahun, mengungkapkan bahwa rekan-rekannya di garasi Alpine—terutama mereka yang bekerja langsung pada mobilnya—menerima pesan bernada kebencian setelah sesi kualifikasi atau balapan yang kurang memuaskan. Ia menilai tuduhan yang dialamatkan kepada tim teknis tidak berdasar dan justru kontraproduktif bagi upaya perbaikan performa.
“Mekanik saya mendapat banyak sekali hate, begitu juga engineer. Mereka orang-orang yang setiap hari bekerja agar saya tampil maksimal. Melihat mereka menerima pesan seperti itu jelas menyakitkan,” ujar Colapinto seperti dikutip Motorsport.com.
Insiden ini bukan pertama kali terjadi di paddock. Sepanjang musim 2026, Colapinto memang kerap menyoroti fenomena toxic fanbase dalam sesi wawancara. Namun, tekanan meningkat setelah Grand Prix Singapura, ketika ia merasa perlu membuat pesan video langsung kepada penggemar. Dalam video itu, ia menegaskan bahwa dukungan positif tidak seharusnya diwujudkan dengan menyerang pihak lain.
Menurut Colapinto, serangan tersebut tidak hanya menyasar akun resmi tim, tetapi juga pesan pribadi yang diterima staf. Ia mengaku tidak memegang ponsel rekan-rekannya, tetapi informasi yang ia terima menyebutkan bahwa mekanik dan engineer menerima pesan langsung maupun komentar di unggahan mereka. “Itu sudah keterlaluan,” tegasnya.
“Saya sudah berbicara soal ini mungkin sepuluh balapan terakhir. Saya melakukan yang terbaik, tetapi batasnya terus dilanggar. Video itu adalah upaya terakhir saya, dan saya rasa itu sedikit membantu,” kata Colapinto.
Alpine sendiri dilaporkan telah mengambil langkah mitigasi dengan meminta anggota tim menyembunyikan identitas profesional di media sosial. Meski demikian, langkah ini dianggap hanya meredam gejala, bukan menyelesaikan akar masalah. Colapinto menyadari bahwa persoalan ini bukan monopoli F1, melainkan bagian dari budaya digital yang lebih luas—menimpa atlet, seniman, hingga aktor.
“Saya pribadi tidak terlalu terpengaruh karena tidak terlalu membaca komentar. Tapi bagi sebagian orang, itu bisa sangat mengganggu. Itulah kenapa kita perlu memberi perhatian dan memperbaikinya,” tambahnya.
Dalam konteks Indonesia, fenomena serangan daring terhadap atlet juga kerap terjadi, terutama di cabang olahraga populer seperti sepak bola dan bulu tangkis. Para penggemar sering melampiaskan kekecewaan kepada pemain atau pelatih melalui media sosial setelah hasil buruk. Kasus Colapinto menjadi cermin bahwa tekanan psikologis dari dunia maya bisa berdampak pada profesionalisme dan kesehatan mental para pelaku olahraga, termasuk di level elite dunia.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tim dan otoritas F1 akan memperkuat regulasi perlindungan terhadap staf dan pembalap dari pelecehan daring, atau justru menyerahkan persoalan ini pada kesadaran masing-masing penggemar. Colapinto berharap langkah kecilnya bisa memicu perubahan budaya, meski ia sadar bahwa perjalanan masih panjang.



